Kyuhyun
POV
Thursday,
March 27th 2014
Aku berdiri persis di depan pintu apartment Ri Rin
yang masih tertutup rapat ini. Sudah beberapa kali aku mengetuk pintu itu,
namun tidak ada sahutan sedikit pun dari dalam.
Aku
cukup kesal. Ke mana gadis itu sebenarnya? Aku memegangi knop pintu, dan baru
menyadari kalau pintu tersebut tidak terkunci.
Hah, kenapa tidak dari tadi saja?
batinku dalam hati.
Aku
masuk ke dalam, menutup pintu dan meletakkan sepatu di rak yang telah
disediakan.
Tubuhku
benar-benar lelah. Setelah penampilanku bersama member Super Junior-M tadi di
acara Mcoutdown dalam rangka mempromosikan album ketiga kami yang berjudul
Swing, aku langsung berpamitan kepada member yang lain untuk berkunjung ke
apartment Ri Rin.
Ini
memang bukan kali pertama aku berkunjung tanpa memberitahu gadis itu terlebih dahulu. Ri Rin selalu
memasang wajah jutek ketika aku tiba-tiba saja sudah muncul di dalam
apartmentnya seperti hantu.
Aku
mencari-cari di mana gadis itu berada. Aku mencoba memanggil namanya, tetapi
tidak ada sahutan sama sekali.
Aku
mengernyitkan dahi. Ke mana gadis itu sebenarnya? Apakah dia pergi? Tetapi
kenapa pintu apartmentnya tidak dikunci?
Aku
terus mencari keberadaan gadis itu. Sampai aku tidak sengaja melewati kamar
gadis itu dan mendapati bahwa pintu kamarnya sedikit terbuka.
Aku
melongokkan kepala dan bernapas lega ketika melihat gadis yang sedang aku cari
sedang berada di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Gadis itu memakai earphone di telinga sambil menyaksikan
sesuatu di laptopnya.
Aku
berjalan masuk. Pantas saja aku mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya
tapi tidak ada jawaban, ternyata telinga gadis itu sedang dijejali earphone.
Setelah
sampai di dekat ranjang, aku langsung merebahkan tubuhku di samping gadis itu,
memejamkan mata dan otomatis membuat gadis itu melonjak terkejut. Ri Rin
menoleh. “Yak! Kau membuatku terkejut saja,” protesnya.
Ri
Rin segera melepaskan earphone dan
mempause apa yang sedang dilihatnya di layar laptop. “Kenapa tidak
memberitahuku terlebih dahulu, hah? Kau lupa kalau aku sudah beberapa kali
mengatakan kalau kau ingin kemari, kau harus memberitahuku dulu,” lanjutnya.
Aku
membuka mata dan menatap ke arah Ri Rin. “Dan aku juga sudah beberapa kali
mengatakan, kalau aku yang saat ini statusnya menjadi kekasihmu, tidak perlu
melakukan hal tersebut, kan? Aku bukan orang lain untukmu, Rinnie-ya. Jadi aku tidak mau mendengarkan
kata-kata protes yang terlontar dari mulutmu atau aku akan membungkamnya,”
balasku.
Ri
Rin mendengus dan memasangkan earphone-nya
kembali serta melanjutkan acara yang sedang disaksikannya itu.
Aku
penasaran dengan apa yang sedang disaksikan gadis itu. Aku berguling ke arah
kiri dan membuat posisi tubuhku sama seperti posisi Ri Rin.
“Astaga,”
umpatku. Aku tidak percaya dengan apa yang ada di hadapanku sekarang. Ternyata
Ri Rin tengah menonton video di situs youtube dan kalian tahu apa yang sedang
disaksikan gadis itu?
“Kenapa
kau menyaksikan video ini? Video saat Super Show 5 di Seoul? Dan... Club No.1?
“ lanjutku.
Ri
Rin tidak menanggapi ucapanku. Tentu saja. Bagaimana ia bisa mendengar kalau
telinganya sedang dijejali earphone
dan aku yakin volume suaranya pastilah sangat besar.
Aku
melepaskan earphone gadis itu dan
mendelik tajam ke arahnya. “Yak! Kenapa kau menonton video itu?” aku mencoba
mengulangi pertanyaan.
Ri
Rin mempause kembali video tersebut. Gadis itu menoleh dan meletakkan salah
satu telapak tangannya di pipi dengan siku yang ia tumpukan di atas ranjang.
“Kau ingin tahu?”
“Tentu.
Super Show kan tidak hanya menampilkan Club No.1 saja. Tetapi kenapa kau malah
menonton yang itu? Kau ingin aku cekik, ya?”
Ri
Rin tersenyum manis. Aku memandangnya curiga. “Karena aku memang ingin
melihatnya. Kau kan yang selalu melarangku untuk datang ke konser Super Show 5
Super Junior itu? Apa karena ini alasannya?” tanya gadis itu.
“Tidak.
Kau sendiri juga selalu tidak mau kan datang ke konser Super Junior? Kau selalu
menolak ketika aku mengundangmu datang untuk menyaksikan penampilanku di atas
panggung. Jadi ini bukan sepenuhnya salahku,” sahutku.
“Ini
memang bukan sepenuhnya salahmu. Tutup mulutmu kalau begitu! Kau ini
mengangguku saja,” sungut Ri Rin.
Aku
mengernyit. “Mengganggu? Kau bilang aku menganggu? Aku bahkan dengan sukarela
datang ke apartmentmu setelah penampilanku tadi di Mcoutdown. Apa kau tidak
merasa kasihan padaku, hah? Kau ini tega sekali!”
Ri
Rin melepaskan topangannya, ia memajukan wajahnya dan kemudian mencium bibirku.
Ini suatu hal yang paling menyebalkan bagiku. Karena apa? Karena setiap
sentuhan yang gadis ini berikan padaku, aku selalu merasa kalah dan harus
mengalah.
“Apa
sudah cukup?” tanyanya.
Aku
menghela napas. “Picik sekali. Kau selalu melakukan hal itu jika aku sudah
emosi menghadapi tingkah lakumu yang cukup menyebalkan.”
“Itu
tidak berdosa, kan?”
Aku
menangkup wajahnya dengan sebelah tanganku. “Sekarang jelaskan padaku kenapa
kau menyaksikan video murahan itu?” pintaku dengan nada pelan.
Ri
Rin tersenyum lebar. “Kau tahu? Aku bahkan sudah menontonnya lebih dari lima
kali. Hebat, kan?”
Seketika,
aku terbelalak. “Apa? Yak! Apa kau sudah gila?” Aku menyingkirkan tanganku dari
wajah Ri Rin.
“Kalau
aku sudah gila, kenapa kau tidak memutuskanku saja? Kau ini bodoh sekali,”
cemooh Ri Rin.
“Terserah.
Sekarang, cepat jelaskan padaku kenapa kau malah menonton penampilan kami pada
saat Club No.1!” pintaku tidak sabaran.
“Karena
aku benar-benar ingin memastikan bahwa saat sedang menari dengan penari wanita
itu, kau sama sekali tidak menaruh minat apa pun pada tubuh dancer itu. Kau mengerti kan maksudku?”
Akhirnya gadis ini mau juga menjawab pertanyaanku.
“Menaruh
minat? Tubuh penari itu kau bilang? Rinnie-ya,
aku sudah pernah bilang padamu kan, kalau sesuatu yang aku lakukan saat sedang
bersama dengan Super Junior, itu hanyalah tuntutan pekerjaan. Tidak lebih.
Jadi, untuk apa aku menaruh minat pada tubuh penari itu?” kataku.
“Kyuhyun-ah, aku bukan gadis bodoh. Aku yang
kodratnya sebagai wanita pun mengakui bahwa tubuh-tubuh penari itu sangat
menarik dan berpotensi besar menggoda banyak pria. Jadi, apa kau pernah merasa
tergoda dengan penari itu?”
Aku
menghela napas. Lagi. “Dengarkan ini baik-baik. Aku tidak pernah merasa tergoda
dengan wanita mana pun. Bahkan, walaupun mereka menari-nari tanpa pakaian di
depanku pun, aku tidak akan pernah berminat untuk merasakan sesuatu yang kau
sebut tergoda itu. Kau percaya padaku, kan?”
Ri
Rin memalingkan wajahnya dariku. “Aku memang selalu percaya dengan apa yang kau
katakan. Dan, ini memang sudah menjadi risiko untukku ketika memilih untuk
menerimamu sebagai kekasihku.”
Aku
tersenyum dan mengacak-acak rambut Ri Rin pelan. “Bagus! Ohya, besok aku dan
member Super Junior-M yang lain, kecuali tanpa Siwon hyung akan tampil kembali di acara Music Bank. Apa kau ingin
datang? Kalau iya, aku akan membelikan tiket untukmu.”
Ri
Rin kembali memandang ke arahku. “Ku dengar, hari ini 4minute juga tampil di
Mcoutdown, besok pun demikian. Bagaimana perasaanmu? Kau senang?”
Tidak
perlu bertanya, aku tahu maksud pertanyaan gadis yang sekarang ada di hadapanku
ini. “Kenapa kau selalu membicarakan hal itu? Aku tidak benar-benar menyukai
HyunA, Rinnie-ya,” kataku pelan.
“Aku
tahu. Aku tidak bertanya apakah kau menyukai gadis itu atau tidak, kan? Aku
hanya bertanya, bagaimana perasaanmu ketika 4minute tampil satu panggung dengan
kalian?”
Aku
menatap Ri Rin lekat. “Kau ingin tahu? Kalau aku menjawab, bahwa perasaanku
sangat senang ketika tampil satu panggung dengan 4minute, apakah itu akan
membuatmu terluka? Cemburu, mungkin?”
“Itu
tidak akan,” jawab Ri Rin dengan nada suara yang sudah bisa aku tebak apa yang
ia rasakan.
“Rinnie-ya, ketika Super Junior tampil satu
panggung dengan siapa pun, perasaanku biasa-biasa saja. Bahkan, walaupun kami
harus tampil satu panggung dengan Lady Gaga, aku merasa itu biasa saja. Apa
yang kau khawatirkan, Rinnie-ya?”
tanyaku pelan. Jujur saja, aku benar-benar tidak suka jika sudah dalam kondisi
seperti ini. Kondisi di mana aku tahu bahwa Ri Rin merasa takut jika aku
melirik wanita lain.
“Aku
bisa memegang ucapanmu itu, kan?” sahut Ri Rin.
Aku
tersenyum. “Kenapa tidak? Jadi, besok kau akan datang atau tidak?”
Ri
Rin mengembangkan senyumnya. Aku rasa, keadaan sudah mulai membaik seperti
semula. “Aku tidak akan datang. Aku malas ketika harus berada di antara para
penggemar-penggemar tercinta kalian itu. Bukannya aku membenci mereka, tapi
karena teriakan yang membuat telingaku sakit.”
Aku
mendengus. “Sudah ku duga. Kau tidak akan pernah mau datang untuk melihat
penampilanku. Tidak bisakah kau datang dan melihat penampilanku? Aku akan
berusaha menampilkan yang terbaik.”
Ri
Rin terkekeh. “Sudahlah. Tidak perlu memasang wajah memelas seperti itu.
Sekalipun kau mengancam akan bunuh diri, aku tidak akan pernah datang untuk
menyaksikan penampilanmu itu.”
“Kau
menyebalkan, Nona Shin!”
**
Friday,
March 28th 2014
Aku memandangi cermin besar yang sedang memantulkan
bayangan tubuhku, mulai dari ujung kepala hingga ke kaki. Rasanya aku
benar-benar ingin mengacak-acak rambut karena kesal memikirkan gadis bermarga
Shin itu. Tapi aku tidak mau mengambil risiko. Sebentar lagi Super Junior-M
akan tampil di acara Music Bank ini. Kalau aku sampai merusak tatanan rambut
ini, maka akan membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk membetulkannya
kembali, padahal waktu kami untuk tampil di panggung hanya tinggal lima menit
lagi.
“Ayo
Kyu, sebentar lagi kita akan tampil,” ajak Sungmin hyung padaku. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk untuk
menanggapi ucapannya. Sekali lagi, aku memandang ke cermin. Menghela napas
sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan ini.
Intro musik Swing sudah mulai berbunyi. Aku harus
berkonsentrasi untuk melakukan gerakan-gerakan dance karena aku tidak ingin
mengecewakan penggemar.
Aku
mulai melakukan gerakan-gerakan yang menggunakan meja dan kursi. Begitu Donghae
hyung bernyanyi di bagian tertentu,
kami –member yang lain- mulai melakukan aksi menghambur-hamburkan kertas yang
tersedia di atas meja. Tentu saja tidak sembarangan, karena cara menghamburkan
kertas pun sudah ditentukan gerakannya.
Seiring
berjalannya waktu, akhirnya kini adalah bagianku untuk bernyanyi. Aku melakukan
gerakan yang sudah kami praktikan sebelumnya saat latihan , dan tentu saja
sambil memamerkan senyuman miring khas yang aku miliki.
Saat
menari, sesekali aku menatap ke arah di mana penonton sedang duduk dan
menyaksikan penampilan kami. Aku begitu terkejut ketika mendapati seseorang
yang sangat aku kenali tengah terduduk di antara penggemar kami yang lain.
Seseorang itu tengah menatap ke arah panggung dengan tatapan yang begitu
serius. Dan tanpa perlu bertanya, tatapannya hanya penuh ke arahku saja.
Tidak
mau salah dalam menari, aku kembali menggerak-gerakan tubuhku untuk melakukan dance selanjutnya. Tapi entah setan apa
yang merasuki tubuhku saat ini, setelah melihat seseorang itu, mataku selalu
ingin memandang tempat di mana ia duduk sekarang. Aku mengerjapkan mata untuk
mengembalikan fokusku kembali. Khawatir gerak-gerikku ini akan tertangkap oleh
kamera atau pun ada penggemar yang curiga.
Tak
lama kemudian, akhirnya lagu pun selesai. Aku dan yang lainnya segera
meninggalkan panggung dan masuk ke dalam backstage.
Sesampainya di sebuah ruangan, tepatnya ruangan khusus untuk kami, aku langsung
menyambar botol berisi air mineral dan meneguknya hingga tandas.
Aku
menghela napas. Mencoba untuk mengatur pernapasanku ini. Setelah cukup, aku
mengambil tas dan mencari handphone di dalamnya. Setelah menemukan handphone,
aku segera menghubungi gadis itu. Terdengar nada sambung, namun tidak ada
jawaban dan pada akhirnya operator menyatakan bahwa ponsel gadis itu sedang
tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan.
Aku
mencoba untuk menelphonenya lagi. Dan kali ini, sepertinya gadis itu sengaja
mematikan panggilan dariku.
Aku
mendengus kesal. Bisa-bisanya gadis itu berbuat seperti ini padaku. “Kau
kenapa, Kyuhyun-ah?” Aku menoleh.
Ternyata Eunhyuk hyung datang
mendekatiku.
“Gadis
itu tidak mengangkat telephone dariku. Bahkan, dia seperti yang sengaja menolak
panggilan dariku. Benar-benar menyebalkan!” gerutuku.
Eunhyuk
hyung terkikik. “Temui saja dia. Aku
bisa menebak, bahwa gadis itu tidak datang ke acara ini, kan?”
“Justru
itu yang ingin aku tanyakan padanya, hyung.”
“Maksudmu?”
tanya hyung tak mengerti.
“Ah
sudahlah hyung, aku pamit duluan ya?
Aku ingin menemui gadis itu secepatnya. Rasanya tanganku sudah gatal ingin
menjitak kepalanya karena sikap konyolnya itu.”
Eunhyuk
hyung mengangguk. “Baiklah. Hati-hati
di jalan. Jangan mengebut!” perintahnya.
Tanpa
berpikir panjang, aku segera pergi menuju parkiran karena hari ini aku membawa
mobil sendiri. Tak lupa, aku harus memakai penyamaran terlebih dahulu dan
berhati-hati agar tidak ketahuan penggemar.
**
“Kenapa kau tidak memberitahuku dulu, hah?” protesku
ketika aku sudah tiba di apartment Ri Rin dan terduduk di sofa miliknya.
Gadis
itu menutup kulkas dan kembali mendekatiku dengan dua kaleng soft drink yang ada di tangannya. “Ini
untukmu,” katanya sambil memberikan salah satu kaleng padaku. Aku menjulurkan
tangan untuk menerima pemberiannya.
Ri
Rin mendudukkan tubuhnya tepat di sampingku. Ia membuka penutup kaleng tersebut
dan meneguk isinya sedikit. “Memangnya kenapa kalau aku datang tidak
memberitahumu terlebih dahulu? Apa ada masalah?”
Aku
bergerak, mengubah posisi duduk agar aku bisa menatap gadis itu sepuasnya. “Kau
dapat tiket dari mana, huh?”
“Itukah
yang menjadi masalah untukmu? Hanya karena sebuah tiket? Apa kau tidak senang
jika aku datang untuk melihat penampilanmu?” balasnya.
“Bukan
itu. Aku hanya heran, setan apa yang sedang ada di tubuhmu hingga kau mau
datang untuk melihat penampilanku secara langsung. Bukankah kemarin kau
mengatakan kalau kau tidak suka mendengar teriakan penggemar-penggemar Super
Junior?” todongku.
“Sebetulnya,
aku memang tidak suka. Kau tahu? Tadi aku harus menahan diri terutama menahan
telingaku yang rasanya sudah panas selama satu setengah jam hanya untuk melihat
penampilanmu. Kau masih ingin melontarkan pertanyaan apa lagi?” tanyanya.
Aku
kembali bergerak dan kembali ke posisi duduk semula kemudian menyandarkan
punggungku di sandaran sofa. “Tidak. Tidak ada,” jawabku sekenanya.
Tiba-tiba
suasana hening menyelimuti kami berdua. Baik aku maupun Ri Rin sama-sama hanyut
dalam pikiran masing-masing. Aku segera membuka penutup kaleng dan meneguk soft drink itu.
“Kau
tahu? Aku suka penampilanmu,” celetuk Ri Rin yang sukses membuatku tersedak.
“Ohok...ohokk...”
aku terbatuk karena mendengar ucapan gadis yang sekarang duduk di sampingku.
Setelah
batukku hilang, aku menatapnya –lagi- sambil mengerutkan dahi. Kemudian
meletakkan punggung tanganku di dahinya. Aku khawatir gadis ini sedang
mengalami demam tinggi. “Kau sakit, ya?”
Ri
Rin menepis tanganku. “Yak! Kau pikir aku sedang sakit? Kalau aku sakit, mana
mungkin tadi aku datang, bodoh!”
“Tumben
sekali kau berkata seperti itu,” ucapku tak percaya.
“Memangnya
aku tidak boleh berkata seperti itu? Kau mau kalau aku lebih menyukai
penampilan Eunhyuk oppa atau Sungmin oppa?”
Aku
mendecak. “Kau ini. Selalu saja mengancamku.”
Aku
kembali meneguk minuman yang sekarang ini ada di tanganku. Tiba-tiba aku merasa
sesuatu mendarat di pipi kananku dan itu hangat sekali. Aku tercekat untuk
beberapa saat. Sampai akhirnya aku menggerakkan kepala dan mendapati Ri Rin
tengah tersenyum manis ke arahku. “Aku benar-benar suka penampilanmu. Gaya
rambutmu, aku benar-benar menyukainya. Tidak sadarkah kalau banyak wanita di
luar sana yang berteriak-terika histeris melihat gaya rambutmu yang sekarang
ini? Setidaknya, kau harus mengurangi pesonamu di hadapan publik,” ucap Ri Rin.
“Kau
tahu? Kau sangat mengerikan,” kataku.
Ri
Rin mengedikkan bahunya santai. “Aku tidak peduli. Lain kali, kalau kau mau
mendapatkan sesuatu yang gratis lagi dariku seperti tadi, berpenampilanlah
seperti ini. Kau mau?”
Aku
tersenyum miring. “Kau sedang tidak berusaha menggodaku kan, Rinnie-ya?” aku bertanya sambil meletakkan
kaleng minuman di atas meja.
“Cih.
Untuk apa menggodamu? Tidak ada gunanya sama sekali,” elaknya yang kentara
sekali kalau dia sedang berusaha membohongiku.
Aku
memegang sebelah pipinya dengan salah satu telapak tanganku. “Sering-seringlah
datang melihat penampilanku seperti tadi, maka aku akan terus mempertahankan
gaya rambut ini. Kau setuju?” kataku memberinya tawaran.
“Tidak.
Kalau rambutmu terus-terusan seperti itu, aku tidak ingin menghabiskan tabung
oksigen di rumah sakit akibat sesak napas. Mengerti?”
Aku
terkekeh. “Aku tidak peduli. Kau kan seharusnya senang aku tampil tampan
seperti ini.”
“Cih.
Seharusnya aku berpikir ulang sebelum memujimu ya, Tuan Cho. Kau ini terlalu
membanggakan diri ketika dipuji olehku,” gerutunya.
“Masalah?”
The
End

Tidak ada komentar:
Posting Komentar