Selasa, 08 April 2014

ENVY AND JEALOUS



Ri Rin POV
Aku mencengkeram dengan kuat handphone yang sekarang ini masih berada di tanganku. Kalian tahu? Aku hampir saja membanting handphone tersebut karena terlalu kesal. Tapi aku masih menahan diri. Aku tidak ingin dimarahi orangtuaku karena membanting handphone hingga hancur tak berbentuk. Bisa-bisa, uang sakuku selama ini akan dipotong banyak.
            Sebagai gantinya, aku membanting handphone itu ke atas ranjang. Aku benar-benar kesal sekarang. Cho Kyuhyun yang bodoh itu sukses membuat darahku naik akibat perbuatannya.
            Aku mendengar seseorang membuka pintu apartmentku. Dan, langkah kaki yang mendekat ke arah kamarku. Aku tahu siapa yang datang. Tidak usah bertanya lagi. Pasti pria bodoh itu. Hah, aku ingin sekali mencabik-cabik wajah tampannya itu.
            Benar saja. Kyuhyun membuka pintu kamarku, kemudian berjalan mendekati ranjangku. Dia baru saja selesai perform di Inkigayo hari ini karena hari ini merupakan hari terakhir bagi Super Junior-M untuk tampil dalam rangka mempromosikan album yang berjudul Swing itu.
            “Berhenti. Jangan mendekat,” cegahku ketika hampir saja Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di atas ranjangku. Wajahnya terlihat lelah sekali. Sebenarnya aku prihatin dengannya dan juga member yang lain. Mereka harus mati-matian menahan rasa lelah hanya untuk memberikan penampilan yang terbaik dan untuk menyenangkan hati para penggemar agar penjualan album mereka benar-benar sesuai dengan yang diinginkan.
            Kyuhyun tidak jadi duduk, pria itu kemudian menegakkan tubuhnya dan berdiri di sisi ranjangku. “Kenapa?” tanyanya tak mengerti.
            Aku menatapnya sengit. Jujur saja, ingin sekali rasanya menendang tubuhnya keluar dari apartment ini. “Masih berani bertanya? Apa yang sudah kau lakukan, hah? Kau ingin membuat aku mati mendadak ya?”
            Kyuhyun mengerutkan dahinya. “Kau ini kenapa sebenarnya? Aku tidak mengerti apa yang sedang kau pikirkan sehingga kau menjadi sinis seperti itu padaku. Setelah aku selesai perform di Inkigayo tadi, aku memaksakan diri untuk datang kemari karena kalau tidak, kau akan menanyakan alasan kenapa aku tidak datang hari ini, iya kan? Sekarang aku sudah datang tapi kau malah tidak menyambutku dengan baik. Kau pikir aku ini mainan untukmu?”
            Aku heran, kenapa malah dia yang marah-marah seperti itu padaku? Seharusnya kan aku yang marah seperti itu.
            Aku bergerak dan merangkak di atas kasur untuk mendekatinya. Setelah di tepi ranjang, aku berdiri dengan lutut yang ku jadikan sebagai tumpuannya. “Kenapa kau malah marah seperti itu? Harusnya aku yang marah padamu, Cho Kyuhyun bodoh.”
            “Iya kenapa? Tinggal jawab alasannya, memang apa yang sulit? Kau punya mulut kan? Jawab kenapa!” perintahnya menatapku tajam.
            Aku menjulurkan tangan dan memberikan handphoneku padanya. Kyuhyun mengambil handphone dari tanganku dan melihat apa yang ada di layarnya.
            Beberapa detik kemudian, pria itu malah menaikkan kedua alisnya dan menatapku dengan tatapan tidak percaya. “Jadi, hanya karena ini? Kau cemburu?”
            Kalian tahu apa yang membuatku menjadi seperti ini?
            Cho Kyuhyun mengupload foto di twitter bersama dengan member Super Junior-M yang lain, kecuali Siwon oppa dan seorang wanita yang tidak perlu ditanya lagi siapa dia. Victoria. Leader dalam sebuah girlband f(x), yang menjadi salah satu artist asuhan SM Entertaiment juga.
            Dan kalian tahu apa isi tweet Kyuhyun? Kira-kira seperti ini lah jika sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.
Swing!! Pretty qian Vic that came to support us for
our inkigayo last broadcast!!^^
Lihat? Bagaimana aku tidak kesal jika Kyuhyun mengatakan secara terang-terangan bahwa Victoria itu cantik? Oke, aku memang mengakui jika wanita itu cantik, lebih cantik daripada aku, tapi apakah harus mengatakannya dengan gamblang seperti itu di dunia maya? Benar-benar menyebalkan!
“Aku tidak cemburu. Aku hanya ingin mendengarkan alasan kenapa kau mengatakan hal seperti itu di dunia maya. Bagaimana jika ada penggemarmu yang tidak terima kalau kau mengatakan Qian itu cantik? Kau mau kalau mereka sampai mencelalakan wanita itu?” tanyaku. Aku menggunakan kata ‘penggemar’ untuk mewakili diriku sendiri. Tidak mungkin kan aku mengganti kata tersebut dengan ‘aku’? Bisa-bisa pria ini mengolokku habis-habisan.
Kyuhyun malah mengembalikan handphone tersebut padaku. Aku menyambarnya dengan kasar dan membuangnya ke sembarang tempat, tepatnya di atas kasur.
“Dia memang cantik, kan? Lagipula, tidak akan ada penggemar yang berbuat hal-hal konyol seperti itu. Mereka sudah tahu hubunganku dan Qian itu seperti apa. Nah, kau juga sudah tahu kan hubunganku dengannya seperti apa? Kenapa? Ada masalah?” tanyanya santai.
Aku tersenyum manis. Pria ini benar-benar membuat kesabaranku habis. “Kyuhyun sayang, bisa tidak kau sedikit menunduk?” ucapku dengan nada suara yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar manis.
Kyuhyun menyipitkan matanya, menatapku curiga. “Ada hal lain yang ingin kau lakukan padaku? Kau terlihat mengerikkan jika sudah bersikap seperti itu.”
Aku menggeleng sambil terus tersenyum manis. “Tidak ada. Aku hanya ingin kau sedikit menundukkan tubuhmu. Kau terlalu tinggi, aku tidak sampai. Apalagi dengan posisiku yang seperti ini. Ayo, cepat,” kataku tak sabaran.
Kyuhyun mengedikkan bahunya santai. “Baiklah.”
Aku tersenyum menang. Yeay! Ini lah saatnya. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tangan ketika melihat Kyuhyun yang perlahan-lahan mulai menundukkan tubuhnya. Pria itu mensejajarkan wajahnya tepat dengan wajahku. Aku semakin mengembangkan senyuman di bibir.
“Sekarang, apa yang kau mau?” tanya Kyuhyun.
“Kau tahu, aku ingin sekali---‘’ Tidak mau menghabiskan waktu, tanpa menyelesaikan perkataan, aku segera mengangkat kedua tanganku dan menjambak rambut Kyuhyun. Aku menarik dan mengulurkan tangan agar pria itu merasakan kesakitan yang mungkin akan membuatku sedikit lebih lega. Aku tega? Biarkan.
“YAK! AWWW!! SAKIT!!!” teriak Kyuhyun sambil memegangi tanganku berusaha untuk melepaskan tanganku dari rambutnya.
“KAU MENYEBALKAN!!!!” teriakku tak kalah keras.
“YAK! Lepaskan!!!” protesnya. “Lepaskan lepaskan!!” lanjutnya sambil memukul-mukul tanganku.
Karena merasa cukup, akhirnya aku melepaskan tanganku dan menatapnya tajam. Kyuhyun pun demikian. Ia menatapku sengit seolah-olah ingin memakanku hidup-hidup. Wajahnya memerah, mungkin karena ia kesakitan tadi. Hahaha! Aku puas melakukan ini padamu Cho Kyuhyun!
“Kau sudah gila, hah?! Kau ingin membunuhku? Apa kau tidak tahu kalau yang tadi itu rasanya sakit sekali? Kepalaku panas rasanya,” ucap Kyuhyun dengan mata berkilat marah. Pria itu kemudian mengelus-elus kepalanya.
Aku berkacak pinggang. “Sakit? Memangnya aku peduli? Kau benar-benar menyebalkan Cho Kyuhyun bodoh!”
“Kau kenapa? Kau tidak suka jika aku mengatakan bahwa Qian itu cantik? Kau cemburu, hah? Kalau iya, bilang saja. Tidak usah menjambak rambutku. Sakit sekali, tahu,” desisnya.
“Cemburu? Aku cemburu? Hahaha. Untuk apa aku cemburu dengannya? Aku hanya tidak suka saja jika kau mengumbar itu semua di dunia maya. Kau saja tidak pernah mengatakan hal itu di dunia maya tentangku kan?” tanyaku bodoh yang jelas-jelas sudah aku ketahui jawabannya.
Kyuhyun menurunkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk mengelus kepala. “Kau tidak amnesia kan? Mana mungkin aku mengatakan hal-hal tentangmu di dunia maya? Bisa-bisa kau habis oleh penggemar-penggemarku.”
“Kalau begitu, bisa kan tidak berbuat seperti itu untuk gadis lain?” ujarku.
Kyuhyun menghela napas. “Kau tidak terima kalau aku berbuat seperti itu? Sekarang jawab, apa kau cemburu? Jawab atau aku akan mendorongmu!” perintahnya.
Napasku tercekat. Kalau boleh aku mengaku, aku memang cemburu jika Kyuhyun mengatakan hal seperti itu untuk orang lain. Namun, aku tidak akan mengakui hal itu secara terang-terangan di depan pria tampan ini, ralat, maksudku pria jelek ini. Terkadang dia terlihat jelek di mataku jika sudah melakukan sesuatu yang membuat darahku naik.
Aku menelan ludah, menghirup napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja menyergap perasaanku. Jantungku berdetak tidak keruan. Sial!
“Sebenarnya aku tidak cemburu, aku hanya iri padanya,” jawabku setengah jujur. Yaa, memang aku tidak hanya cemburu, tetapi juga iri. Kenapa harus ada gadis lain yang datang untuk mendukung mereka? Padahal jelas-jelas, aku ini kekasih Kyuhyun, pria yang statusnya menjadi salah satu anggota boyband tersebut.
“Iri? Kau iri dengan Qian? Kenapa?” tanyanya.
Baiklah, untuk yang kali ini, sepertinya aku harus jujur agar pria ini mengetahui apa yang aku rasakan. “Aku iri karena kenapa harus ada orang lain yang datang untuk mendukung kalian. Kenapa bukan aku saja yang berfoto dengan kalian. Aku juga ingin datang dan mendukung kalian seperti yang dilakukan Qian eonni,” jawabku. Oke, aku harus memanggil gadis itu dengan panggilan eonni. Karena usianya yang memang berjarak 4 tahun di atasku.
Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Jadi, kau hanya iri karena itu?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
Pria itu memegangi kedua pundakku. “Kalau karena itu alasannya, kenapa kau tidak datang tadi? Aku sangat mengharapkan kehadiranmu, kau tahu? Aku mengharapkan kau datang secara tiba-tiba seperti apa yang kau lakukan pada saat datang ke acara Music Bank beberapa hari yang lalu. Itu memang membuatku terkejut, tapi apa kau tahu kalau aku sangat senang dengan tindakanmu waktu itu? Aku merasa kehadiranmu membuat semangatku bertambah. Bisakah kau melakukan hal itu lagi suatu hari nanti? Hmmm?”
Aku menatap Kyuhyun tepat di manik mata. Jadi, dia merasa senang dengan kehadiranku yang tiba-tiba waktu itu? Dia merasa kalau semangatnya bertambah hanya karena kehadiranku? Ah! Pria ini lagi berusaha membohongiku ya? Tumben sekali berbicara manis seperti itu.
Aku menyipitkan mata. “Kau sedang tidak membohongiku, kan? Kau tidak ada maksud untuk balas dendam padaku, kan?” tanyaku curiga.
Kyuhyun menghela napas, lalu tersenyum getir. “Di saat seperti ini, kau masih saja menganggapku tidak serius? Rinnie-ya, aku harus melakukan apalagi agar kau bisa langsung mempercayai apa yang aku katakan? Oke, ini memang kedengarannya akan menuju ke arah romantisme. Tapi, coba tatap mataku. Apa kau melihat kebohongan di sana?” ucapnya pelan.
Aku berusaha menghirup napas dalam-dalam untuk membuat perasaanku sedikit lebih tenang. Kemudian aku mencoba untuk menatap mata Kyuhyun dengan teliti. Mencari apakah ada kebohongan di sana. Namun nihil. Aku tidak menemukan kebohongan di mata pria ini. Ternyata, Kyuhyun memang benar-benar dengan ucapannya.
“Aku tidak menemukan kebohongan sedikit pun di matamu. Jadi, kau benar-benar serius dengan ucapanmu tadi?” kataku.
Kyuhyun mengangguk. “Aku benar-benar serius,” jawabnya. Pria yang kini berada di hadapanku menghela napas dan membuka mulutnya untuk melanjutkan kata-katanya. “Aku minta maaf jika kau memang tidak suka dengan apa yang aku lakukan tadi. Maaf ya? Aku kira kau tidak peduli dengan apa yang aku lakukan ini, tapi ternyata aku salah. Mianhae.”
Aku tersenyum, kemudian meletakkan kedua tanganku di atas punggung tangan Kyuhyun yang masih memegangi bahuku. “Tidak apa-apa. Aku bisa maklum. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku seperti anak kecil, ya?”
Kyuhyun menggeleng. “Tidak. Justru aku malah senang kau bersikap seperti itu. Itu tandanya, kau cemburu,” katanya tertawa.
Aku mendengus lalu menurunkan tangan Kyuhyun dari pundakku. “Cih. Siapa yang cemburu? Tadi kan aku sudah bilang kalau aku tidak cemburu.”
Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Terserah kau mau jujur atau tidak. Tapi yang jelas, dengan sikapmu yang seperti itu, aku menyimpulkan bahwa kau cemburu. Astaga, ternyata Ri Rin-ku bisa cemburu juga ya,” cemoohnya.
“Aku tidak cemburu!” kataku tegas.
Kyuhyun menunjukku dengan telunjuknya. “Tidak. Kau. Cemburu.” Pria itu menjulurkan lidahnya ke arahku lalu berbalik keluar dari kamarku.
Sial! Pria ini....
“CHO KYU HYUN!!!!” teriakku tak terima. Aku heran sendiri, kenapa aku bisa menjadi kekasih pria setan sepertinya? Aku tidak bisa membayangkan jika aku menikah dengannya. Menjadikan pria seperti itu menjadi suamiku? Apa aku masih waras? Sudahlah, itu tidak perlu dipikirkan dulu. Baru menjadi kekasihnya saja sudah hampir membuatku tidak waras, apalagi kalau sampai menikah dengannya. Mungkin, jika itu terjadi, aku harus menyiapkan mental setebal baja agar bisa menghadapinya. Doakan saja yaaaaaa, hihihi.

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar