Kamis, 03 April 2014

THE REASON : PROBLEM?



Kyuhyun POV
Thursday, March 27th 2014
Aku berdiri persis di depan pintu apartment Ri Rin yang masih tertutup rapat ini. Sudah beberapa kali aku mengetuk pintu itu, namun tidak ada sahutan sedikit pun dari dalam.
            Aku cukup kesal. Ke mana gadis itu sebenarnya? Aku memegangi knop pintu, dan baru menyadari kalau pintu tersebut tidak terkunci.
            Hah, kenapa tidak dari tadi saja? batinku dalam hati.
            Aku masuk ke dalam, menutup pintu dan meletakkan sepatu di rak yang telah disediakan.
            Tubuhku benar-benar lelah. Setelah penampilanku bersama member Super Junior-M tadi di acara Mcoutdown dalam rangka mempromosikan album ketiga kami yang berjudul Swing, aku langsung berpamitan kepada member yang lain untuk berkunjung ke apartment Ri Rin.
            Ini memang bukan kali pertama aku berkunjung tanpa memberitahu  gadis itu terlebih dahulu. Ri Rin selalu memasang wajah jutek ketika aku tiba-tiba saja sudah muncul di dalam apartmentnya seperti hantu.
            Aku mencari-cari di mana gadis itu berada. Aku mencoba memanggil namanya, tetapi tidak ada sahutan sama sekali.
            Aku mengernyitkan dahi. Ke mana gadis itu sebenarnya? Apakah dia pergi? Tetapi kenapa pintu apartmentnya tidak dikunci?
            Aku terus mencari keberadaan gadis itu. Sampai aku tidak sengaja melewati kamar gadis itu dan mendapati bahwa pintu kamarnya sedikit terbuka.
            Aku melongokkan kepala dan bernapas lega ketika melihat gadis yang sedang aku cari sedang berada di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Gadis itu memakai earphone di telinga sambil menyaksikan sesuatu di laptopnya.
            Aku berjalan masuk. Pantas saja aku mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya tapi tidak ada jawaban, ternyata telinga gadis itu sedang dijejali earphone.
            Setelah sampai di dekat ranjang, aku langsung merebahkan tubuhku di samping gadis itu, memejamkan mata dan otomatis membuat gadis itu melonjak terkejut. Ri Rin menoleh. “Yak! Kau membuatku terkejut saja,” protesnya.
            Ri Rin segera melepaskan earphone dan mempause apa yang sedang dilihatnya di layar laptop. “Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu, hah? Kau lupa kalau aku sudah beberapa kali mengatakan kalau kau ingin kemari, kau harus memberitahuku dulu,” lanjutnya.
            Aku membuka mata dan menatap ke arah Ri Rin. “Dan aku juga sudah beberapa kali mengatakan, kalau aku yang saat ini statusnya menjadi kekasihmu, tidak perlu melakukan hal tersebut, kan? Aku bukan orang lain untukmu, Rinnie-ya. Jadi aku tidak mau mendengarkan kata-kata protes yang terlontar dari mulutmu atau aku akan membungkamnya,” balasku.
            Ri Rin mendengus dan memasangkan earphone-nya kembali serta melanjutkan acara yang sedang disaksikannya itu.
            Aku penasaran dengan apa yang sedang disaksikan gadis itu. Aku berguling ke arah kiri dan membuat posisi tubuhku sama seperti posisi Ri Rin.
            “Astaga,” umpatku. Aku tidak percaya dengan apa yang ada di hadapanku sekarang. Ternyata Ri Rin tengah menonton video di situs youtube dan kalian tahu apa yang sedang disaksikan gadis itu?
            “Kenapa kau menyaksikan video ini? Video saat Super Show 5 di Seoul? Dan... Club No.1? “ lanjutku.
            Ri Rin tidak menanggapi ucapanku. Tentu saja. Bagaimana ia bisa mendengar kalau telinganya sedang dijejali earphone dan aku yakin volume suaranya pastilah sangat besar.
            Aku melepaskan earphone gadis itu dan mendelik tajam ke arahnya. “Yak! Kenapa kau menonton video itu?” aku mencoba mengulangi pertanyaan.
            Ri Rin mempause kembali video tersebut. Gadis itu menoleh dan meletakkan salah satu telapak tangannya di pipi dengan siku yang ia tumpukan di atas ranjang. “Kau ingin tahu?”
            “Tentu. Super Show kan tidak hanya menampilkan Club No.1 saja. Tetapi kenapa kau malah menonton yang itu? Kau ingin aku cekik, ya?”
            Ri Rin tersenyum manis. Aku memandangnya curiga. “Karena aku memang ingin melihatnya. Kau kan yang selalu melarangku untuk datang ke konser Super Show 5 Super Junior itu? Apa karena ini alasannya?” tanya gadis itu.
            “Tidak. Kau sendiri juga selalu tidak mau kan datang ke konser Super Junior? Kau selalu menolak ketika aku mengundangmu datang untuk menyaksikan penampilanku di atas panggung. Jadi ini bukan sepenuhnya salahku,” sahutku.
            “Ini memang bukan sepenuhnya salahmu. Tutup mulutmu kalau begitu! Kau ini mengangguku saja,” sungut Ri Rin.
            Aku mengernyit. “Mengganggu? Kau bilang aku menganggu? Aku bahkan dengan sukarela datang ke apartmentmu setelah penampilanku tadi di Mcoutdown. Apa kau tidak merasa kasihan padaku, hah? Kau ini tega sekali!”
            Ri Rin melepaskan topangannya, ia memajukan wajahnya dan kemudian mencium bibirku. Ini suatu hal yang paling menyebalkan bagiku. Karena apa? Karena setiap sentuhan yang gadis ini berikan padaku, aku selalu merasa kalah dan harus mengalah.
            “Apa sudah cukup?” tanyanya.
            Aku menghela napas. “Picik sekali. Kau selalu melakukan hal itu jika aku sudah emosi menghadapi tingkah lakumu yang cukup menyebalkan.”
            “Itu tidak berdosa, kan?”
            Aku menangkup wajahnya dengan sebelah tanganku. “Sekarang jelaskan padaku kenapa kau menyaksikan video murahan itu?” pintaku dengan nada pelan.
            Ri Rin tersenyum lebar. “Kau tahu? Aku bahkan sudah menontonnya lebih dari lima kali. Hebat, kan?”
            Seketika, aku terbelalak. “Apa? Yak! Apa kau sudah gila?” Aku menyingkirkan tanganku dari wajah Ri Rin.
            “Kalau aku sudah gila, kenapa kau tidak memutuskanku saja? Kau ini bodoh sekali,” cemooh Ri Rin.
            “Terserah. Sekarang, cepat jelaskan padaku kenapa kau malah menonton penampilan kami pada saat Club No.1!” pintaku tidak sabaran.
            “Karena aku benar-benar ingin memastikan bahwa saat sedang menari dengan penari wanita itu, kau sama sekali tidak menaruh minat apa pun pada tubuh dancer itu. Kau mengerti kan maksudku?” Akhirnya gadis ini mau juga menjawab pertanyaanku.
            “Menaruh minat? Tubuh penari itu kau bilang? Rinnie-ya, aku sudah pernah bilang padamu kan, kalau sesuatu yang aku lakukan saat sedang bersama dengan Super Junior, itu hanyalah tuntutan pekerjaan. Tidak lebih. Jadi, untuk apa aku menaruh minat pada tubuh penari itu?” kataku.
            “Kyuhyun-ah, aku bukan gadis bodoh. Aku yang kodratnya sebagai wanita pun mengakui bahwa tubuh-tubuh penari itu sangat menarik dan berpotensi besar menggoda banyak pria. Jadi, apa kau pernah merasa tergoda dengan penari itu?”
            Aku menghela napas. Lagi. “Dengarkan ini baik-baik. Aku tidak pernah merasa tergoda dengan wanita mana pun. Bahkan, walaupun mereka menari-nari tanpa pakaian di depanku pun, aku tidak akan pernah berminat untuk merasakan sesuatu yang kau sebut tergoda itu. Kau percaya padaku, kan?”
            Ri Rin memalingkan wajahnya dariku. “Aku memang selalu percaya dengan apa yang kau katakan. Dan, ini memang sudah menjadi risiko untukku ketika memilih untuk menerimamu sebagai kekasihku.”
            Aku tersenyum dan mengacak-acak rambut Ri Rin pelan. “Bagus! Ohya, besok aku dan member Super Junior-M yang lain, kecuali tanpa Siwon hyung akan tampil kembali di acara Music Bank. Apa kau ingin datang? Kalau iya, aku akan membelikan tiket untukmu.”
            Ri Rin kembali memandang ke arahku. “Ku dengar, hari ini 4minute juga tampil di Mcoutdown, besok pun demikian. Bagaimana perasaanmu? Kau senang?”
            Tidak perlu bertanya, aku tahu maksud pertanyaan gadis yang sekarang ada di hadapanku ini. “Kenapa kau selalu membicarakan hal itu? Aku tidak benar-benar menyukai HyunA, Rinnie-ya,” kataku pelan.
            “Aku tahu. Aku tidak bertanya apakah kau menyukai gadis itu atau tidak, kan? Aku hanya bertanya, bagaimana perasaanmu ketika 4minute tampil satu panggung dengan kalian?”
            Aku menatap Ri Rin lekat. “Kau ingin tahu? Kalau aku menjawab, bahwa perasaanku sangat senang ketika tampil satu panggung dengan 4minute, apakah itu akan membuatmu terluka? Cemburu, mungkin?”
            “Itu tidak akan,” jawab Ri Rin dengan nada suara yang sudah bisa aku tebak apa yang ia rasakan.
            “Rinnie-ya, ketika Super Junior tampil satu panggung dengan siapa pun, perasaanku biasa-biasa saja. Bahkan, walaupun kami harus tampil satu panggung dengan Lady Gaga, aku merasa itu biasa saja. Apa yang kau khawatirkan, Rinnie-ya?” tanyaku pelan. Jujur saja, aku benar-benar tidak suka jika sudah dalam kondisi seperti ini. Kondisi di mana aku tahu bahwa Ri Rin merasa takut jika aku melirik wanita lain.
            “Aku bisa memegang ucapanmu itu, kan?” sahut Ri Rin.
            Aku tersenyum. “Kenapa tidak? Jadi, besok kau akan datang atau tidak?”
            Ri Rin mengembangkan senyumnya. Aku rasa, keadaan sudah mulai membaik seperti semula. “Aku tidak akan datang. Aku malas ketika harus berada di antara para penggemar-penggemar tercinta kalian itu. Bukannya aku membenci mereka, tapi karena teriakan yang membuat telingaku sakit.”
            Aku mendengus. “Sudah ku duga. Kau tidak akan pernah mau datang untuk melihat penampilanku. Tidak bisakah kau datang dan melihat penampilanku? Aku akan berusaha menampilkan yang terbaik.”
            Ri Rin terkekeh. “Sudahlah. Tidak perlu memasang wajah memelas seperti itu. Sekalipun kau mengancam akan bunuh diri, aku tidak akan pernah datang untuk menyaksikan penampilanmu itu.”
            “Kau menyebalkan, Nona Shin!”
**
Friday, March 28th 2014
Aku memandangi cermin besar yang sedang memantulkan bayangan tubuhku, mulai dari ujung kepala hingga ke kaki. Rasanya aku benar-benar ingin mengacak-acak rambut karena kesal memikirkan gadis bermarga Shin itu. Tapi aku tidak mau mengambil risiko. Sebentar lagi Super Junior-M akan tampil di acara Music Bank ini. Kalau aku sampai merusak tatanan rambut ini, maka akan membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk membetulkannya kembali, padahal waktu kami untuk tampil di panggung hanya tinggal lima menit lagi.
            “Ayo Kyu, sebentar lagi kita akan tampil,” ajak Sungmin hyung padaku. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk untuk menanggapi ucapannya. Sekali lagi, aku memandang ke cermin. Menghela napas sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan ini.

Intro musik Swing sudah mulai berbunyi. Aku harus berkonsentrasi untuk melakukan gerakan-gerakan dance karena aku tidak ingin mengecewakan penggemar.
            Aku mulai melakukan gerakan-gerakan yang menggunakan meja dan kursi. Begitu Donghae hyung bernyanyi di bagian tertentu, kami –member yang lain- mulai melakukan aksi menghambur-hamburkan kertas yang tersedia di atas meja. Tentu saja tidak sembarangan, karena cara menghamburkan kertas pun sudah ditentukan gerakannya.
            Seiring berjalannya waktu, akhirnya kini adalah bagianku untuk bernyanyi. Aku melakukan gerakan yang sudah kami praktikan sebelumnya saat latihan , dan tentu saja sambil memamerkan senyuman miring khas yang aku miliki.
            Saat menari, sesekali aku menatap ke arah di mana penonton sedang duduk dan menyaksikan penampilan kami. Aku begitu terkejut ketika mendapati seseorang yang sangat aku kenali tengah terduduk di antara penggemar kami yang lain. Seseorang itu tengah menatap ke arah panggung dengan tatapan yang begitu serius. Dan tanpa perlu bertanya, tatapannya hanya penuh ke arahku saja.
            Tidak mau salah dalam menari, aku kembali menggerak-gerakan tubuhku untuk melakukan dance selanjutnya. Tapi entah setan apa yang merasuki tubuhku saat ini, setelah melihat seseorang itu, mataku selalu ingin memandang tempat di mana ia duduk sekarang. Aku mengerjapkan mata untuk mengembalikan fokusku kembali. Khawatir gerak-gerikku ini akan tertangkap oleh kamera atau pun ada penggemar yang curiga.
            Tak lama kemudian, akhirnya lagu pun selesai. Aku dan yang lainnya segera meninggalkan panggung dan masuk ke dalam backstage. Sesampainya di sebuah ruangan, tepatnya ruangan khusus untuk kami, aku langsung menyambar botol berisi air mineral dan meneguknya hingga tandas.
            Aku menghela napas. Mencoba untuk mengatur pernapasanku ini. Setelah cukup, aku mengambil tas dan mencari handphone di dalamnya. Setelah menemukan handphone, aku segera menghubungi gadis itu. Terdengar nada sambung, namun tidak ada jawaban dan pada akhirnya operator menyatakan bahwa ponsel gadis itu sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan.
            Aku mencoba untuk menelphonenya lagi. Dan kali ini, sepertinya gadis itu sengaja mematikan panggilan dariku.
            Aku mendengus kesal. Bisa-bisanya gadis itu berbuat seperti ini padaku. “Kau kenapa, Kyuhyun-ah?” Aku menoleh. Ternyata Eunhyuk hyung datang mendekatiku.
            “Gadis itu tidak mengangkat telephone dariku. Bahkan, dia seperti yang sengaja menolak panggilan dariku. Benar-benar menyebalkan!” gerutuku.
            Eunhyuk hyung terkikik. “Temui saja dia. Aku bisa menebak, bahwa gadis itu tidak datang ke acara ini, kan?”
            “Justru itu yang ingin aku tanyakan padanya, hyung.”
            “Maksudmu?” tanya hyung tak mengerti.
            “Ah sudahlah hyung, aku pamit duluan ya? Aku ingin menemui gadis itu secepatnya. Rasanya tanganku sudah gatal ingin menjitak kepalanya karena sikap konyolnya itu.”
            Eunhyuk hyung mengangguk. “Baiklah. Hati-hati di jalan. Jangan mengebut!” perintahnya.
            Tanpa berpikir panjang, aku segera pergi menuju parkiran karena hari ini aku membawa mobil sendiri. Tak lupa, aku harus memakai penyamaran terlebih dahulu dan berhati-hati agar tidak ketahuan penggemar.
**
“Kenapa kau tidak memberitahuku dulu, hah?” protesku ketika aku sudah tiba di apartment Ri Rin dan terduduk di sofa miliknya.
            Gadis itu menutup kulkas dan kembali mendekatiku dengan dua kaleng soft drink yang ada di tangannya. “Ini untukmu,” katanya sambil memberikan salah satu kaleng padaku. Aku menjulurkan tangan untuk menerima pemberiannya.
            Ri Rin mendudukkan tubuhnya tepat di sampingku. Ia membuka penutup kaleng tersebut dan meneguk isinya sedikit. “Memangnya kenapa kalau aku datang tidak memberitahumu terlebih dahulu? Apa ada masalah?”
            Aku bergerak, mengubah posisi duduk agar aku bisa menatap gadis itu sepuasnya. “Kau dapat tiket dari mana, huh?”
            “Itukah yang menjadi masalah untukmu? Hanya karena sebuah tiket? Apa kau tidak senang jika aku datang untuk melihat penampilanmu?” balasnya.
            “Bukan itu. Aku hanya heran, setan apa yang sedang ada di tubuhmu hingga kau mau datang untuk melihat penampilanku secara langsung. Bukankah kemarin kau mengatakan kalau kau tidak suka mendengar teriakan penggemar-penggemar Super Junior?” todongku.
            “Sebetulnya, aku memang tidak suka. Kau tahu? Tadi aku harus menahan diri terutama menahan telingaku yang rasanya sudah panas selama satu setengah jam hanya untuk melihat penampilanmu. Kau masih ingin melontarkan pertanyaan apa lagi?” tanyanya.
            Aku kembali bergerak dan kembali ke posisi duduk semula kemudian menyandarkan punggungku di sandaran sofa. “Tidak. Tidak ada,” jawabku sekenanya.
            Tiba-tiba suasana hening menyelimuti kami berdua. Baik aku maupun Ri Rin sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing. Aku segera membuka penutup kaleng dan meneguk soft drink itu.
            “Kau tahu? Aku suka penampilanmu,” celetuk Ri Rin yang sukses membuatku tersedak.
            “Ohok...ohokk...” aku terbatuk karena mendengar ucapan gadis yang sekarang duduk di sampingku.
            Setelah batukku hilang, aku menatapnya –lagi- sambil mengerutkan dahi. Kemudian meletakkan punggung tanganku di dahinya. Aku khawatir gadis ini sedang mengalami demam tinggi. “Kau sakit, ya?”
            Ri Rin menepis tanganku. “Yak! Kau pikir aku sedang sakit? Kalau aku sakit, mana mungkin tadi aku datang, bodoh!”
            “Tumben sekali kau berkata seperti itu,” ucapku tak percaya.
            “Memangnya aku tidak boleh berkata seperti itu? Kau mau kalau aku lebih menyukai penampilan Eunhyuk oppa atau Sungmin oppa?”
            Aku mendecak. “Kau ini. Selalu saja mengancamku.”
            Aku kembali meneguk minuman yang sekarang ini ada di tanganku. Tiba-tiba aku merasa sesuatu mendarat di pipi kananku dan itu hangat sekali. Aku tercekat untuk beberapa saat. Sampai akhirnya aku menggerakkan kepala dan mendapati Ri Rin tengah tersenyum manis ke arahku. “Aku benar-benar suka penampilanmu. Gaya rambutmu, aku benar-benar menyukainya. Tidak sadarkah kalau banyak wanita di luar sana yang berteriak-terika histeris melihat gaya rambutmu yang sekarang ini? Setidaknya, kau harus mengurangi pesonamu di hadapan publik,” ucap Ri Rin.
            “Kau tahu? Kau sangat mengerikan,” kataku.
            Ri Rin mengedikkan bahunya santai. “Aku tidak peduli. Lain kali, kalau kau mau mendapatkan sesuatu yang gratis lagi dariku seperti tadi, berpenampilanlah seperti ini. Kau mau?”
            Aku tersenyum miring. “Kau sedang tidak berusaha menggodaku kan, Rinnie-ya?” aku bertanya sambil meletakkan kaleng minuman di atas meja.
            “Cih. Untuk apa menggodamu? Tidak ada gunanya sama sekali,” elaknya yang kentara sekali kalau dia sedang berusaha membohongiku.
            Aku memegang sebelah pipinya dengan salah satu telapak tanganku. “Sering-seringlah datang melihat penampilanku seperti tadi, maka aku akan terus mempertahankan gaya rambut ini. Kau setuju?” kataku memberinya tawaran.
            “Tidak. Kalau rambutmu terus-terusan seperti itu, aku tidak ingin menghabiskan tabung oksigen di rumah sakit akibat sesak napas. Mengerti?”
            Aku terkekeh. “Aku tidak peduli. Kau kan seharusnya senang aku tampil tampan seperti ini.”
            “Cih. Seharusnya aku berpikir ulang sebelum memujimu ya, Tuan Cho. Kau ini terlalu membanggakan diri ketika dipuji olehku,” gerutunya.
            “Masalah?”
The End

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar