Ri Rin POV
Hei, kalian tahu apa yang sedang aku lakukan
sekarang ini? Ku rasa, sekarang aku sudah mulai tertular jiwa-jiwa seorang fangirl.
Kalau kalian ingin tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang ini adalah,
jawabannya, aku sedang menyaksikan video performance Swing dari Super Junior-M di Mcoutdown.
Aku
benar-benar penasaran bagaimana mereka tampil terutama dengan pria itu. Aku
memang menolak ajakan pria itu. Aku tidak mau telinga ini menjadi sakit akibat
teriakan-teriakan penggemar Super Junior. Yaah walaupun pada akhirnya pada
Jumat, 28 Maret 2014 yang lalu aku datang untuk menyaksikan penampilan mereka
di acara Music Bank.
Sebenarnya
aku datang karena ingin memberikan kejutan untuk pria itu. Terbukti kan kalau
memang akhirnya pria yang bernama Cho Kyuhyun itu terkejut? Hahaha. Tentu saja.
Sudah sangat lama ia menginginkan kehadiranku di setiap konser Super Junior,
tapi aku selalu menolaknya.
Oke, kembali pada kegiatanku sekarang ini. Aku benar-benar kagum menyaksikan penampilan mereka. Ini benar-benar luar biasa! Walaupun aku hanya menyaksikan lewat video di sebuah situs Youtube, tapi tidak akan dapat menghalangiku untuk berdecak kagum. Terutama pada Kyuhyun.
Yeah!
Pria itu benar-benar terlihat sangat tampan dengan balutan kaus lengan panjang
yang berwarna putih, jas dan celana berwarna hitam, serta sepatu hitam-putih
yang lebih didominasi oleh warna hitamnya.
Rambut
pria itu benar-benar membuatku ingin menjerit histeris. Aku benar-benar
menyukai gaya rambutnya. Dia terlihat lebih...... sexy? Errr, itu terlalu
berlebihan ya?
Kyuhyun.
Selalu saja memamerkan senyuman miringnya di mana pun dan kapan pun kaki pria
itu berpijak. Terkadang aku heran sendiri, sebenarnya dia itu keturunan manusia
atau setan? Rupanya sih memang manusia, tapi sifatnya? Kalian tahu sendiri
jawabannya.
Aku
menyaksikan video tersebut sambil memakan popcorn
yang sengaja sudah aku siapkan terlebih dahulu sebagai teman menonton. Kalian tahu?
Oke, ini mungkin akan sangat memalukan jika aku memberitahunya.
Hmmm...
terkadang, popcorn yang aku masukkan
ke dalam mulut keluar kembali karena aku yang tidak bisa mengatupkan mulut
dengan benar. Alasannya? Karena pesona pria itu!
Sial!
Kapan pria itu terlihat biasa saja di mataku? Apa dia benar-benar ingin
membunuhku?
Kyuhyun,
Sungmin oppa, dan Ryeowook oppa mulai melepas jas yang semula
mereka kenakan lalu melemparkannya ke sembarang tempat. Sekarang, pria itu
hanya memakai pakaian yang tersisa, yang masih membalut tubuhnya itu.
Dia
benar-benar membuatku emosi. Bagaimana tidak? Pria yang memiliki kulit seputih
susu dan berperawakan tinggi seperti itu, mengenakan kaus lengan panjang
berwarna putih yang ujung-ujungnya menutupi bokong pria itu, lalu celananya
yang berwarna hitam. Apakah kalian tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang
ini? Oke, aku sedang memikirkan bahwa Cho Kyuhyun sangat tampan mengenakan
pakaian seperti itu.
Namun,
sekagum-kagumnya aku pada pria itu, aku masih bisa mengontrol diri. Setidaknya,
sampai pria itu datang dan aku yang akan memberikan pelajaran untuknya dengan
tanganku sendiri.
Tidak
terasa, ternyata video pemutaran itu pun selesai. Aku menghela napas lega.
Akhirnya, sebuah ‘penderitaan’ yang aku alami beberapa saat tadi sudah
berakhir. Aku segera menutup situs itu dan mematikan laptop.
Aku
berniat turun dari tempat tidur untuk menaruh mangkuk yang aku gunakan sebagai
wadah popcorn di dapur. Tapi, aku
hampir saja melempar mangkuk tersebut ke wajah seseorang yang kini tengah
berdiri di dekat ranjangku sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Yak!
Kau membuatku terkejut saja,” protesku sambil memungut mangkuk yang pada
akhirnya terjatuh di lantai.
Pria
itu menaikkan kedua alisnya. “Jadi, sekarang kau diam-diam berubah status
menjadi seorang fangirl?” tanyanya.
Bisa
kalian tebak siapa? Yap! Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun?
Aku
memasang wajah tak peduli di hadapannya. “Lalu, apa pedulimu?”
Kyuhyun
menurunkan kedua tangannya lalu duduk di tepi ranjang. “Kenapa saat itu kau
menolak ajakanku? Sekarang? Kau malah menontonnya dalam sebuah video. Hei, kau
tahu? Menyaksikan kami secara langsung tanpa terhalang layar kaca, itu lebih
mengasyikkan,” celotehnya mulai mengeluarkan argumen yang menurutku sangat konyol.
“Apanya
yang mengasyikkan?” dengusku.
“Karena,
melihat wajah tampan sepertiku secara langsung, tidaklah mudah. Kau seharusnya
bersyukur bisa melihat wajah tampanku setiap hari. Kau tidak tahu kan bagaimana
para penggemarku bersusah payah mengumpulkan uang dan meminta izin pada
orangtuanya hanya untuk melihat konser kami?” katanya.
Aku
tersadar bahwa aku sedang memegang mangkuk plastik berwarna biru muda, jadi,
tanpa permisi aku layangkan mangkuk tersebut ke kepala Kyuhyun. Kebetulan yang
sangat hebat, kan?
“Kau
berisik! Siapa bilang kau tampan?” sahutku kesal.
Kyuhyun
meringis. Ia mengelus-elus kepalanya. “Kenapa kau memukulku dengan benda itu,
bodoh? Kalau aku tiba-tiba amnesia bagaimana? Dan akibatnya, aku melupakanmu.
Apa kau mau? Dan, mengenai siapa yang bilang aku tampan, kau sendiri yang bisa
menjawabnya. Tidakkah kau sadar bahwa tadi kau hampir meneteskan air liurmu
saat menyaksikan penampilanku beberapa hari yang lalu?”
Aku
melongo, kemudian tertawa meremehkan. “Cih. Memangnya siapa yang hampir
meneteskan air liur karena melihatmu? Aku tadi hanya terkagum pada penampilan oppadeul, bukan kau!” elakku. Ah! Kenapa
ia harus mengetahui ini?
“Hahaha.
Kau pikir aku bodoh? Kau tahu aku sudah berdiri berapa lama tadi? Aku sudah berdiri
di sana selama dua menitan. Kau saja yang terlalu terpesona denganku sehingga
sama sekali tidak mengetahui kedatanganku. Aku terlalu tampan ya, sampai
membuatmu seperti itu? Maaf ya, tapi ini sudah bawaan dari lahir,” kata
Kyuhyun.
Aku
hendak memukulnya lagi dengan mangkuk tapi pria itu dengan cepat mencegahnya
ketika tanganku sudah melayang di udara. “Kau terlalu cepat emosi,” ucap
Kyuhyun. Kemudian Kyuhyun menyapukan sebuah kecupan singkat di pipi kananku.
“Yak!”
protesku sambil menepis tangannya.
Kyuhyun
menjauhkan wajahnya. “Aku merindukanmu,” lirihnya.
Tawaku
menyembur. “MWO? Hahaha. Apa kau
masih waras?”
Kyuhyun
mendecak. “Kalau pun aku sudah tidak waras, kau masih tetap mencintaiku kan?”
Aku
bergidik mendengar perkataan Kyuhyun barusan. “Menggelikkan!”
Karena
tidak terlalu ingin berdebat dengannya, aku segera turun dari ranjang dan
berjalan menuju dapur.
Ketika
aku sedang mencuci mangkuk tadi dan sebuah gelas, tiba-tiba Kyuhyun memelukku
dari belakang, membenamkan wajahnya di pundakku. Aku bisa merasakan bahwa pria
itu sedang menghirup aroma orange di
tubuhku ini.
Setelah
selesai, aku segera membalikkan tubuh dan mendelik tajam ke arahnya. “Kau
kenapa, hah? Tingkahmu sudah seperti orang mabuk saja.”
Pria
itu tersenyum. “Aku memang sedang mabuk. Memabukkan dirimu, hahaha.”
Aku
mencibir. “Kau benar-benar membuatku emosi ya, Tuan Cho. Perkataanmu
benar-benar terdengar menggelikkan di telingaku. Kau bukan tipe pria yang
selalu mengumbar cinta di depanku. Tapi sekarang? Apa kau salah makan tadi?”
Kyuhyun
memegang kedua pundakku, sedikit mendorong tubuhku, menyudutkanku di dinding tempat
pencucian piring. “Aku memang pria yang tidak senang mengumbar cinta di
depanmu. Tapi, tanyakan pada dirimu sendiri kenapa aku bisa seperti ini,”
katanya pelan.
“Kenapa
aku harus menanyakannya pada diriku sendiri? Yang merasakan kan kau, bukan aku.
Jadi, seharusnya kau yang bertanya pada dirimu sendiri,” balasku.
“Kau....
bisa tidak, berpenampilan biasa saja di hadapanku? Kau benar-benar inginkan
meruntuhkan kendaliku, ya?” bisiknya.
Aku
menelan ludah. Sial! Pria ini sedang menggodaku ya?
Aku
mendorong tubuh Kyuhyun. Rasanya aku bisa mati sekarang juga ketika tubuh pria
itu berdekatan denganku. “Tutup mulutmu! Kau ini cerewet sekali. Kau mau ku
tendang, hah?”
Kyuhyun
menyeringai. “Kau mau menendangku? Menendangku ke mana dulu? Kalau kau berniat
menendangku ke—“
Aku
menginjak kaki pria itu kencang. Aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Dasar
menyebalkan!
“Rasakan!”
kataku sambil berlalu pergi dari hadapannya sedangkan dia hanya meringis
kesakitan sambil memegangi kaki kanannya.
“YAK!
Dasar gadis gila,” teriaknya.
Aku
yang sudah duduk di sofa sambil menyalakan televisi pun hanya membalasnya
sambil tertawa. “Bukan aku yang gila, tapi kau. Tidak menyangka ya kalau kau
bisa tergila-gila seperti itu padaku,” sahutku berteriak juga.
Aku
terkekeh ketika mendengar pria itu mengerang di dapur. “AAARGGHH!!”
The
End

Tidak ada komentar:
Posting Komentar