Happy Reading ^^
Kyuhyun
POV
“TIDAAAKKKK...” Aku terbangun dari tidur nyenyakku
karena mimpi itu lagi. Napasku begitu terengah-engah. Keringat dingin pun
mengucur dari kening dan pelipisku. Mimpi itu. Mimpi itu datang lagi. Entah
untuk yang keberapa kalinya dia hadir di mimpiku. Memberitahukanku tentang
sesuatu yang mungkin orang lain tidak mengetahuinya.
Aku
meremas sprei yang membungkus kasur single
size milikku ini. Rasanya aku ingin menangis jika melihat penampilannya di
dalam mimpi-mimpiku. Dia. Orang yang sangat aku sayangi. Orang yang sudah aku
anggap sebagai adikku sendiri karena aku sudah tidak punya keluarga lagi. Kedua
orangtua dan kakak perempuanku telah meninggal dalam peristiwa kecelakaan
pesawat saat aku berusia delapan tahun. Maka dari itu, sejak usia delapan tahun
sampai sekarang ini, aku hanya dekat dengan keluarga bibi. Adik dari ayahku.
Dan bibiku itu mempunyai seorang anak perempuan tunggal yang sudah
mendeklarasikan bahwa ia bersedia menjadi adikku. Dia. Choi Mi Ra. Gadis yang
selalu hadir di dalam mimpiku.
**
“Kau memimpikannya lagi?” tanya Ri Rin. Sekarang aku dan Ri Rin tengah terduduk di sebuah bangku putih di taman rumah sakit. Shin Ri Rin. Gadis yang memiliki nama Ri Rin itu sekarang ini menyandang status sebagai kekasihku. Kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Dia adalah seorang dokter muda. Karena di usianya yang masih menginjak dua puluh dua tahun, ia sudah mampu merebut gelar dokter di spesialis bedah jantung pada sebuah rumah sakit ternama di Seoul.
Ri
Rin sudah tahu mengenai asal-usul keluargaku. Dan ia sama sekali tidak
keberatan karena sekarang ini statusku yang menjadi anak yatim-piatu. Gadis itu
juga sudah mengetahui semua tentang kejadian-kejadian yang belakangan ini
datang menghampiriku seperti tumpahan air bah.
Aku
mengangguk lemah. “Ya. Lagi-lagi aku memimpikannya. Tadi malam tidurku sangat
nyenyak. Namun tiba-tiba, ia datang ke dalam mimpiku dan mengulang
petunjuk-petunjuk yang selama ini telah Mi Ra berikan padaku.”
“Kau
sudah tahu siapa yang membunuh sepupumu itu?” tanyanya.
“Belum.
Aku belum tahu. Mi Ra tidak memberitahu nama pelakunya padaku. Kau tahu? Itu
sangat sulit bagiku.” Sebenarnya, aku sudah tahu nama pelaku yang membunuh Mi
Ra tiga tahun yang lalu itu. Namun aku tidak ingin memberitahukannya pada Ri
Rin sebelum aku benar-benar bertemu dengan orang tersebut.
Ri
Rin menepuk-nepuk pundakku. Terkadang di saat ia sedang sibuk dengan
pekerjaannya, Ri Rin selalu meluangkan waktunya jika aku berkunjung ke rumah
sakit tempat di mana ia bekerja. “Kau yang sabar ya. Pasti semuanya akan ada
jalan keluar.”
“Tapi
yang membuatku tidak tahan adalah, suara teriakan Mi Ra yang selalu
menghantuiku. Entah aku mempunyai indera keenam atau apa, tapi yang jelas, di
mimpiku Mi Ra berteriak histeris karena goresan-goresan pisau tajam yang
menyentuh di setiap permukaan kulitnya. Ia menjerit kesakitan dan meminta
tolong. Aku bisa melihat wajah Mi Ra yang mengerang kesakitan, tapi anehnya aku
tidak bisa melihat dengan jelas orang biadab yang telah membunuhnya itu. Aku
hanya mengingat postur tubuh orang tersebut,” jelasku. Ya, aku mengingat postur
tubuh pembunuh itu.
“Benarkah?”
tanya Ri Rin tak percaya. Bagaimana tidak, aku memang baru menceritakan hal ini
padanya. Tapi, untuk yang satu ini, aku mengatakan sesuai dengan apa yang
terjadi denganku. Memang betul, semalam aku memimpikan Mi Ra yang sedang
disiksa dengan tusukan pisau tajam. Ia menjerit dan berteriak meminta tolong
karena luka yang rasa sakitnya tidak dapat ditahan lagi. Dan pada akhirnya,
luka-luka parah itulah yang kemudian menghilangkan nyawa Mi Ra dan juga janin
yang sedang dikandungnya.
“Yaa,”
jawabku singkat.
Aku
bisa menangkap dari sudut mataku jika Ri Rin sedang memperhatikanku sambil
mengernyitkan dahinya. “Jangan memasang wajah muram seperti itu. Kau terlihat
jelek, tahu tidak?”
Segera
ku tolehkan kepalaku dengan cepat. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu dikala
aku sedang mengalami hal menyedihkan seperti ini? Aku yang bodoh atau memang
gadis ini yang tidak bisa mengerti perasaanku? Memang, setiap kali aku mengadu,
aku tidak begitu yakin kalau gadis ini menanggapi omonganku. Terkadang, ia
malah mencemoohku yang tidak-tidak. Gadis aneh.
“Kenapa
kau malah berkata seperti itu? Aku kan sedang kalut. Kau ini bagaimana,”
sungutku.
Ia
terkekeh. “Habisnya, kau menekuk wajahmu seperti itu. Terlihat kusut. Dan yang
jelas, kau terlihat tidak tampan jika sudah seperti itu.”
“Mwo? Yak! Aku ini sedang mengaduh
padamu, meminta petunjuk dan cara untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kenapa
malah mengataiku jelek? Tidakkah kau tahu bahwa banyak gadis di luar sana yang
begitu tergila-gila denganku? Seharusnya kau bersyukur bisa merebut
perhatianku. Dan lagipula aku heran sendiri, kenapa aku bisa jatuh cinta pada
dokter jelek sepertimu,” kataku balas mengatainya.
Ri
Rin mendelik. “Kau bilang apa tadi? Aku dokter jelek? Yak! Kau tidak tahu ya
bahwa banyak rekan-rekan kerja yang sesama dokter mengemis-ngemis cinta
padaku?”
“Cih.
Mana ada. Gadis serampangan sepertimu dikejar-kejar banyak pria? Mungkin mata
mereka sudah tidak waras lagi.”
“Kalau
begitu, matamu sudah tidak waras lagi,” sahutnya.
Aku
menatapnya dengan tatapan menantang. “Iya. Aku memang sudah tidak waras lagi
penglihatannya. Dan aku tidak tahu kenapa.”
Gadis
itu mendengus. “Menyebalkan!”
**
“Kyuhyun-ah.
Nanti malam kau ada acara? Aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan Kyu Ra.
Kau ingat kan dia siapa?” tanyanya di telephone. Sekarang ini aku tengah duduk
di bangku sebuah kafe yang letaknya persis di pusat kota Seoul. Aku hanya ingin
mendamaikan hati yang rasanya benar-benar tidak keruan ini. Sejak Mi Ra hadir
di mimpiku dan seperti orang yang menghantuiku, aku merasa berubah menjadi
seorang pria yang lemah. Dan hanya Ri Rin lah yang bisa aku andalkan.
“Ya
bisa. Kau mau aku jemput, eo?”
“Boleh.
Kau jemput aku di rumah sakit saja ya. Sepertinya hari ini aku akan lembur. Dan
aku akan mengusahakan cepat untuk menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum waktu
bertemu dengan Kyu Ra tiba.”
Aku
sedikit mengernyit. “Memangnya, kau mau aku jemput jam berapa?”
“Hmmm..
sekitar pukul setengah delapan saja, bagaimana? Kau bisa kan? Aku menjanjikan
bertemu dengan Kyu Ra pukul delapan. Jadi masih ada waktu sekitar tiga puluh
menit bagi kita untuk menghabiskan waktu berdua,” candanya.
Aku
mendengus. “Baiklah. Aku akan menjemputmu jam setengah delapan tepat. Tapi
ingat, jangan sampai terlambat. Jika kau terlambat satu menit saja, maka aku
akan memberikan hukuman padamu. Kau tahu kan konsekuensinya jika terlambat
bertemu denganku?” ancamku.
Aku
bisa mendengar kekehan Ri Rin di seberang sana. “Iya iya. Kau tenang saja. Aku
tidak akan terlambat. Lagipula, aku juga tidak ingin mendapatkan hukuman
darimu. Hukaman itu menguntungkan untukmu tapi tidak berlaku untukku. Kau picik
sekali, Cho Kyuhyun.”
“Aku
tidak peduli.”
**
Sekarang, di sinilah aku dan Ri Rin tengah terduduk,
di dalam Coffee Caffe. Kami sengaja
memilih duduk di dekat jendela besar kafe ini agar bisa melihat suasana di luar
kafe.
Kyu
Ra belum menampakkan batang hidungnya. Tentu. Karena waktu baru menunjukkan
pukul delapan kurang lima menit. Itu tandanya masih ada waktu lima menit yang
tersisa dari waktu pertemuan antara Ri Rin dan Kyu Ra.
Song
Kyu Ra. Gadis yang merupakan sahabat dekat Ri Rin sejak SMP itu baru saja
pulang dari New York, setelah berhasil mendapat gelar sarjana terbaik di
universitas yang terbaik.
Aku
memang baru pertama kali bertemu dengannya. Saat itu, ia mengundang Ri Rin
untuk hadir di acara ulangtahunnya yang ke-20. Dan tentu saja Ri Rin mengajakku
untuk menemaninya sekaligus untuk memperkenalkanku pada Kyu Ra. Setelah itu,
aku tidak pernah bertemu lagi dengan Kyu Ra. Karena, sehari setelah perayaan
ulangtahunnya itu, Kyu Ra langsung terbang ke New York untuk melanjutkan
pendidikannya.
Aku
dan Ri Rin baru memesan cappucino
dengan sedikit hiasan krim di atasnya. Aku dan Ri Rin duduk bersebelahan. Gadis
itu sudah menyesap minumannya sedikit demi sedikit. Sedangkan aku, menyentuhnya
belum sama sekali.
“Kau
tidak ingin meminum minumanmu?” tanya Ri Rin ketika sudah meletakkan gelasnya
di atas meja.
“Belum,
nanti saja. Aku sedang tidak ada gairah untuk meminumnya. Setidaknya untuk saat
ini.”
Ri
Rin hanya mengangkat kedua bahunya.
Tak
lama kemudian, aku bisa menangkap seorang gadis yang tengah menggandeng lengan
seorang pria. Mereka baru saja memasuki kafe ini. Aku menyipitkan mata dan
merasa sangat mengenali sosok itu.
Kedua
orang itu menyapu pandangannya dan
tersenyum ketika mendapati Ri Rin tengah melambai ke arahnya. Pantas aku
mengenali sosok itu. Ternyata itu Kyu Ra.
Kyu
Ra dengan seorang pria itu akhirnya berjalan mendekati tempat di mana aku dan
Ri Rin duduk.
“Maaf.
Kalian sudah menunggu lama, ya?” kata Kyu Ra sambil sedikit membungkukkan
badannya. Diikuti oleh lelaki asing yang belum aku kenal sebelumnya. Namun dari
postur tubuhnya, sepertinya aku sangat mengenali lelaki itu. Tapi di mana?
“Tidak
juga. Duduklah,” suruh Ri Rin. Akhirnya Kyu Ra dan pria itu pun segera
mengambil duduk tepat di hadapan kami.
“Bagaimana
kabarmu?” tanya Kyu Ra sambil mengulurkan tangannya pada Ri Rin.
Gadis
itu menyambutnya dengan senyum sumringah yang menghiasi wajahnya. “Baik. Kau
sendiri?”
Aku
heran. Setahuku, mereka ini teman dekat sewaktu SMP. Sahabat lebih tepatnya.
Tapi kenapa pertemuan pertama ini setelah Kyu Ra kembali dari New York,
terkesan bahwa mereka hanya teman biasa, bukan seorang sahabat? Gadisku itu
memang terkadang berkelakuan aneh.
Kyu
Ra tersenyum. “Baik juga.”
Kedua
gadis itu segera menurunkan tangannya. Dan Kyu Ra beralih menatap ke arahku.
“Kyuhyun? Cho Kyuhyun?” tanyanya menebak. Mungkin ia khawatir salah menyebut
nama karena aku dan ia baru bertemu satu kali. Kalau dengan yang ini, dua kali.
Aku
mengangguk. “Yaa. Otakmu masih bisa diandalkan juga ternyata,” candaku. Kami
pun tergelak. Namun, aku merasa sesuatu menyenggol lenganku. Dan aku yakin Ri
Rin lah yang melakukan itu. Karena sesaat setelah menyenggol lenganku, ia
berkata pelan. “Jaga ucapanmu, bodoh.”
Aku
hanya meringis saja. Sekadar untuk membalas caci makiannya itu. Kenapa aku
mengatakan caci makian? Bagiamana tidak, aku ini pria pintar. Ralat, pria
cerdas. Dulu, aku selalu merebut gelar juara saat masih duduk di bangku
sekolah. Tidak heran, sekarang aku kembali melanjutkan kuliah hanya untuk
mendapat gelar master. Padahal umurku baru dua puluh lima tahun. Hebat, kan?
Bukannya maksudku untuk menyombongkan diri. Tapi, ya inilah kenyataannya.
Kalian jangan iri ya.
Aku
mengalihkan pandangan pada pria yang tengah duduk di samping Kyu Ra. Aku sangat
penasaran dengannya. Aku yakin aku belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya,
mengingat Ri Rin juga tidak pernah bercerita padaku mengenai pria yang dekat
dengan sahabatnya itu. Akan tetapi, aku merasa postur tubuh pria itu tidak
asing lagi bagiku. Aku seperti pernah melihat postur tubuh pria ini. Entahlah.
“Kyu
Ra-ya, siapa yang kau bawa ini?”
tanya Ri Rin. Akhirnya gadis itu mulai bertanya tentang siapa sebenarnya sosok
pria yang sukses membuatku hampir mati karena penasaran. Karena tidak mungkin
jika aku yang menanyakannya.
Kyu
Ra tersenyum. “Perkenalkan, dia kekasih baruku. Lee Sungmin.”
**
Aku sama sekali tidak bisa menyetir mobil dengan
fokus. Seringkali aku melakukan kesalahan yang terlalu fatal. Dan untungnya, Ri
Rin selalu memperingatkanku untuk berhati-hati. Kalau tidak, mungkin saat ini
aku dan Ri Rin sudah terbujur kaku menjadi mayat. Membayangkan hal itu saja
sudah membuatku bergidik ngeri.
Akhirnya
aku tiba di depan rumah Ri Rin. Aku segera memberhentikan mobil, menunggu Ri
Rin untuk segera turun.
“Apa
kau yakin bisa menyetir sendirian? Aku khawatir. Kau bahkan tadi hampir
menabrak pembatas jalan, Kyuhyun-ah.
Menginap di rumahku saja bagaimana?” tawarnya dengan raut wajah khawatir.
Aku
menggeleng, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. “Tidak. Aku harus pulang.”
Ri
Rin segera meletakkan punggung tangannya di keningku. Mungkin ia mengira aku
sakit. “Kau sakit? Wajahmu pucat sekali.”
Lagi.
Aku hanya menggeleng. “Aku baik-baik saja. Kau pulang lah. Hari sudah malam.
Tidak baik kau yang statusnya sebagai seorang gadis malam-malam begini masih
berkeliaran di luar rumah. Aku tidak mau kau sakit. Mana ada seorang dokter
sakit? Cepat turun!” perintahku untuk segera mengalihkan perhatiannya.
Gadis
itu mengerucutkan bibirnya. “Kau menyebalkan.” Kemudian ia pun turun dari
mobilku. Tanpa berpikir panjang, aku segera menginjak gas agar segera tiba di
apartment.
**
Aku berjalan terseok-seok mendekati ranjang tidurku.
Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa penat
yang sukses membuat dadaku sesak. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi.
Aku
sudah menemukan siapa pelaku pembunuhan Mi Ra. Dan aku tidak habis pikir bahwa
pembunuh itu merupakan kekasih sahabat gadisku. Lee Sungmin.
Ya.
Lee Sungmin. Aku tahu karena Mi Ra memberitahukannya padaku saat ia datang ke
dalam mimpiku. Ia mengatakan banyak hal padaku. Hal-hal yang belum aku ketahui
sebelumnya dan pada saat aku mengetahuinya, aku merasa sangat syok dan hampir
gila.
Pria
itu. Pantas saja saat pertama kali ia datang bersama dengan Kyu Ra aku merasa
tidak asing lagi dengan postur tubunya. Ternyata pria itu yang semalam tanpa
permisi datang menganggu tidurku dan memperlihatkan padaku bagaimana ia
menghabisi nyawa Mi Ra.
Aku
heran, pria dengan wajah yang masih seperti anak-anak itu ternyata seorang
pembunuh! Hah, senyumannya saja yang manis, tapi hatinya busuk. Bahkan lebih
busuk dari bangkai binatang sekalipun.
Aku
terduduk di lantai dan menyandarkan punggungku ke sisi tempat tidur. Aku
menekuk lututku dan membenamkan wajah di antara kedua kaki.
“ARGGGHH!!!”
aku mengerang keras. Aku benar-benar bingung harus melakukan apa sekarang ini.
Aku mengangkat wajah
dan entah dari mana asalnya, aku melihat Mi Ra tengah terduduk di hadapanku
saat ini. Ia menggunakan pakaian yang sama persis dengan apa yang dia pakai di
dalam mimpiku. Pakaian gadis itu penuh dengan noda merah yang aku yakini itu
adalah darahnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan kusut dan berantakkan begitu
saja. Aku sama sekali tidak takut. Walau aku tahu, sekarang ini duniaku dan Mi
Ra sudah berbeda, tapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Sekalipun
sepupuku itu muncul di hadapanku dengan wajah yang sudah tidak terbentuk lagi,
aku tidak pernah takut. Karena dia tetaplah Mi Ra-ku. Choi Mi Ra. Seorang gadis
yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri.
“Mi
Ra-ya, apa yang harus aku lakukan?
Aku sudah bertemu dengan orang yang membunuhmu itu,” kataku lirih.
Mi
Ra mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh pipiku. Rasanya dingin. Sangat
dingin. Namun yang aneh, kenapa ia bisa menyentuh permukaan kulitku padahal dia
ini adalah hantu? Seharusnya kan ia tidak pernah bisa menembus kulitku.
“Oppa, mau melakukan sesuatu untukku?”
tanyanya.
“Ya.
Aku akan melakukannya apapun untukmu Mi Ra-ya.
Cepat katakan, apa yang harus aku lakukan.”
“Tapi
aku tidak tega jika harus melihat Oppa
menderita karena melakukan ini.”
Aku
menggeleng cepat. “Tidak. Aku bahkan merasa menderita jika harus membiarkan
pembunuh itu berkeliaran bebas. Apalagi, sekarang ia menjadi kekasih Kyu Ra.
Sahabat Ri Rin, kekasihku. Aku tidak ingin Kyu Ra bernasib sama denganmu. Jadi,
cepat katakan apa yang harus aku lakukan.”
Mi
Ra tersenyum. “Baiklah. Aku akan memberitahukannya.”
**
Sungmin
POV
Aku sedang terduduk santai di sofa empuk berwarna
cokelat muda ini sambil terus menekan-nekan tombol remote televisi mencari
tayangan yang bisa membuat gairahku bertambah. Namun, sejak lima belas menit
yang lalu, tayangan yang muncul hanyalah sebuah tayangan yang sama sekali tidak
berpengaruh untukku. Malah yang ada, membuat mood-ku semakin menurun.
Tiba-tiba
saja, handphone yang tergeletak di atas meja ruang tengah ini bergetar hebat,
menandakan ada panggilan masuk. Aku segera mengambil handphone tersebut dan
mengernyit sesaat ketika mendapati nomor tidak terkenal yang terpampang di
layar berwarna bening itu.
Untuk
menghilangkan rasa penasaran, aku segera menekan tombol terima dan meletakkan
handphone itu di telinga kananku. “Yoboseyo,”
kataku.
“Sungmin-ssi? Bisa keluar rumah sebentar?” tanya
seseorang di seberang.
“Kau
siapa?”
“Buka
saja pintu rumahmu, maka kau akan tahu siapa aku.” Dan setelah itu, hubungan
telephone pun terputus. Aku memandangi layar yang kini sudah menggelap itu.
Karena penasaran dengan si penelphone, aku segera bangkit dari duduk dan menuju
daun pintu untuk mengetahui siapa yang datang ke rumahku dengan cara seperti
ini.
**
“Bagaimana kau tahu rumah dan nomor ponselku,
Kyuhyun-ssi?” tanyaku setelah
mempersilakannya untuk duduk. Ternyata orang yang tadi menelphoneku adalah Cho
Kyuhyun. Pria yang baru saja aku temui kemarin. Ia kekasih sahabat Kyu Ra.
“Itu
bukan masalah yang penting,” jawabnya datar.
“Ada
hal penting?”
“Ada.
Hal yang sangat penting.”
Aku
mengerutkan dahi. Ada apa dengan pria ini? Hal yang sangat penting? Hal apa?
Aku saja baru bertemu dengannya kemarin. Aneh sekali.
Kyuhyun
menatapku tajam seolah ingin memakanku hidup-hidup. “Kau ingat Mi Ra? Choi Mi
Ra?”
Seketika
tubuhku menegang. Astaga! Bagaimana ia bisa tahu tentang Mi Ra?
“Choi
Mi Ra?” ulangku. Aku khawatir telingaku sedang bermasalah.
Kyuhyun
mengangguk dengan tampang tak berekspresi. “Ya. Choi Mi Ra. Orang yang telah
kau bunuh dengan sadisnya tiga tahun yang lalu.”
Sekarang
aku bisa merasakan kalau keringat dingin mengucur membasahi punggungku. Kedua
tanganku yang berada di sisi tubuhku, kini terkepal kuat. Kenapa Kyuhyun bisa
mengetahui peristiwa itu?
“A-apa
maksudmu?” tanyaku tergagap.
Kyuhyun
mendengus lalu menyunggingkan senyuman miring. “Kau pikir aku tidak tahu apa
yang sudah kau lakukan pada gadis itu? Kau telah menghancurkan masa depannya,
Sungmin-ssi. Dan kau sudah menghabisi
nyawanya. Tidakkah kau tahu perbuatanmu itu sangat biadab?”
Aku
menelan ludah dengan susah payah. Napasku tercekat. “Memang, apa hubungannya Mi
Ra denganmu, hah?”
Lagi.
Pria itu tersenyum. “Kau mau tahu? Dia adalah sepupuku. Kau pasti penasaran kan
kenapa aku bisa mengetahui ini semua?”
Aku
terdiam.
“Baiklah.
Aku akan memberitahukannya padamu,” katanya. Ia menghela napas sejenak,
kemudian membuka mulut untuk memberitahukan alasan kenapa ia bisa mengetahui
hal ini. Padahal, aku yakin, saat itu tidak ada satupun orang yang melihatnya.
Lalu, kenapa Kyuhyun bisa mengetahuinya?
“Mi
Ra. Choi Mi Ra. Dia sepupuku. Gadis yang sudah aku anggap sebagai adik
kandungku sendiri. Namun sekarang, ia sudah pergi meninggalkanku untuk
selama-lamanya, pergi menyusul kedua orangtua dan kakak perempuanku yang telah
meninggal.”
“Kau
tahu seberapa hancur perasaan orangtua Mi Ra ketika mengetahui bahwa anak
semata wayangnya meninggal? Mereka sangat hancur! Bahkan bibiku, hampir dibawa
ke rumah sakit jiwa! Itu semua karenamu, Lee Sungmin.”
“Mi
Ra sudah banya bercerita denganku. Semuanya sudah ia ceritakan. Kau tahu? Ia
menceritakan ini semua di dalam mimpi. Hah, kau percaya itu? Ia menceritakannya
di dalam mimpi. Dan asal kau tahu saja, semalam Mi Ra datang menemuiku secara
langsung.”
Aku
sedikit ternganga. Mi Ra menemui Kyuhyun? Bagaimana bisa?
“Aku
harap, kau tidak lupa dengan peristiwa tiga tahun yang lalu itu, Tuan Lee.
Peristiwa di mana kau dengan teganya menghilangkan nyawa Choi Mi Ra!!”
bentaknya.
“Bagaimana
kau bisa tahu?” tanyaku tak percaya.
Kyuhyun
mendengus. “Telingamu sudah tidak berfungsi dengan baik, ya? Aku mengetahui
semuanya karena Mi Ra sendiri yang memberitahukannya langsung padaku, di dalam
mimpi.”
Aku
tertawa, berusaha untuk menghilangkan rasa gugup yang kian menyerangku. “Hah,
mana mungkin hanya di dalam mimpi kau bisa mengetahui semuanya? Kau kira aku
bodoh?”
Pria
itu mencibir. “Dan, kau kira aku hanya bercanda? Untuk apa aku melakukan hal
konyol ini di saat semuanya terasa rumit? Atau kau mau aku memberitahukan
cerita sesungguhnya? Kau mau aku mengulang apa yang dikatakan Mi Ra padaku di
hadapanmu agar kau percaya bahwa gadis itu memang telah memberitahuku?”
Aku
terdiam. Tidak bisa membalas kata-katanya.
Kyuhyun
mengedikkan bahunya. “Baiklah kalau itu yang kau mau.” Ia mulai membuka mulut
dan menceritakan ulang peristiwa tragis tiga tahun yang lalu itu.
“Tiga
tahun lalu. Ketika malam itu, kau sedang mabuk berat karena kau baru saja
ditolak oleh gadis incaranmu. Dan dengan keadaan yang setengah sadar, tiba-tiba
saja kau menarik Mi Ra yang sedang menemani temannya minum karena halusinasimu
mengatakan Mi Ra adalah gadis yang telah menolakmu itu. Lalu kau, membawanya
secara paksa ke sebuah hotel dan memperlakukan hal yang semestinya tidak kau
lakukan hingga membuat gadis itu tidak sadarkan diri.”
“Setelah
peristiwa di hotel itu terjadi, Mi Ra terus mencari-cari informasi mengenai
keberadaanmu, di mana kau tinggal. Dan ketika ia berhasil menemukanmu dan
memberitahukannya bahwa ia telah mengandung anakmu, kau malah seenaknya berkata
tidak akan pernah mau bertanggung jawab.”
Aku
bisa mendengar sarat emosi dari nada bicara Kyuhyun ketika menceritakan
peristiwa itu.
“Mi
Ra terus saja meminta pertanggung jawaban darimu. Namun, kau malah melarikan
diri menuju Amerika. Dan saat itulah Mi Ra meminta izin pada orangtuanya dan
tentu saja aku, untuk pergi ke Amerika. Saat ditanya untuk tujuan apa ia ingin
pergi ke sana, Mi Ra hanya menjawab bahwa ia ingin menemui temannya yang sudah
lebih dari delapan tahun tidak pernah ditemuinya lagi. Aku dan orangtua Mi Ra
hanya percaya saja karena memang gadis itu tidak pernah melakukan kebohongan.
Akhirnya, ia pun pergi ke Amerika. Dan tujuan sebenarnya adalah, menyusul dan
meminta pertanggung jawabanmu.”
“Tapi
sesampainya Mi Ra di sana, dan menemukan keberadaanmu, kau malah
mengabaikannya. Dan...” Kyuhyun berhenti sejenak. Aku tahu, ia pasti merasa
berat untuk melanjutkan kalimatnya. Ia pun menundukkan kepalanya.
“Dan..
kau menghabisi nyawanya saat itu juga,” ungkap Kyuhyun pada akhirnya.
Aku
menatap pria itu tanpa berkedip. Ternyata benar, Mi Ra sudah memberitahukannya.
Semua. Tidak ada yang tertinggal satu pun.
Aku
tidak bergeming sedikit pun. Aku masih tidak percaya bahwa Mi Ra akan
menceritakan itu semua pada sepupunya.
Kyuhyun
mengangkat wajahnya, dan menatapku dingin. “Kau tidak tahu kan seberapa
pentingnya Mi Ra untukku? Seberapa cintanya orangtua gadis itu padanya? Aku
sudah menganggap Mi Ra sebagai adik kandungku sendiri. Walaupun terkadang
tingkahnya masih seperti anak-anak, tapi itu tidak memudarkan rasa sayangku
padanya. Bahkan, ketika duniaku dan dunianya sudah berbeda seperti sekarang
ini, aku masih menyayanginya. Teramat dan sangat.”
Dengan
keberanian, aku segera membuka mulut untuk berbicara kembali dengannya. “Lalu,
apa tujuanmu kemari, hah? Kau hanya ingin memberitahuku bahwa kau sudah
mengetahui semuanya? Begitu? Kalau iya, kau bisa keluar dari rumahku sekarang
juga. Karena ku rasa urusanmu denganku cukup sampai di sini.”
Kyuhyun
berdiri. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dariku. Ia
tersenyum manis. “Kau pernah mendengar kalimat, nyawa haruslah dibayar dengan
nyawa?”
Aku
bangkit berdiri. “Apa yang kau katakan?”
Pria
itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil sesuatu dari balik kemejanya. Dan mataku
seketika membeliak ketika melihat apa yang diambil Kyuhyun. Sebuah pisau yang
berukuran sedang.
Kyuhyun
menggerakkan pisau yang ada di tangannya. Dan aku bisa melihat bahwa pisau
tersebut sangatlah tajam. Mengacu pada ujungnya yang begitu runcing.
“Dengan
benda ini di tanganku, kau sudah tahu kan apa yang akan aku lakukan?” tanyanya
pelan.
Ku
ulurkan tangan, dan menunjuk pria itu dengan telunjukku. “Kau... apa yang akan
kau lakukan?” tanyaku sambil berjalan mundur.
Kyuhyun
mulai mengangkat pisau itu di udara, bersiap untuk menghunuskannya ke arahku.
Ia berjalan mendekatiku, sedangkan aku terus saja melangkah mundur.
“Menghabisi
nyawamu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Kau dengar itu?” ucapnya.
Aku
terus melangkah mundur hingga akhirnya aku tidak bisa melangkahkan kaki untuk
berjalan mundur kembali karena punggungku yang sudah tersudut oleh lemari kayu.
Sial!
“Berhenti.
Jangan mendekat!” perintahku berteriak. Namun sepertinya usahaku sia-sia saja.
Sekarang, jarakku dengan Kyuhyun sudah sangat dekat. Paling-paling hanya tiga
puluh sentimeter.
Kyuhyun
menangkup wajahku dengan sebelah tangannya yang bebas dari benda runcing itu.
“Kau pikir aku akan melakukan apa yang kau perintahkan, huh? Tidak. Sampai aku
membalaskan dendam atas kematian Mi Ra. Kau tahu? Ini Mi Ra yang
menginginkannya.”
Ia
melepaskan tangannya dari wajahku dengan kasar. Aku bisa merasakan jantungku
akan berhenti berdetak sekarang juga tatkala Kyuhyun menempelkan ujung pisau
itu tepat di leherku. “Cho Kyuhyun. Turunkan benda itu. Ku mohon,” kataku
gugup.
Pria
bermarga Cho itu hanya mendengus. “Aku tidak akan pernah menuruti apa yang kau
perintahkan!” bentaknya tepat di depan wajahku. Ia menatapku dengan mata
berkilat marah.
“Kau
tahu?” ujarnya dengan suara yang pelan. “Kelakuanmu itu bahkan lebih biadab
daripada seekor binatang sekalipun.”
Aku
mengangkat kedua tanganku. “Baiklah. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf
atas apa yang telah aku perbuat pada Mi Ra. Tolong, turunkan benda itu. Ku
mohon.”
“Maaf?
Hanya permintaan maaf yang kau katakan? Bahkan itu belum cukup untuk menebus
apa yang telah kau lakukan pada Choi Mi Ra.” Ia semakin menekan ujung pisau
itu. Napasku memburu ketika merasakan perih yang begitu teramat sangat. Dan
benar saja, darah segar sudah mulai mengalir dari leherku. Untung saja Kyuhyun
tidak menekan pisau itu tepat di urat nadi. Kalau iya, sudah ku pastikan aku
tidak bernyawa lagi detik ini juga.
Aku
mendesis. “Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku akan melakukan apa saja
untukmu. Asalkan kau mau memaafkanmu.”
Aku
mengerang ketika tiba-tiba saja Kyuhyun menusukkan pisau itu ke perutku. “Maaf?
Kau seharusnya minta maaf pada kedua orangtua Mi Ra, karena kau lah mereka
hancur!” aku berteriak ketika Kyuhyun melepaskan pisau tersebut dengan gerakan
yang begitu cepat.
Aku
tersungkur ke lantai. Kaus yang ku kenakan kini sudah terkena noda darah.
Kyuhyun
berjongkok. Tersenyum. “Kau tahu? Aku belum puas sebenarnya.”
“AAKKHH!!”
Lagi. Aku mengerang ketika yang kedua kalianya ia menancapkan benda tajam itu
di perutku.
Aku
mengembuskan napas. Napasku begitu tercekat. Tenggorokanku begitu sakit saat ia
kembali melepaskan benda itu dari perutku dengan gerakan yang teramat cepat.
“AAHH!!” aku berteriak ketika Kyuhyun menggores
lenganku dengan pisau yang sudah berlumuran dengan darah itu.
“Kau
mau lagi?” tanyanya. Kini ia menggoreskan pisau itu di dadaku sehingga kausku
sobek begitu saja.
Aku
hanya bisa menahan kesakitan ini ketika Kyuhyun terus menerus menggores dan
menancapkan pisau di setiap anggota tubuhku.
“AHHHH~!!!”
aku berteriak histeris saat benda itu kini menggores pipi kananku.
Kyuhyun
yang melakukan hal ini hanya tertawa puas. “Ini kan yang kau lakukan pada Mi
Ra? Sekarang, kau bisa merasakan apa yang Mi Ra rasakan waktu itu.”
“MATI
KAU!” ucapnya sambil menancapkan pisau itu ke perutku lagi. Kini tangan Kyuhyun
sudah berlumuran darah. Bahkan kemejanya pun sudah terkena cipratan darahku.
Kini, lantai rumahku sudah terkotori oleh darahku sendiri.
Mataku
terasa semakin berat. “Aku tahu. Inilah yang Mi Ra rasakan kala itu,” ucapku
lemah.
“Baguslah
kalau kau sudah tahu,” balas Kyuhyun santai.
“Tolong.
Hentikan. Aku sudah tidak kuat lagi,” titahku sambil mengerang sakit.
Kyuhyun
mengangguk-angguk. “Aku akan menghentikannya. Tapi, aku akan memberikanmu bonus
tambahan. Selamat menikmati.” Napasku berhenti saat itu juga ketika Kyuhyun
menancapkan pisau itu tepat di jantungku.
Pria
itu bangkit berdiri. Pandanganku sudah semakin kabur.
“Akhirnya,
kau merasakan apa yang Mi Ra rasakan. Aku sangat puas, kau tahu? Itulah bayaran
yang setimpal untuk manusia bedebah sepertimu, Tuan Lee.”
Aku
masih terus berusaha terjaga. “Selamat menempuh perjalanan baru.” Kyuhyun
melempar pisau yang sudah berlumur darah itu ke dekatku. Aku hanya bisa melihat
sekelebat bahwa ia tersenyum senang. Kyuhyun lalu pergi keluar rumahku. Dan
saat itulah, aku benar-benar tidak dapat membuka mata lagi.
**
Ri
Rin POV
Sekarang, aku sedang berada di kantor polisi,
tepatnya di ruang tunggu. Setelah pekerjaanku di rumah sakit selesai, aku
langsung bergegas menuju kantor polisi untuk menjenguk Kyuhyun.
Ya.
Pria itu ditahan karena kasus pembunuhan pada seorang Lee Sungmin, kekasih Kyu
Ra. Aku tidak habis pikir ternyata orang yang membunuh Mi Ra adalah Sungmin.
Dan aku benar-benar tidak bisa mengetahui bagaimana jalan pikiran Kyuhyun
sehingga pria itu melakukan hal keji seperti ini.
Sungmin
ditemukan tewas oleh seorang tukang kebun yang bekerja di rumahnya. Ketika itu,
tukang kebun yang usianya sudah melebihi angka 50tahunan menemukan Sungmin
sudah terkapar tidak bernyawa di ruang tengah dengan darah yang sudah
berceceran di mana-mana. Tukang kebun itu lantas langsung menelphone kepolisian
dan melaporkan apa yang terjadi pada majikannya itu.
Beberapa
menit kemudian, para petugas kepolisian datang di kediaman Sungmin dan langsung
mengurus peristiwa yang dialami pria bermarga Lee itu. Dan pada saat sedang
melakukan evakuasi, salah seorang dari anggota kepolisian menemukan pisau yang
diduga digunakan si pelaku untuk menghabisi nyawa Sungmin. Dan benar saja,
dengan adanya pisau tersebut, polisi dengan sangat mudah menemukan pelaku
karena sidik jari yang ada di benda runcing itu mengacu pada satu orang. Dan
orang tersebut adalah Kyuhyun.
Entah
pria itu yang bodoh atau bagaimana, bisa-bisanya ia meninggalkan benda yang
diperkuat untuk menjadi barang bukti itu begitu saja? Tidakkah itu sama dengan
menjebloskan diri sendiri ke dalam penjara?
Sudah
satu bulan sejak hari penahanan Kyuhyun. Pria itu mendapatkan hukuman lima
tahun penjara atas tindakan pembunuhannya tersebut. Aku sama sekali tidak
mempermasalahkan berapa lama kekasihku itu akan ditahan. Aku hanya
mengkhawatirkan keadaan dan kondisinya. Hanya itu. Aku sangat tahu, pria itu
mudah sekali terserang penyakit. Jadi, aku benar-benar takut akan hal itu.
Aku
tersadar dari lamunanku ketika Kyuhyun sudah datang. Dia duduk di kursi yang
telah disediakan.
Aku
menghela napas. Selama beberapa tahun ke depan, aku hanya bisa melihat Kyuhyun
dengan cara seperti ini. Kami terhalangi oleh kaca bening besar, yang menjadi
pembatas antara pengunjung dan tersangka. Oh, haruskah aku menyebut Kyuhyun
sebagai tersangka?
Ia
menatapku tanpa ekspresi. Aku bisa melihat kantung hitam di bawah lipatan
matanya. Ya Tuhan Cho Kyuhyun, kau melakukan apa saja di dalam sana hingga
seperti ini?
“Hai.
Bagaimana kabarmu?” tanyaku memulai percakapan. Sejujurnya, aku tidak tega
melihat Kyuhyun seperti ini. Aku berusaha sekuat tenaga agar air mata ini tidak
tumpah karena aku merasa mataku mulai memanas.
Kyuhyun
hanya tersenyum tipis. “Kenapa kau masih mau menjengukku? Bukankah aku ini
seorang pembunuh?” ucapnya yang sukses membuatku sesak.
“Kau
memang seorang pembunuh. Tapi itu bukan alasan bagiku untuk tidak menjengukmu,
kan?” sahutku.
“Kalau
kau ingin mengakhiri hubungan denganku, lakukan sekarang juga,” katanya.
Aku
membulatkan mata tidak percaya. Bisa-bisanya Kyuhyun berkata seperti itu. “Apa
maksudmu, huh?”
Pria
itu menatapku tepat di manik mata. “Ri Rin-ah,
aku ini sekarang sudah menjadi seorang pembunuh. Apa kau tidak malu mempunyai
kekasih seorang pembunuh sepertiku? Kau seorang dokter. Aku tidak bisa
membayangkan bagaimana caci-makian yang kau dapatkan dari orang lain karenaku.”
Aku
menggeleng cepat. “Tutup mulutmu atau aku akan membunuhmu jika kau mengatakan
hal itu lagi.”
“Kalau
begitu, bunuh saja aku,” katanya santai.
Aku
menatap Kyuhyun dengan iba. Aku tahu, ia pasti merasa bersalah padaku dengan
apa yang telah diperbuatnya itu. Tapi aku sama sekali tidak marah padanya.
Kecewa pun tidak. Aku sangat tahu bahwa Kyuhyun sangat menyayangi Mi Ra. Maka
dari itu, aku tidak heran jika pria itu dengan beraninya membalaskan kematian
Mi Ra pada Sungmin.
Aku
menghela napas. “Dengarkan aku. Kau tidak pantas berkata seperti itu lagi. Aku
tahu kau seorang pembunuh, tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu.”
“Lalu
bagaimana dengan orangtuamu? Sekarang ini aku yakin kalau mereka akan menentang
hubungan kita. Mereka tidak akan mau memiliki menantu sepertiku. Seorang
pembunuh. Dan jika aku sudah terbebas, aku akan dicap sebagai bekas narapidana.
Apa kau mau menyandang status sebagai isteri seorang bekas narapidana?”
tanyanya sendu.
Tidak
dapat yang aku lakukan selain tersenyum padanya. “Siapa bilang orangtuaku kini
menentang hubungan kita? Mereka masih merestui hubungan kita, Kyuhyun-ah. Aku sudah menceritakan semuanya
pada mereka. Mulai dari Mi Ra yang sudah kau anggap sebagai adik sendiri,
sampai peristiwa pembunuhan itu terjadi. Sebenarnya mereka kecewa, tapi itu
tidak menjadi masalah besar. Dan mereka masih menginginkanmu menjadi
menantunya.”
Akhirnya
aku bisa melihat Kyuhyun tersenyum bahagia. “Benarkah? Yah, aku tahu aku sudah
mengecewakan mereka. Sampaikan permohonan maafku pada mereka ya?”
“Aku
tidak mau. Kau harus meminta maaf pada mereka saat kau sudah bebas dari
penjara. Dan di saat yang bersamaan pula, kau harus meminta izin dari mereka
untuk melamarku. Bagaimana?” tawarku.
Kyuhyun
bersiul. “Kau ingin cepat-cepat menikah denganku ya? Oke, itu bukan masalah
yang sulit bagiku. Tenang saja, saat aku bebas dari sini, aku akan langsung
meminta restu orangtuamu agar mengizinkanku mengubah margamu menjadi Cho. Kalau
saat itu mereka berubah pikiran dan tidak setuju, dengan terpaksa aku akan
membawa kau lari dari mereka. Bagaimana?”
Aku
tertawa. “Aku terima.”
Tiba-tiba
suasana menjadi sunyi. “Bagaimana dengan Kyu Ra? Aku merasa bersalah padanya.
Hubunganmu dengan Kyu Ra pasti berantakan kan setelah aku membunuh Sungmin?”
tanya Kyuhyun.
“Setelah
mengetahui bahwa kau yang telah membunuh Sungmin, Kyu Ra memang sangat emosi.
Bahkan ia tidak mau bertemu dan berbicara denganku selama satu minggu. Tapi aku
tetap berusaha mencairkan hatinya. Setelah itu, aku menceritakan semuanya. Dan
pada akhirnya, ia pun menerima dengan ikhlas apa yang sudah terjadi,” jawabku.
“Aku
benar-benar minta maaf dengan Kyu Ra,” ucap Kyuhyun.
“Tenang
saja. Sekarang, ia sudah tidak marah lagi padamu. Dia justru berterimakasih.
Karena kalau kau tidak melakukan hal itu, mungkin sampai mereka menikahpun Kyu
Ra tidak akan pernah tahu kalau Sungmin adalah seorang pembunuh. Sejujurnya, ia
merasa terbantu dengan kejadian ini. Gadis yang aneh,” komentarku.
“Ri
Rin-ah aku ingin meminta maaf
padamu,” ujarnya yang membuat aku mengernyit bingung.
“Untuk?”
“Saat
itu aku mengatakan bahwa aku belum tahu nama pelaku yang membunuh Mi Ra.
Padahal, aku sudah tahu sejak lama. Aku hanya tidak ingin memberitahukanmu
sebelum aku menemukan orang itu. Mianhae.”
“Tidak apa-apa.
Itu bukan masalah yang besar.”
“Tuan
Cho Kyuhyun, waktu berkunjung anda telah habis,” kata seorang anggota
kepolisian menghampiri Kyuhyun.
Kyuhyun
memalingkan sejenak pada petugas itu, dan beralih menatapku lagi. “Waktuku
sudah habis. Maukah kau menungguku beberapa tahun ke depan?”
Aku
mengangguk mantap. “Tentu. Bahkan jika itu sampai memakan waktu seribu tahun
pun, aku akan menunggu.”
Kyuhyun
mendengus. “Cih. Gombalanmu terlalu berlebihan.” Kemudian ia berdiri. Dan
petugas itu segera memegangi lengan Kyuhyun dan bersedia untuk segera
menggiring Kyuhyun kembali ke jeruji besi.
Aku
ikut berdiri. “Bukan urusanmu. Baik-baik ya di dalam. Jangan nakal, eo?”
pesanku yang membuatnya terkekeh.
“Yap!”
Ia pun segera berjalan meninggalkanku. Saat sedang berjalan ia menengok ke
belakang dan menggerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara, mengatakan, “Saranghae.”
Aku
tersenyum. “Nado.”
**
Five years later...
Aku sedang duduk di sebuah bangku taman. Di akhir
pekan ini, taman bermain cukup ramai dikunjungi oleh orang-orang. Sebelum
datang ke tempat ini, aku mampir sebentar di sebuah coffee shop untuk membeli
satu cup moccacino ice. Rasanya aku benar-benar haus. Dan, minuman inilah yang
perlahan-lahan mulai menghilangka rasa dahagaku yang begitu memuncak.
Di
penghujung musim panas ini, daun-daun yang bertengger di ranting pohon sudah
mulai ada yang menguning, bahkan sudah ada beberapa yang berguguran jatuh ke
tanah dan tertiup angin yang datang.
Ini
sudah lima tahun sejak Kyuhyun masuk penjara. Aku tidak tahu kapan pastinya
pria itu akan keluar dari jeruji besi. Pria itu tidak mau memberitahukannya padaku.
Bahkan, petugas kepolisian pun seperti tidak bersedia membuka mulut sekadar
untuk menjawab pertanyaanku.
Aku
menyesap minuman yang ada di tanganku. Rasanya benar-benar dingin.
Tiba-tiba
aku terlonjak kaget karena seseorang melingkarkan kedua tangannya di leherku
dari arah belakang. Aku menoleh dan ternganga ketika mengetahui siapa yang
datang.
“Yak!
Kau?” tanyaku tak percaya.
“Aku
merindukanmu,” sahutnya yang sedetik kemudian mengecup pipiku singkat.
“Lepaskan!
Kau kenapa bisa ada di sini, huh?” tanyaku polos.
Kyuhyun.
Pria itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku seperti hantu. Ia mengerucutkan
bibirnya dan segera melepaskan tangannya dari leherku. Pria itu berjalan
memutari kursi yang tengah ku duduki, kemudian mendudukkan tubuhnya di
sampingku.
“Kau
tidak tahu ini sudah tahun keberapa aku dipenjara, huh?” sungutnya.
“Aku
tahu. Tapi kau kan tidak pernah mau menjawab jika aku bertanya,” kini aku
berbalik protes padanya.
Pria
itu terkikik. “Aku sengaja melakukan itu. Karena aku ingin memberikan kejutan
untukmu.”
Aku
menyipitkan mata. “Jangan bilang para polisi itu bekerjasama denganmu untuk
tidak memberitahuku?” todongku.
Kyuhyun
mengedipkan sebelah matanya. “Kau benar. Aku sengaja menyuruh para polisi itu
untuk tutup mulut jika kau bertanya kapan aku keluar dari penjara. Dan
ternyata, mereka bisa juga aku andalkan untuk diajak bekerjasama.”
“Cih.
Dasar licik,” cemoohku.
Kyuhyun
menarikku agar berdiri. “Ayo kita ke rumahmu. Aku akan meminta izin pada mereka
untuk menikahimu.”
Aku
menahan gerakan Kyuhyun. “Tunggu dulu. Dari mana kau tahu aku ada di sini?”
tanyaku penasaran.
“Biasa.
Insting cinta,” jawabnya santai.
“Hah?”
dengusku. “Bicaramu terdengar konyol.”
Kyuhyun
mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku kilat. “Walaupun begitu, kau tetap
mencintaiku kan?” tanyanya setelah menjauhkan wajahnya.
Aku
memukul lengannya. “Yak! Kau tidak tahu ini tempat apa? Tempat umum bodoh.”
Pria
itu hanya mengangkat bahunya santai. “Aku tidak peduli. Ayo cepat, aku tidak
sabar untuk bertemu mereka.” Ia pun menarikku menuju mobilnya. Sedangkan aku
hanya pasrah mengikuti langkah kakinya itu.
Yap!
Sepertinya sebentar lagi aku akan merubah margaku menjadi Cho, hihihi. Kalian
mau datang ke pernikahanku? Baiklah, tunggu undangan kami tiba di tempat kalian
yaaaaa~~~~
The
End
Sementara itu di tempat yang lain....
“Aku sangat berterimakasih padamu, Kyuhyun oppa. Kau rela dipenjara karena
bersedia membantuku membalaskan dendam pada pria itu. Aku berharap, hubunganmu
dengan kekasihmu itu akan selalu berjalan dengan lancar. Dan aku berdoa, kalian
cepat menikah dan diberikan keturunan yang cantik dan tampan. Doaku selalu
menyertai kalian berdua.”
~~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar