Ri Rin POV
Aku mencengkeram dengan kuat handphone yang sekarang
ini masih berada di tanganku. Kalian tahu? Aku hampir saja membanting handphone
tersebut karena terlalu kesal. Tapi aku masih menahan diri. Aku tidak ingin dimarahi
orangtuaku karena membanting handphone hingga hancur tak berbentuk. Bisa-bisa,
uang sakuku selama ini akan dipotong banyak.
Sebagai
gantinya, aku membanting handphone itu ke atas ranjang. Aku benar-benar kesal
sekarang. Cho Kyuhyun yang bodoh itu sukses membuat darahku naik akibat
perbuatannya.
Aku
mendengar seseorang membuka pintu apartmentku. Dan, langkah kaki yang mendekat
ke arah kamarku. Aku tahu siapa yang datang. Tidak usah bertanya lagi. Pasti
pria bodoh itu. Hah, aku ingin sekali mencabik-cabik wajah tampannya itu.
Benar
saja. Kyuhyun membuka pintu kamarku, kemudian berjalan mendekati ranjangku. Dia
baru saja selesai perform di Inkigayo
hari ini karena hari ini merupakan hari terakhir bagi Super Junior-M untuk
tampil dalam rangka mempromosikan album yang berjudul Swing itu.
“Berhenti.
Jangan mendekat,” cegahku ketika hampir saja Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di
atas ranjangku. Wajahnya terlihat lelah sekali. Sebenarnya aku prihatin
dengannya dan juga member yang lain. Mereka harus mati-matian menahan rasa
lelah hanya untuk memberikan penampilan yang terbaik dan untuk menyenangkan
hati para penggemar agar penjualan album mereka benar-benar sesuai dengan yang
diinginkan.
Kyuhyun
tidak jadi duduk, pria itu kemudian menegakkan tubuhnya dan berdiri di sisi
ranjangku. “Kenapa?” tanyanya tak mengerti.
Aku menatapnya sengit. Jujur saja, ingin sekali rasanya menendang tubuhnya keluar dari apartment ini. “Masih berani bertanya? Apa yang sudah kau lakukan, hah? Kau ingin membuat aku mati mendadak ya?”
Aku menatapnya sengit. Jujur saja, ingin sekali rasanya menendang tubuhnya keluar dari apartment ini. “Masih berani bertanya? Apa yang sudah kau lakukan, hah? Kau ingin membuat aku mati mendadak ya?”
Kyuhyun
mengerutkan dahinya. “Kau ini kenapa sebenarnya? Aku tidak mengerti apa yang
sedang kau pikirkan sehingga kau menjadi sinis seperti itu padaku. Setelah aku
selesai perform di Inkigayo tadi, aku
memaksakan diri untuk datang kemari karena kalau tidak, kau akan menanyakan
alasan kenapa aku tidak datang hari ini, iya kan? Sekarang aku sudah datang
tapi kau malah tidak menyambutku dengan baik. Kau pikir aku ini mainan
untukmu?”
Aku
heran, kenapa malah dia yang marah-marah seperti itu padaku? Seharusnya kan aku
yang marah seperti itu.
Aku
bergerak dan merangkak di atas kasur untuk mendekatinya. Setelah di tepi
ranjang, aku berdiri dengan lutut yang ku jadikan sebagai tumpuannya. “Kenapa
kau malah marah seperti itu? Harusnya aku yang marah padamu, Cho Kyuhyun
bodoh.”
“Iya
kenapa? Tinggal jawab alasannya, memang apa yang sulit? Kau punya mulut kan?
Jawab kenapa!” perintahnya menatapku tajam.
Aku
menjulurkan tangan dan memberikan handphoneku padanya. Kyuhyun mengambil
handphone dari tanganku dan melihat apa yang ada di layarnya.
Beberapa
detik kemudian, pria itu malah menaikkan kedua alisnya dan menatapku dengan
tatapan tidak percaya. “Jadi, hanya karena ini? Kau cemburu?”
Kalian
tahu apa yang membuatku menjadi seperti ini?
Cho
Kyuhyun mengupload foto di twitter bersama dengan member Super Junior-M yang
lain, kecuali Siwon oppa dan seorang
wanita yang tidak perlu ditanya lagi siapa dia. Victoria. Leader dalam sebuah girlband
f(x), yang menjadi salah satu artist asuhan SM Entertaiment juga.
Dan
kalian tahu apa isi tweet Kyuhyun? Kira-kira seperti ini lah jika sudah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.
Swing!! Pretty qian Vic that came
to support us for
our inkigayo last broadcast!!^^
Lihat?
Bagaimana aku tidak kesal jika Kyuhyun mengatakan secara terang-terangan bahwa
Victoria itu cantik? Oke, aku memang mengakui jika wanita itu cantik, lebih
cantik daripada aku, tapi apakah harus mengatakannya dengan gamblang seperti
itu di dunia maya? Benar-benar menyebalkan!
“Aku
tidak cemburu. Aku hanya ingin mendengarkan alasan kenapa kau mengatakan hal
seperti itu di dunia maya. Bagaimana jika ada penggemarmu yang tidak terima
kalau kau mengatakan Qian itu cantik? Kau mau kalau mereka sampai mencelalakan
wanita itu?” tanyaku. Aku menggunakan kata ‘penggemar’ untuk mewakili diriku
sendiri. Tidak mungkin kan aku mengganti kata tersebut dengan ‘aku’? Bisa-bisa
pria ini mengolokku habis-habisan.
Kyuhyun
malah mengembalikan handphone tersebut padaku. Aku menyambarnya dengan kasar
dan membuangnya ke sembarang tempat, tepatnya di atas kasur.
“Dia
memang cantik, kan? Lagipula, tidak akan ada penggemar yang berbuat hal-hal
konyol seperti itu. Mereka sudah tahu hubunganku dan Qian itu seperti apa. Nah,
kau juga sudah tahu kan hubunganku dengannya seperti apa? Kenapa? Ada masalah?”
tanyanya santai.
Aku
tersenyum manis. Pria ini benar-benar membuat kesabaranku habis. “Kyuhyun
sayang, bisa tidak kau sedikit menunduk?” ucapku dengan nada suara yang dibuat
sedemikian rupa agar terdengar manis.
Kyuhyun
menyipitkan matanya, menatapku curiga. “Ada hal lain yang ingin kau lakukan
padaku? Kau terlihat mengerikkan jika sudah bersikap seperti itu.”
Aku
menggeleng sambil terus tersenyum manis. “Tidak ada. Aku hanya ingin kau
sedikit menundukkan tubuhmu. Kau terlalu tinggi, aku tidak sampai. Apalagi
dengan posisiku yang seperti ini. Ayo, cepat,” kataku tak sabaran.
Kyuhyun
mengedikkan bahunya santai. “Baiklah.”
Aku
tersenyum menang. Yeay! Ini lah saatnya. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak
tangan ketika melihat Kyuhyun yang perlahan-lahan mulai menundukkan tubuhnya.
Pria itu mensejajarkan wajahnya tepat dengan wajahku. Aku semakin mengembangkan
senyuman di bibir.
“Sekarang,
apa yang kau mau?” tanya Kyuhyun.
“Kau
tahu, aku ingin sekali---‘’ Tidak mau menghabiskan waktu, tanpa menyelesaikan
perkataan, aku segera mengangkat kedua tanganku dan menjambak rambut Kyuhyun.
Aku menarik dan mengulurkan tangan agar pria itu merasakan kesakitan yang
mungkin akan membuatku sedikit lebih lega. Aku tega? Biarkan.
“YAK!
AWWW!! SAKIT!!!” teriak Kyuhyun sambil memegangi tanganku berusaha untuk
melepaskan tanganku dari rambutnya.
“KAU
MENYEBALKAN!!!!” teriakku tak kalah keras.
“YAK!
Lepaskan!!!” protesnya. “Lepaskan lepaskan!!” lanjutnya sambil memukul-mukul
tanganku.
Karena
merasa cukup, akhirnya aku melepaskan tanganku dan menatapnya tajam. Kyuhyun
pun demikian. Ia menatapku sengit seolah-olah ingin memakanku hidup-hidup.
Wajahnya memerah, mungkin karena ia kesakitan tadi. Hahaha! Aku puas melakukan
ini padamu Cho Kyuhyun!
“Kau
sudah gila, hah?! Kau ingin membunuhku? Apa kau tidak tahu kalau yang tadi itu
rasanya sakit sekali? Kepalaku panas rasanya,” ucap Kyuhyun dengan mata
berkilat marah. Pria itu kemudian mengelus-elus kepalanya.
Aku
berkacak pinggang. “Sakit? Memangnya aku peduli? Kau benar-benar menyebalkan
Cho Kyuhyun bodoh!”
“Kau
kenapa? Kau tidak suka jika aku mengatakan bahwa Qian itu cantik? Kau cemburu,
hah? Kalau iya, bilang saja. Tidak usah menjambak rambutku. Sakit sekali,
tahu,” desisnya.
“Cemburu?
Aku cemburu? Hahaha. Untuk apa aku cemburu dengannya? Aku hanya tidak suka saja
jika kau mengumbar itu semua di dunia maya. Kau saja tidak pernah mengatakan
hal itu di dunia maya tentangku kan?” tanyaku bodoh yang jelas-jelas sudah aku
ketahui jawabannya.
Kyuhyun
menurunkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk mengelus kepala. “Kau tidak
amnesia kan? Mana mungkin aku mengatakan hal-hal tentangmu di dunia maya?
Bisa-bisa kau habis oleh penggemar-penggemarku.”
“Kalau
begitu, bisa kan tidak berbuat seperti itu untuk gadis lain?” ujarku.
Kyuhyun
menghela napas. “Kau tidak terima kalau aku berbuat seperti itu? Sekarang
jawab, apa kau cemburu? Jawab atau aku akan mendorongmu!” perintahnya.
Napasku
tercekat. Kalau boleh aku mengaku, aku memang cemburu jika Kyuhyun mengatakan
hal seperti itu untuk orang lain. Namun, aku tidak akan mengakui hal itu secara
terang-terangan di depan pria tampan ini, ralat, maksudku pria jelek ini.
Terkadang dia terlihat jelek di mataku jika sudah melakukan sesuatu yang
membuat darahku naik.
Aku
menelan ludah, menghirup napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugup yang
tiba-tiba saja menyergap perasaanku. Jantungku berdetak tidak keruan. Sial!
“Sebenarnya
aku tidak cemburu, aku hanya iri padanya,” jawabku setengah jujur. Yaa, memang
aku tidak hanya cemburu, tetapi juga iri. Kenapa harus ada gadis lain yang
datang untuk mendukung mereka? Padahal jelas-jelas, aku ini kekasih Kyuhyun,
pria yang statusnya menjadi salah satu anggota boyband tersebut.
“Iri?
Kau iri dengan Qian? Kenapa?” tanyanya.
Baiklah,
untuk yang kali ini, sepertinya aku harus jujur agar pria ini mengetahui apa
yang aku rasakan. “Aku iri karena kenapa harus ada orang lain yang datang untuk
mendukung kalian. Kenapa bukan aku saja yang berfoto dengan kalian. Aku juga
ingin datang dan mendukung kalian seperti yang dilakukan Qian eonni,” jawabku. Oke, aku harus
memanggil gadis itu dengan panggilan eonni.
Karena usianya yang memang berjarak 4 tahun di atasku.
Kyuhyun
memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Jadi, kau hanya iri karena
itu?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
Pria
itu memegangi kedua pundakku. “Kalau karena itu alasannya, kenapa kau tidak
datang tadi? Aku sangat mengharapkan kehadiranmu, kau tahu? Aku mengharapkan
kau datang secara tiba-tiba seperti apa yang kau lakukan pada saat datang ke
acara Music Bank beberapa hari yang lalu. Itu memang membuatku terkejut, tapi
apa kau tahu kalau aku sangat senang dengan tindakanmu waktu itu? Aku merasa
kehadiranmu membuat semangatku bertambah. Bisakah kau melakukan hal itu lagi
suatu hari nanti? Hmmm?”
Aku
menatap Kyuhyun tepat di manik mata. Jadi, dia merasa senang dengan kehadiranku
yang tiba-tiba waktu itu? Dia merasa kalau semangatnya bertambah hanya karena
kehadiranku? Ah! Pria ini lagi berusaha membohongiku ya? Tumben sekali
berbicara manis seperti itu.
Aku
menyipitkan mata. “Kau sedang tidak membohongiku, kan? Kau tidak ada maksud
untuk balas dendam padaku, kan?” tanyaku curiga.
Kyuhyun
menghela napas, lalu tersenyum getir. “Di saat seperti ini, kau masih saja
menganggapku tidak serius? Rinnie-ya,
aku harus melakukan apalagi agar kau bisa langsung mempercayai apa yang aku
katakan? Oke, ini memang kedengarannya akan menuju ke arah romantisme. Tapi,
coba tatap mataku. Apa kau melihat kebohongan di sana?” ucapnya pelan.
Aku
berusaha menghirup napas dalam-dalam untuk membuat perasaanku sedikit lebih
tenang. Kemudian aku mencoba untuk menatap mata Kyuhyun dengan teliti. Mencari
apakah ada kebohongan di sana. Namun nihil. Aku tidak menemukan kebohongan di
mata pria ini. Ternyata, Kyuhyun memang benar-benar dengan ucapannya.
“Aku
tidak menemukan kebohongan sedikit pun di matamu. Jadi, kau benar-benar serius
dengan ucapanmu tadi?” kataku.
Kyuhyun
mengangguk. “Aku benar-benar serius,” jawabnya. Pria yang kini berada di
hadapanku menghela napas dan membuka mulutnya untuk melanjutkan kata-katanya.
“Aku minta maaf jika kau memang tidak suka dengan apa yang aku lakukan tadi.
Maaf ya? Aku kira kau tidak peduli dengan apa yang aku lakukan ini, tapi
ternyata aku salah. Mianhae.”
Aku
tersenyum, kemudian meletakkan kedua tanganku di atas punggung tangan Kyuhyun
yang masih memegangi bahuku. “Tidak apa-apa. Aku bisa maklum. Seharusnya aku
yang minta maaf. Aku seperti anak kecil, ya?”
Kyuhyun
menggeleng. “Tidak. Justru aku malah senang kau bersikap seperti itu. Itu
tandanya, kau cemburu,” katanya tertawa.
Aku
mendengus lalu menurunkan tangan Kyuhyun dari pundakku. “Cih. Siapa yang
cemburu? Tadi kan aku sudah bilang kalau aku tidak cemburu.”
Kyuhyun
mengedikkan bahunya. “Terserah kau mau jujur atau tidak. Tapi yang jelas,
dengan sikapmu yang seperti itu, aku menyimpulkan bahwa kau cemburu. Astaga,
ternyata Ri Rin-ku bisa cemburu juga ya,” cemoohnya.
“Aku
tidak cemburu!” kataku tegas.
Kyuhyun
menunjukku dengan telunjuknya. “Tidak. Kau. Cemburu.” Pria itu menjulurkan
lidahnya ke arahku lalu berbalik keluar dari kamarku.
Sial!
Pria ini....
“CHO
KYU HYUN!!!!” teriakku tak terima. Aku heran sendiri, kenapa aku bisa menjadi
kekasih pria setan sepertinya? Aku tidak bisa membayangkan jika aku menikah
dengannya. Menjadikan pria seperti itu menjadi suamiku? Apa aku masih waras?
Sudahlah, itu tidak perlu dipikirkan dulu. Baru menjadi kekasihnya saja sudah
hampir membuatku tidak waras, apalagi kalau sampai menikah dengannya. Mungkin,
jika itu terjadi, aku harus menyiapkan mental setebal baja agar bisa
menghadapinya. Doakan saja yaaaaaa, hihihi.
The
End

Tidak ada komentar:
Posting Komentar