Kamis, 24 April 2014

THE SCREAM



Happy Reading ^^

Kyuhyun POV
“TIDAAAKKKK...” Aku terbangun dari tidur nyenyakku karena mimpi itu lagi. Napasku begitu terengah-engah. Keringat dingin pun mengucur dari kening dan pelipisku. Mimpi itu. Mimpi itu datang lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya dia hadir di mimpiku. Memberitahukanku tentang sesuatu yang mungkin orang lain tidak mengetahuinya.
            Aku meremas sprei yang membungkus kasur single size milikku ini. Rasanya aku ingin menangis jika melihat penampilannya di dalam mimpi-mimpiku. Dia. Orang yang sangat aku sayangi. Orang yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri karena aku sudah tidak punya keluarga lagi. Kedua orangtua dan kakak perempuanku telah meninggal dalam peristiwa kecelakaan pesawat saat aku berusia delapan tahun. Maka dari itu, sejak usia delapan tahun sampai sekarang ini, aku hanya dekat dengan keluarga bibi. Adik dari ayahku. Dan bibiku itu mempunyai seorang anak perempuan tunggal yang sudah mendeklarasikan bahwa ia bersedia menjadi adikku. Dia. Choi Mi Ra. Gadis yang selalu hadir di dalam mimpiku.
**

“Kau memimpikannya lagi?” tanya Ri Rin. Sekarang aku dan Ri Rin tengah terduduk di sebuah bangku putih di taman rumah sakit. Shin Ri Rin. Gadis yang memiliki nama Ri Rin itu sekarang ini menyandang status sebagai kekasihku. Kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Dia adalah seorang dokter muda. Karena di usianya yang masih menginjak dua puluh dua tahun, ia sudah mampu merebut gelar dokter di spesialis bedah jantung pada sebuah rumah sakit ternama di Seoul.
            Ri Rin sudah tahu mengenai asal-usul keluargaku. Dan ia sama sekali tidak keberatan karena sekarang ini statusku yang menjadi anak yatim-piatu. Gadis itu juga sudah mengetahui semua tentang kejadian-kejadian yang belakangan ini datang menghampiriku seperti tumpahan air bah.
            Aku mengangguk lemah. “Ya. Lagi-lagi aku memimpikannya. Tadi malam tidurku sangat nyenyak. Namun tiba-tiba, ia datang ke dalam mimpiku dan mengulang petunjuk-petunjuk yang selama ini telah Mi Ra berikan padaku.”
            “Kau sudah tahu siapa yang membunuh sepupumu itu?” tanyanya.
            “Belum. Aku belum tahu. Mi Ra tidak memberitahu nama pelakunya padaku. Kau tahu? Itu sangat sulit bagiku.” Sebenarnya, aku sudah tahu nama pelaku yang membunuh Mi Ra tiga tahun yang lalu itu. Namun aku tidak ingin memberitahukannya pada Ri Rin sebelum aku benar-benar bertemu dengan orang tersebut.
            Ri Rin menepuk-nepuk pundakku. Terkadang di saat ia sedang sibuk dengan pekerjaannya, Ri Rin selalu meluangkan waktunya jika aku berkunjung ke rumah sakit tempat di mana ia bekerja. “Kau yang sabar ya. Pasti semuanya akan ada jalan keluar.”
            “Tapi yang membuatku tidak tahan adalah, suara teriakan Mi Ra yang selalu menghantuiku. Entah aku mempunyai indera keenam atau apa, tapi yang jelas, di mimpiku Mi Ra berteriak histeris karena goresan-goresan pisau tajam yang menyentuh di setiap permukaan kulitnya. Ia menjerit kesakitan dan meminta tolong. Aku bisa melihat wajah Mi Ra yang mengerang kesakitan, tapi anehnya aku tidak bisa melihat dengan jelas orang biadab yang telah membunuhnya itu. Aku hanya mengingat postur tubuh orang tersebut,” jelasku. Ya, aku mengingat postur tubuh pembunuh itu.
            “Benarkah?” tanya Ri Rin tak percaya. Bagaimana tidak, aku memang baru menceritakan hal ini padanya. Tapi, untuk yang satu ini, aku mengatakan sesuai dengan apa yang terjadi denganku. Memang betul, semalam aku memimpikan Mi Ra yang sedang disiksa dengan tusukan pisau tajam. Ia menjerit dan berteriak meminta tolong karena luka yang rasa sakitnya tidak dapat ditahan lagi. Dan pada akhirnya, luka-luka parah itulah yang kemudian menghilangkan nyawa Mi Ra dan juga janin yang sedang dikandungnya.
            “Yaa,” jawabku singkat.
            Aku bisa menangkap dari sudut mataku jika Ri Rin sedang memperhatikanku sambil mengernyitkan dahinya. “Jangan memasang wajah muram seperti itu. Kau terlihat jelek, tahu tidak?”
            Segera ku tolehkan kepalaku dengan cepat. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu dikala aku sedang mengalami hal menyedihkan seperti ini? Aku yang bodoh atau memang gadis ini yang tidak bisa mengerti perasaanku? Memang, setiap kali aku mengadu, aku tidak begitu yakin kalau gadis ini menanggapi omonganku. Terkadang, ia malah mencemoohku yang tidak-tidak. Gadis aneh.
            “Kenapa kau malah berkata seperti itu? Aku kan sedang kalut. Kau ini bagaimana,” sungutku.
            Ia terkekeh. “Habisnya, kau menekuk wajahmu seperti itu. Terlihat kusut. Dan yang jelas, kau terlihat tidak tampan jika sudah seperti itu.”
            Mwo? Yak! Aku ini sedang mengaduh padamu, meminta petunjuk dan cara untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kenapa malah mengataiku jelek? Tidakkah kau tahu bahwa banyak gadis di luar sana yang begitu tergila-gila denganku? Seharusnya kau bersyukur bisa merebut perhatianku. Dan lagipula aku heran sendiri, kenapa aku bisa jatuh cinta pada dokter jelek sepertimu,” kataku balas mengatainya.
            Ri Rin mendelik. “Kau bilang apa tadi? Aku dokter jelek? Yak! Kau tidak tahu ya bahwa banyak rekan-rekan kerja yang sesama dokter mengemis-ngemis cinta padaku?”
            “Cih. Mana ada. Gadis serampangan sepertimu dikejar-kejar banyak pria? Mungkin mata mereka sudah tidak waras lagi.”
            “Kalau begitu, matamu sudah tidak waras lagi,” sahutnya.
            Aku menatapnya dengan tatapan menantang. “Iya. Aku memang sudah tidak waras lagi penglihatannya. Dan aku tidak tahu kenapa.”
            Gadis itu mendengus. “Menyebalkan!”
**
“Kyuhyun-ah. Nanti malam kau ada acara? Aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan Kyu Ra. Kau ingat kan dia siapa?” tanyanya di telephone. Sekarang ini aku tengah duduk di bangku sebuah kafe yang letaknya persis di pusat kota Seoul. Aku hanya ingin mendamaikan hati yang rasanya benar-benar tidak keruan ini. Sejak Mi Ra hadir di mimpiku dan seperti orang yang menghantuiku, aku merasa berubah menjadi seorang pria yang lemah. Dan hanya Ri Rin lah yang bisa aku andalkan.
            “Ya bisa. Kau mau aku jemput, eo?”
            “Boleh. Kau jemput aku di rumah sakit saja ya. Sepertinya hari ini aku akan lembur. Dan aku akan mengusahakan cepat untuk menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum waktu bertemu dengan Kyu Ra tiba.”
            Aku sedikit mengernyit. “Memangnya, kau mau aku jemput jam berapa?”
            “Hmmm.. sekitar pukul setengah delapan saja, bagaimana? Kau bisa kan? Aku menjanjikan bertemu dengan Kyu Ra pukul delapan. Jadi masih ada waktu sekitar tiga puluh menit bagi kita untuk menghabiskan waktu berdua,” candanya.
            Aku mendengus. “Baiklah. Aku akan menjemputmu jam setengah delapan tepat. Tapi ingat, jangan sampai terlambat. Jika kau terlambat satu menit saja, maka aku akan memberikan hukuman padamu. Kau tahu kan konsekuensinya jika terlambat bertemu denganku?” ancamku.
            Aku bisa mendengar kekehan Ri Rin di seberang sana. “Iya iya. Kau tenang saja. Aku tidak akan terlambat. Lagipula, aku juga tidak ingin mendapatkan hukuman darimu. Hukaman itu menguntungkan untukmu tapi tidak berlaku untukku. Kau picik sekali, Cho Kyuhyun.”
            “Aku tidak peduli.”
**
Sekarang, di sinilah aku dan Ri Rin tengah terduduk, di dalam Coffee Caffe. Kami sengaja memilih duduk di dekat jendela besar kafe ini agar bisa melihat suasana di luar kafe.
            Kyu Ra belum menampakkan batang hidungnya. Tentu. Karena waktu baru menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. Itu tandanya masih ada waktu lima menit yang tersisa dari waktu pertemuan antara Ri Rin dan Kyu Ra.
            Song Kyu Ra. Gadis yang merupakan sahabat dekat Ri Rin sejak SMP itu baru saja pulang dari New York, setelah berhasil mendapat gelar sarjana terbaik di universitas yang terbaik.
            Aku memang baru pertama kali bertemu dengannya. Saat itu, ia mengundang Ri Rin untuk hadir di acara ulangtahunnya yang ke-20. Dan tentu saja Ri Rin mengajakku untuk menemaninya sekaligus untuk memperkenalkanku pada Kyu Ra. Setelah itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Kyu Ra. Karena, sehari setelah perayaan ulangtahunnya itu, Kyu Ra langsung terbang ke New York untuk melanjutkan pendidikannya.
            Aku dan Ri Rin baru memesan cappucino dengan sedikit hiasan krim di atasnya. Aku dan Ri Rin duduk bersebelahan. Gadis itu sudah menyesap minumannya sedikit demi sedikit. Sedangkan aku, menyentuhnya belum sama sekali.
            “Kau tidak ingin meminum minumanmu?” tanya Ri Rin ketika sudah meletakkan gelasnya di atas meja.
            “Belum, nanti saja. Aku sedang tidak ada gairah untuk meminumnya. Setidaknya untuk saat ini.”
            Ri Rin hanya mengangkat kedua bahunya.
            Tak lama kemudian, aku bisa menangkap seorang gadis yang tengah menggandeng lengan seorang pria. Mereka baru saja memasuki kafe ini. Aku menyipitkan mata dan merasa sangat mengenali sosok itu.
            Kedua orang itu menyapu pandangannya  dan tersenyum ketika mendapati Ri Rin tengah melambai ke arahnya. Pantas aku mengenali sosok itu. Ternyata itu Kyu Ra.
            Kyu Ra dengan seorang pria itu akhirnya berjalan mendekati tempat di mana aku dan Ri Rin duduk.
            “Maaf. Kalian sudah menunggu lama, ya?” kata Kyu Ra sambil sedikit membungkukkan badannya. Diikuti oleh lelaki asing yang belum aku kenal sebelumnya. Namun dari postur tubuhnya, sepertinya aku sangat mengenali lelaki itu. Tapi di mana?
            “Tidak juga. Duduklah,” suruh Ri Rin. Akhirnya Kyu Ra dan pria itu pun segera mengambil duduk tepat di hadapan kami.
            “Bagaimana kabarmu?” tanya Kyu Ra sambil mengulurkan tangannya pada Ri Rin.
            Gadis itu menyambutnya dengan senyum sumringah yang menghiasi wajahnya. “Baik. Kau sendiri?”
            Aku heran. Setahuku, mereka ini teman dekat sewaktu SMP. Sahabat lebih tepatnya. Tapi kenapa pertemuan pertama ini setelah Kyu Ra kembali dari New York, terkesan bahwa mereka hanya teman biasa, bukan seorang sahabat? Gadisku itu memang terkadang berkelakuan aneh.
            Kyu Ra tersenyum. “Baik juga.”
            Kedua gadis itu segera menurunkan tangannya. Dan Kyu Ra beralih menatap ke arahku. “Kyuhyun? Cho Kyuhyun?” tanyanya menebak. Mungkin ia khawatir salah menyebut nama karena aku dan ia baru bertemu satu kali. Kalau dengan yang ini, dua kali.
            Aku mengangguk. “Yaa. Otakmu masih bisa diandalkan juga ternyata,” candaku. Kami pun tergelak. Namun, aku merasa sesuatu menyenggol lenganku. Dan aku yakin Ri Rin lah yang melakukan itu. Karena sesaat setelah menyenggol lenganku, ia berkata pelan. “Jaga ucapanmu, bodoh.”
            Aku hanya meringis saja. Sekadar untuk membalas caci makiannya itu. Kenapa aku mengatakan caci makian? Bagiamana tidak, aku ini pria pintar. Ralat, pria cerdas. Dulu, aku selalu merebut gelar juara saat masih duduk di bangku sekolah. Tidak heran, sekarang aku kembali melanjutkan kuliah hanya untuk mendapat gelar master. Padahal umurku baru dua puluh lima tahun. Hebat, kan? Bukannya maksudku untuk menyombongkan diri. Tapi, ya inilah kenyataannya. Kalian jangan iri ya.
            Aku mengalihkan pandangan pada pria yang tengah duduk di samping Kyu Ra. Aku sangat penasaran dengannya. Aku yakin aku belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, mengingat Ri Rin juga tidak pernah bercerita padaku mengenai pria yang dekat dengan sahabatnya itu. Akan tetapi, aku merasa postur tubuh pria itu tidak asing lagi bagiku. Aku seperti pernah melihat postur tubuh pria ini. Entahlah.
            “Kyu Ra-ya, siapa yang kau bawa ini?” tanya Ri Rin. Akhirnya gadis itu mulai bertanya tentang siapa sebenarnya sosok pria yang sukses membuatku hampir mati karena penasaran. Karena tidak mungkin jika aku yang menanyakannya.
            Kyu Ra tersenyum. “Perkenalkan, dia kekasih baruku. Lee Sungmin.”
**
Aku sama sekali tidak bisa menyetir mobil dengan fokus. Seringkali aku melakukan kesalahan yang terlalu fatal. Dan untungnya, Ri Rin selalu memperingatkanku untuk berhati-hati. Kalau tidak, mungkin saat ini aku dan Ri Rin sudah terbujur kaku menjadi mayat. Membayangkan hal itu saja sudah membuatku bergidik ngeri.
            Akhirnya aku tiba di depan rumah Ri Rin. Aku segera memberhentikan mobil, menunggu Ri Rin untuk segera turun.
            “Apa kau yakin bisa menyetir sendirian? Aku khawatir. Kau bahkan tadi hampir menabrak pembatas jalan, Kyuhyun-ah. Menginap di rumahku saja bagaimana?” tawarnya dengan raut wajah khawatir.
            Aku menggeleng, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. “Tidak. Aku harus pulang.”
            Ri Rin segera meletakkan punggung tangannya di keningku. Mungkin ia mengira aku sakit. “Kau sakit? Wajahmu pucat sekali.”
            Lagi. Aku hanya menggeleng. “Aku baik-baik saja. Kau pulang lah. Hari sudah malam. Tidak baik kau yang statusnya sebagai seorang gadis malam-malam begini masih berkeliaran di luar rumah. Aku tidak mau kau sakit. Mana ada seorang dokter sakit? Cepat turun!” perintahku untuk segera mengalihkan perhatiannya.
            Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Kau menyebalkan.” Kemudian ia pun turun dari mobilku. Tanpa berpikir panjang, aku segera menginjak gas agar segera tiba di apartment.
**
Aku berjalan terseok-seok mendekati ranjang tidurku. Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa penat yang sukses membuat dadaku sesak. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi.
            Aku sudah menemukan siapa pelaku pembunuhan Mi Ra. Dan aku tidak habis pikir bahwa pembunuh itu merupakan kekasih sahabat gadisku. Lee Sungmin.
            Ya. Lee Sungmin. Aku tahu karena Mi Ra memberitahukannya padaku saat ia datang ke dalam mimpiku. Ia mengatakan banyak hal padaku. Hal-hal yang belum aku ketahui sebelumnya dan pada saat aku mengetahuinya, aku merasa sangat syok dan hampir gila.
            Pria itu. Pantas saja saat pertama kali ia datang bersama dengan Kyu Ra aku merasa tidak asing lagi dengan postur tubunya. Ternyata pria itu yang semalam tanpa permisi datang menganggu tidurku dan memperlihatkan padaku bagaimana ia menghabisi nyawa Mi Ra.
            Aku heran, pria dengan wajah yang masih seperti anak-anak itu ternyata seorang pembunuh! Hah, senyumannya saja yang manis, tapi hatinya busuk. Bahkan lebih busuk dari bangkai binatang sekalipun.
            Aku terduduk di lantai dan menyandarkan punggungku ke sisi tempat tidur. Aku menekuk lututku dan membenamkan wajah di antara kedua kaki.
            “ARGGGHH!!!” aku mengerang keras. Aku benar-benar bingung harus melakukan apa sekarang ini.
Aku mengangkat wajah dan entah dari mana asalnya, aku melihat Mi Ra tengah terduduk di hadapanku saat ini. Ia menggunakan pakaian yang sama persis dengan apa yang dia pakai di dalam mimpiku. Pakaian gadis itu penuh dengan noda merah yang aku yakini itu adalah darahnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan kusut dan berantakkan begitu saja. Aku sama sekali tidak takut. Walau aku tahu, sekarang ini duniaku dan Mi Ra sudah berbeda, tapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Sekalipun sepupuku itu muncul di hadapanku dengan wajah yang sudah tidak terbentuk lagi, aku tidak pernah takut. Karena dia tetaplah Mi Ra-ku. Choi Mi Ra. Seorang gadis yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri.
            “Mi Ra-ya, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah bertemu dengan orang yang membunuhmu itu,” kataku lirih.
            Mi Ra mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh pipiku. Rasanya dingin. Sangat dingin. Namun yang aneh, kenapa ia bisa menyentuh permukaan kulitku padahal dia ini adalah hantu? Seharusnya kan ia tidak pernah bisa menembus kulitku.
            Oppa, mau melakukan sesuatu untukku?” tanyanya.
            “Ya. Aku akan melakukannya apapun untukmu Mi Ra-ya. Cepat katakan, apa yang harus aku lakukan.”
            “Tapi aku tidak tega jika harus melihat Oppa menderita karena melakukan ini.”
            Aku menggeleng cepat. “Tidak. Aku bahkan merasa menderita jika harus membiarkan pembunuh itu berkeliaran bebas. Apalagi, sekarang ia menjadi kekasih Kyu Ra. Sahabat Ri Rin, kekasihku. Aku tidak ingin Kyu Ra bernasib sama denganmu. Jadi, cepat katakan apa yang harus aku lakukan.”
            Mi Ra tersenyum. “Baiklah. Aku akan memberitahukannya.”
**
Sungmin POV
Aku sedang terduduk santai di sofa empuk berwarna cokelat muda ini sambil terus menekan-nekan tombol remote televisi mencari tayangan yang bisa membuat gairahku bertambah. Namun, sejak lima belas menit yang lalu, tayangan yang muncul hanyalah sebuah tayangan yang sama sekali tidak berpengaruh untukku. Malah yang ada, membuat mood-ku semakin menurun.
            Tiba-tiba saja, handphone yang tergeletak di atas meja ruang tengah ini bergetar hebat, menandakan ada panggilan masuk. Aku segera mengambil handphone tersebut dan mengernyit sesaat ketika mendapati nomor tidak terkenal yang terpampang di layar berwarna bening itu.
            Untuk menghilangkan rasa penasaran, aku segera menekan tombol terima dan meletakkan handphone itu di telinga kananku. “Yoboseyo,” kataku.
            “Sungmin-ssi? Bisa keluar rumah sebentar?” tanya seseorang di seberang.
            “Kau siapa?”
            “Buka saja pintu rumahmu, maka kau akan tahu siapa aku.” Dan setelah itu, hubungan telephone pun terputus. Aku memandangi layar yang kini sudah menggelap itu. Karena penasaran dengan si penelphone, aku segera bangkit dari duduk dan menuju daun pintu untuk mengetahui siapa yang datang ke rumahku dengan cara seperti ini.
**
“Bagaimana kau tahu rumah dan nomor ponselku, Kyuhyun-ssi?” tanyaku setelah mempersilakannya untuk duduk. Ternyata orang yang tadi menelphoneku adalah Cho Kyuhyun. Pria yang baru saja aku temui kemarin. Ia kekasih sahabat Kyu Ra.
            “Itu bukan masalah yang penting,” jawabnya datar.
            “Ada hal penting?”
            “Ada. Hal yang sangat penting.”
            Aku mengerutkan dahi. Ada apa dengan pria ini? Hal yang sangat penting? Hal apa? Aku saja baru bertemu dengannya kemarin. Aneh sekali.
            Kyuhyun menatapku tajam seolah ingin memakanku hidup-hidup. “Kau ingat Mi Ra? Choi Mi Ra?”
            Seketika tubuhku menegang. Astaga! Bagaimana ia bisa tahu tentang Mi Ra?
            “Choi Mi Ra?” ulangku. Aku khawatir telingaku sedang bermasalah.
            Kyuhyun mengangguk dengan tampang tak berekspresi. “Ya. Choi Mi Ra. Orang yang telah kau bunuh dengan sadisnya tiga tahun yang lalu.”
            Sekarang aku bisa merasakan kalau keringat dingin mengucur membasahi punggungku. Kedua tanganku yang berada di sisi tubuhku, kini terkepal kuat. Kenapa Kyuhyun bisa mengetahui peristiwa itu?
            “A-apa maksudmu?” tanyaku tergagap.
            Kyuhyun mendengus lalu menyunggingkan senyuman miring. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan pada gadis itu? Kau telah menghancurkan masa depannya, Sungmin-ssi. Dan kau sudah menghabisi nyawanya. Tidakkah kau tahu perbuatanmu itu sangat biadab?”
            Aku menelan ludah dengan susah payah. Napasku tercekat. “Memang, apa hubungannya Mi Ra denganmu, hah?”
            Lagi. Pria itu tersenyum. “Kau mau tahu? Dia adalah sepupuku. Kau pasti penasaran kan kenapa aku bisa mengetahui ini semua?”
            Aku terdiam.
            “Baiklah. Aku akan memberitahukannya padamu,” katanya. Ia menghela napas sejenak, kemudian membuka mulut untuk memberitahukan alasan kenapa ia bisa mengetahui hal ini. Padahal, aku yakin, saat itu tidak ada satupun orang yang melihatnya. Lalu, kenapa Kyuhyun bisa mengetahuinya?
            “Mi Ra. Choi Mi Ra. Dia sepupuku. Gadis yang sudah aku anggap sebagai adik kandungku sendiri. Namun sekarang, ia sudah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya, pergi menyusul kedua orangtua dan kakak perempuanku yang telah meninggal.”
            “Kau tahu seberapa hancur perasaan orangtua Mi Ra ketika mengetahui bahwa anak semata wayangnya meninggal? Mereka sangat hancur! Bahkan bibiku, hampir dibawa ke rumah sakit jiwa! Itu semua karenamu, Lee Sungmin.”
            “Mi Ra sudah banya bercerita denganku. Semuanya sudah ia ceritakan. Kau tahu? Ia menceritakan ini semua di dalam mimpi. Hah, kau percaya itu? Ia menceritakannya di dalam mimpi. Dan asal kau tahu saja, semalam Mi Ra datang menemuiku secara langsung.”
            Aku sedikit ternganga. Mi Ra menemui Kyuhyun? Bagaimana bisa?
            “Aku harap, kau tidak lupa dengan peristiwa tiga tahun yang lalu itu, Tuan Lee. Peristiwa di mana kau dengan teganya menghilangkan nyawa Choi Mi Ra!!” bentaknya.
            “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku tak percaya.
            Kyuhyun mendengus. “Telingamu sudah tidak berfungsi dengan baik, ya? Aku mengetahui semuanya karena Mi Ra sendiri yang memberitahukannya langsung padaku, di dalam mimpi.”
            Aku tertawa, berusaha untuk menghilangkan rasa gugup yang kian menyerangku. “Hah, mana mungkin hanya di dalam mimpi kau bisa mengetahui semuanya? Kau kira aku bodoh?”
            Pria itu mencibir. “Dan, kau kira aku hanya bercanda? Untuk apa aku melakukan hal konyol ini di saat semuanya terasa rumit? Atau kau mau aku memberitahukan cerita sesungguhnya? Kau mau aku mengulang apa yang dikatakan Mi Ra padaku di hadapanmu agar kau percaya bahwa gadis itu memang telah memberitahuku?”
            Aku terdiam. Tidak bisa membalas kata-katanya.
            Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Baiklah kalau itu yang kau mau.” Ia mulai membuka mulut dan menceritakan ulang peristiwa tragis tiga tahun yang lalu itu.
            “Tiga tahun lalu. Ketika malam itu, kau sedang mabuk berat karena kau baru saja ditolak oleh gadis incaranmu. Dan dengan keadaan yang setengah sadar, tiba-tiba saja kau menarik Mi Ra yang sedang menemani temannya minum karena halusinasimu mengatakan Mi Ra adalah gadis yang telah menolakmu itu. Lalu kau, membawanya secara paksa ke sebuah hotel dan memperlakukan hal yang semestinya tidak kau lakukan hingga membuat gadis itu tidak sadarkan diri.”
            “Setelah peristiwa di hotel itu terjadi, Mi Ra terus mencari-cari informasi mengenai keberadaanmu, di mana kau tinggal. Dan ketika ia berhasil menemukanmu dan memberitahukannya bahwa ia telah mengandung anakmu, kau malah seenaknya berkata tidak akan pernah mau bertanggung jawab.”
            Aku bisa mendengar sarat emosi dari nada bicara Kyuhyun ketika menceritakan peristiwa itu.
            “Mi Ra terus saja meminta pertanggung jawaban darimu. Namun, kau malah melarikan diri menuju Amerika. Dan saat itulah Mi Ra meminta izin pada orangtuanya dan tentu saja aku, untuk pergi ke Amerika. Saat ditanya untuk tujuan apa ia ingin pergi ke sana, Mi Ra hanya menjawab bahwa ia ingin menemui temannya yang sudah lebih dari delapan tahun tidak pernah ditemuinya lagi. Aku dan orangtua Mi Ra hanya percaya saja karena memang gadis itu tidak pernah melakukan kebohongan. Akhirnya, ia pun pergi ke Amerika. Dan tujuan sebenarnya adalah, menyusul dan meminta pertanggung jawabanmu.”
            “Tapi sesampainya Mi Ra di sana, dan menemukan keberadaanmu, kau malah mengabaikannya. Dan...” Kyuhyun berhenti sejenak. Aku tahu, ia pasti merasa berat untuk melanjutkan kalimatnya. Ia pun menundukkan kepalanya.
            “Dan.. kau menghabisi nyawanya saat itu juga,” ungkap Kyuhyun pada akhirnya.
            Aku menatap pria itu tanpa berkedip. Ternyata benar, Mi Ra sudah memberitahukannya. Semua. Tidak ada yang tertinggal satu pun.
            Aku tidak bergeming sedikit pun. Aku masih tidak percaya bahwa Mi Ra akan menceritakan itu semua pada sepupunya.
            Kyuhyun mengangkat wajahnya, dan menatapku dingin. “Kau tidak tahu kan seberapa pentingnya Mi Ra untukku? Seberapa cintanya orangtua gadis itu padanya? Aku sudah menganggap Mi Ra sebagai adik kandungku sendiri. Walaupun terkadang tingkahnya masih seperti anak-anak, tapi itu tidak memudarkan rasa sayangku padanya. Bahkan, ketika duniaku dan dunianya sudah berbeda seperti sekarang ini, aku masih menyayanginya. Teramat dan sangat.”
            Dengan keberanian, aku segera membuka mulut untuk berbicara kembali dengannya. “Lalu, apa tujuanmu kemari, hah? Kau hanya ingin memberitahuku bahwa kau sudah mengetahui semuanya? Begitu? Kalau iya, kau bisa keluar dari rumahku sekarang juga. Karena ku rasa urusanmu denganku cukup sampai di sini.”
            Kyuhyun berdiri. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dariku. Ia tersenyum manis. “Kau pernah mendengar kalimat, nyawa haruslah dibayar dengan nyawa?”
            Aku bangkit berdiri. “Apa yang kau katakan?”
            Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil sesuatu dari balik kemejanya. Dan mataku seketika membeliak ketika melihat apa yang diambil Kyuhyun. Sebuah pisau yang berukuran sedang.
            Kyuhyun menggerakkan pisau yang ada di tangannya. Dan aku bisa melihat bahwa pisau tersebut sangatlah tajam. Mengacu pada ujungnya yang begitu runcing.
            “Dengan benda ini di tanganku, kau sudah tahu kan apa yang akan aku lakukan?” tanyanya pelan.
            Ku ulurkan tangan, dan menunjuk pria itu dengan telunjukku. “Kau... apa yang akan kau lakukan?” tanyaku sambil berjalan mundur.
            Kyuhyun mulai mengangkat pisau itu di udara, bersiap untuk menghunuskannya ke arahku. Ia berjalan mendekatiku, sedangkan aku terus saja melangkah mundur.
            “Menghabisi nyawamu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Kau dengar itu?” ucapnya.
            Aku terus melangkah mundur hingga akhirnya aku tidak bisa melangkahkan kaki untuk berjalan mundur kembali karena punggungku yang sudah tersudut oleh lemari kayu. Sial!
            “Berhenti. Jangan mendekat!” perintahku berteriak. Namun sepertinya usahaku sia-sia saja. Sekarang, jarakku dengan Kyuhyun sudah sangat dekat. Paling-paling hanya tiga puluh sentimeter.
            Kyuhyun menangkup wajahku dengan sebelah tangannya yang bebas dari benda runcing itu. “Kau pikir aku akan melakukan apa yang kau perintahkan, huh? Tidak. Sampai aku membalaskan dendam atas kematian Mi Ra. Kau tahu? Ini Mi Ra yang menginginkannya.”
            Ia melepaskan tangannya dari wajahku dengan kasar. Aku bisa merasakan jantungku akan berhenti berdetak sekarang juga tatkala Kyuhyun menempelkan ujung pisau itu tepat di leherku. “Cho Kyuhyun. Turunkan benda itu. Ku mohon,” kataku gugup.
            Pria bermarga Cho itu hanya mendengus. “Aku tidak akan pernah menuruti apa yang kau perintahkan!” bentaknya tepat di depan wajahku. Ia menatapku dengan mata berkilat marah.
            “Kau tahu?” ujarnya dengan suara yang pelan. “Kelakuanmu itu bahkan lebih biadab daripada seekor binatang sekalipun.”
            Aku mengangkat kedua tanganku. “Baiklah. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah aku perbuat pada Mi Ra. Tolong, turunkan benda itu. Ku mohon.”
            “Maaf? Hanya permintaan maaf yang kau katakan? Bahkan itu belum cukup untuk menebus apa yang telah kau lakukan pada Choi Mi Ra.” Ia semakin menekan ujung pisau itu. Napasku memburu ketika merasakan perih yang begitu teramat sangat. Dan benar saja, darah segar sudah mulai mengalir dari leherku. Untung saja Kyuhyun tidak menekan pisau itu tepat di urat nadi. Kalau iya, sudah ku pastikan aku tidak bernyawa lagi detik ini juga.
            Aku mendesis. “Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Asalkan kau mau memaafkanmu.”
            Aku mengerang ketika tiba-tiba saja Kyuhyun menusukkan pisau itu ke perutku. “Maaf? Kau seharusnya minta maaf pada kedua orangtua Mi Ra, karena kau lah mereka hancur!” aku berteriak ketika Kyuhyun melepaskan pisau tersebut dengan gerakan yang begitu cepat.
            Aku tersungkur ke lantai. Kaus yang ku kenakan kini sudah terkena noda darah.
            Kyuhyun berjongkok. Tersenyum. “Kau tahu? Aku belum puas sebenarnya.”
            “AAKKHH!!” Lagi. Aku mengerang ketika yang kedua kalianya ia menancapkan benda tajam itu di perutku.
            Aku mengembuskan napas. Napasku begitu tercekat. Tenggorokanku begitu sakit saat ia kembali melepaskan benda itu dari perutku dengan gerakan yang teramat cepat.
            “AAHH!!”  aku berteriak ketika Kyuhyun menggores lenganku dengan pisau yang sudah berlumuran dengan darah itu.
            “Kau mau lagi?” tanyanya. Kini ia menggoreskan pisau itu di dadaku sehingga kausku sobek begitu saja.
            Aku hanya bisa menahan kesakitan ini ketika Kyuhyun terus menerus menggores dan menancapkan pisau di setiap anggota tubuhku.
            “AHHHH~!!!” aku berteriak histeris saat benda itu kini menggores pipi kananku.
            Kyuhyun yang melakukan hal ini hanya tertawa puas. “Ini kan yang kau lakukan pada Mi Ra? Sekarang, kau bisa merasakan apa yang Mi Ra rasakan waktu itu.”
            “MATI KAU!” ucapnya sambil menancapkan pisau itu ke perutku lagi. Kini tangan Kyuhyun sudah berlumuran darah. Bahkan kemejanya pun sudah terkena cipratan darahku. Kini, lantai rumahku sudah terkotori oleh darahku sendiri.
            Mataku terasa semakin berat. “Aku tahu. Inilah yang Mi Ra rasakan kala itu,” ucapku lemah.
            “Baguslah kalau kau sudah tahu,” balas Kyuhyun santai.
            “Tolong. Hentikan. Aku sudah tidak kuat lagi,” titahku sambil mengerang sakit.
            Kyuhyun mengangguk-angguk. “Aku akan menghentikannya. Tapi, aku akan memberikanmu bonus tambahan. Selamat menikmati.” Napasku berhenti saat itu juga ketika Kyuhyun menancapkan pisau itu tepat di jantungku.
            Pria itu bangkit berdiri. Pandanganku sudah semakin kabur.
            “Akhirnya, kau merasakan apa yang Mi Ra rasakan. Aku sangat puas, kau tahu? Itulah bayaran yang setimpal untuk manusia bedebah sepertimu, Tuan Lee.”
            Aku masih terus berusaha terjaga. “Selamat menempuh perjalanan baru.” Kyuhyun melempar pisau yang sudah berlumur darah itu ke dekatku. Aku hanya bisa melihat sekelebat bahwa ia tersenyum senang. Kyuhyun lalu pergi keluar rumahku. Dan saat itulah, aku benar-benar tidak dapat membuka mata lagi.
**
Ri Rin POV
Sekarang, aku sedang berada di kantor polisi, tepatnya di ruang tunggu. Setelah pekerjaanku di rumah sakit selesai, aku langsung bergegas menuju kantor polisi untuk menjenguk Kyuhyun.
            Ya. Pria itu ditahan karena kasus pembunuhan pada seorang Lee Sungmin, kekasih Kyu Ra. Aku tidak habis pikir ternyata orang yang membunuh Mi Ra adalah Sungmin. Dan aku benar-benar tidak bisa mengetahui bagaimana jalan pikiran Kyuhyun sehingga pria itu melakukan hal keji seperti ini.
            Sungmin ditemukan tewas oleh seorang tukang kebun yang bekerja di rumahnya. Ketika itu, tukang kebun yang usianya sudah melebihi angka 50tahunan menemukan Sungmin sudah terkapar tidak bernyawa di ruang tengah dengan darah yang sudah berceceran di mana-mana. Tukang kebun itu lantas langsung menelphone kepolisian dan melaporkan apa yang terjadi pada majikannya itu.
            Beberapa menit kemudian, para petugas kepolisian datang di kediaman Sungmin dan langsung mengurus peristiwa yang dialami pria bermarga Lee itu. Dan pada saat sedang melakukan evakuasi, salah seorang dari anggota kepolisian menemukan pisau yang diduga digunakan si pelaku untuk menghabisi nyawa Sungmin. Dan benar saja, dengan adanya pisau tersebut, polisi dengan sangat mudah menemukan pelaku karena sidik jari yang ada di benda runcing itu mengacu pada satu orang. Dan orang tersebut adalah Kyuhyun.
            Entah pria itu yang bodoh atau bagaimana, bisa-bisanya ia meninggalkan benda yang diperkuat untuk menjadi barang bukti itu begitu saja? Tidakkah itu sama dengan menjebloskan diri sendiri ke dalam penjara?
            Sudah satu bulan sejak hari penahanan Kyuhyun. Pria itu mendapatkan hukuman lima tahun penjara atas tindakan pembunuhannya tersebut. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan berapa lama kekasihku itu akan ditahan. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan dan kondisinya. Hanya itu. Aku sangat tahu, pria itu mudah sekali terserang penyakit. Jadi, aku benar-benar takut akan hal itu.
            Aku tersadar dari lamunanku ketika Kyuhyun sudah datang. Dia duduk di kursi yang telah disediakan.
            Aku menghela napas. Selama beberapa tahun ke depan, aku hanya bisa melihat Kyuhyun dengan cara seperti ini. Kami terhalangi oleh kaca bening besar, yang menjadi pembatas antara pengunjung dan tersangka. Oh, haruskah aku menyebut Kyuhyun sebagai tersangka?
            Ia menatapku tanpa ekspresi. Aku bisa melihat kantung hitam di bawah lipatan matanya. Ya Tuhan Cho Kyuhyun, kau melakukan apa saja di dalam sana hingga seperti ini?
            “Hai. Bagaimana kabarmu?” tanyaku memulai percakapan. Sejujurnya, aku tidak tega melihat Kyuhyun seperti ini. Aku berusaha sekuat tenaga agar air mata ini tidak tumpah karena aku merasa mataku mulai memanas.
            Kyuhyun hanya tersenyum tipis. “Kenapa kau masih mau menjengukku? Bukankah aku ini seorang pembunuh?” ucapnya yang sukses membuatku sesak.
            “Kau memang seorang pembunuh. Tapi itu bukan alasan bagiku untuk tidak menjengukmu, kan?” sahutku.
            “Kalau kau ingin mengakhiri hubungan denganku, lakukan sekarang juga,” katanya.
            Aku membulatkan mata tidak percaya. Bisa-bisanya Kyuhyun berkata seperti itu. “Apa maksudmu, huh?”
            Pria itu menatapku tepat di manik mata. “Ri Rin-ah, aku ini sekarang sudah menjadi seorang pembunuh. Apa kau tidak malu mempunyai kekasih seorang pembunuh sepertiku? Kau seorang dokter. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana caci-makian yang kau dapatkan dari orang lain karenaku.”
            Aku menggeleng cepat. “Tutup mulutmu atau aku akan membunuhmu jika kau mengatakan hal itu lagi.”
            “Kalau begitu, bunuh saja aku,” katanya santai.
            Aku menatap Kyuhyun dengan iba. Aku tahu, ia pasti merasa bersalah padaku dengan apa yang telah diperbuatnya itu. Tapi aku sama sekali tidak marah padanya. Kecewa pun tidak. Aku sangat tahu bahwa Kyuhyun sangat menyayangi Mi Ra. Maka dari itu, aku tidak heran jika pria itu dengan beraninya membalaskan kematian Mi Ra pada Sungmin.
            Aku menghela napas. “Dengarkan aku. Kau tidak pantas berkata seperti itu lagi. Aku tahu kau seorang pembunuh, tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu.”
            “Lalu bagaimana dengan orangtuamu? Sekarang ini aku yakin kalau mereka akan menentang hubungan kita. Mereka tidak akan mau memiliki menantu sepertiku. Seorang pembunuh. Dan jika aku sudah terbebas, aku akan dicap sebagai bekas narapidana. Apa kau mau menyandang status sebagai isteri seorang bekas narapidana?” tanyanya sendu.
            Tidak dapat yang aku lakukan selain tersenyum padanya. “Siapa bilang orangtuaku kini menentang hubungan kita? Mereka masih merestui hubungan kita, Kyuhyun-ah. Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka. Mulai dari Mi Ra yang sudah kau anggap sebagai adik sendiri, sampai peristiwa pembunuhan itu terjadi. Sebenarnya mereka kecewa, tapi itu tidak menjadi masalah besar. Dan mereka masih menginginkanmu menjadi menantunya.”
            Akhirnya aku bisa melihat Kyuhyun tersenyum bahagia. “Benarkah? Yah, aku tahu aku sudah mengecewakan mereka. Sampaikan permohonan maafku pada mereka ya?”
            “Aku tidak mau. Kau harus meminta maaf pada mereka saat kau sudah bebas dari penjara. Dan di saat yang bersamaan pula, kau harus meminta izin dari mereka untuk melamarku. Bagaimana?” tawarku.
            Kyuhyun bersiul. “Kau ingin cepat-cepat menikah denganku ya? Oke, itu bukan masalah yang sulit bagiku. Tenang saja, saat aku bebas dari sini, aku akan langsung meminta restu orangtuamu agar mengizinkanku mengubah margamu menjadi Cho. Kalau saat itu mereka berubah pikiran dan tidak setuju, dengan terpaksa aku akan membawa kau lari dari mereka. Bagaimana?”
            Aku tertawa. “Aku terima.”
            Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. “Bagaimana dengan Kyu Ra? Aku merasa bersalah padanya. Hubunganmu dengan Kyu Ra pasti berantakan kan setelah aku membunuh Sungmin?” tanya Kyuhyun.
            “Setelah mengetahui bahwa kau yang telah membunuh Sungmin, Kyu Ra memang sangat emosi. Bahkan ia tidak mau bertemu dan berbicara denganku selama satu minggu. Tapi aku tetap berusaha mencairkan hatinya. Setelah itu, aku menceritakan semuanya. Dan pada akhirnya, ia pun menerima dengan ikhlas apa yang sudah terjadi,” jawabku.
            “Aku benar-benar minta maaf dengan Kyu Ra,” ucap Kyuhyun.
            “Tenang saja. Sekarang, ia sudah tidak marah lagi padamu. Dia justru berterimakasih. Karena kalau kau tidak melakukan hal itu, mungkin sampai mereka menikahpun Kyu Ra tidak akan pernah tahu kalau Sungmin adalah seorang pembunuh. Sejujurnya, ia merasa terbantu dengan kejadian ini. Gadis yang aneh,” komentarku.
            “Ri Rin-ah aku ingin meminta maaf padamu,” ujarnya yang membuat aku mengernyit bingung.
            “Untuk?”
            “Saat itu aku mengatakan bahwa aku belum tahu nama pelaku yang membunuh Mi Ra. Padahal, aku sudah tahu sejak lama. Aku hanya tidak ingin memberitahukanmu sebelum aku menemukan orang itu. Mianhae.”
            Tidak apa-apa. Itu bukan masalah yang besar.”
            “Tuan Cho Kyuhyun, waktu berkunjung anda telah habis,” kata seorang anggota kepolisian menghampiri Kyuhyun.
            Kyuhyun memalingkan sejenak pada petugas itu, dan beralih menatapku lagi. “Waktuku sudah habis. Maukah kau menungguku beberapa tahun ke depan?”
            Aku mengangguk mantap. “Tentu. Bahkan jika itu sampai memakan waktu seribu tahun pun, aku akan menunggu.”
            Kyuhyun mendengus. “Cih. Gombalanmu terlalu berlebihan.” Kemudian ia berdiri. Dan petugas itu segera memegangi lengan Kyuhyun dan bersedia untuk segera menggiring Kyuhyun kembali ke jeruji besi.
            Aku ikut berdiri. “Bukan urusanmu. Baik-baik ya di dalam. Jangan nakal, eo?” pesanku yang membuatnya terkekeh.
            “Yap!” Ia pun segera berjalan meninggalkanku. Saat sedang berjalan ia menengok ke belakang dan menggerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara, mengatakan, “Saranghae.
            Aku tersenyum. “Nado.”
**
Five years later...
Aku sedang duduk di sebuah bangku taman. Di akhir pekan ini, taman bermain cukup ramai dikunjungi oleh orang-orang. Sebelum datang ke tempat ini, aku mampir sebentar di sebuah coffee shop  untuk membeli satu cup moccacino ice. Rasanya aku benar-benar haus. Dan, minuman inilah yang perlahan-lahan mulai menghilangka rasa dahagaku yang begitu memuncak.
            Di penghujung musim panas ini, daun-daun yang bertengger di ranting pohon sudah mulai ada yang menguning, bahkan sudah ada beberapa yang berguguran jatuh ke tanah dan tertiup angin yang datang.
            Ini sudah lima tahun sejak Kyuhyun masuk penjara. Aku tidak tahu kapan pastinya pria itu akan keluar dari jeruji besi. Pria itu tidak mau memberitahukannya padaku. Bahkan, petugas kepolisian pun seperti tidak bersedia membuka mulut sekadar untuk menjawab pertanyaanku.
            Aku menyesap minuman yang ada di tanganku. Rasanya benar-benar dingin.
            Tiba-tiba aku terlonjak kaget karena seseorang melingkarkan kedua tangannya di leherku dari arah belakang. Aku menoleh dan ternganga ketika mengetahui siapa yang datang.
            “Yak! Kau?” tanyaku tak percaya.
            “Aku merindukanmu,” sahutnya yang sedetik kemudian mengecup pipiku singkat.
            “Lepaskan! Kau kenapa bisa ada di sini, huh?” tanyaku polos.
            Kyuhyun. Pria itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku seperti hantu. Ia mengerucutkan bibirnya dan segera melepaskan tangannya dari leherku. Pria itu berjalan memutari kursi yang tengah ku duduki, kemudian mendudukkan tubuhnya di sampingku.
            “Kau tidak tahu ini sudah tahun keberapa aku dipenjara, huh?” sungutnya.
            “Aku tahu. Tapi kau kan tidak pernah mau menjawab jika aku bertanya,” kini aku berbalik protes padanya.
            Pria itu terkikik. “Aku sengaja melakukan itu. Karena aku ingin memberikan kejutan untukmu.”
            Aku menyipitkan mata. “Jangan bilang para polisi itu bekerjasama denganmu untuk tidak memberitahuku?” todongku.
            Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya. “Kau benar. Aku sengaja menyuruh para polisi itu untuk tutup mulut jika kau bertanya kapan aku keluar dari penjara. Dan ternyata, mereka bisa juga aku andalkan untuk diajak bekerjasama.”
            “Cih. Dasar licik,” cemoohku.
            Kyuhyun menarikku agar berdiri. “Ayo kita ke rumahmu. Aku akan meminta izin pada mereka untuk menikahimu.”
            Aku menahan gerakan Kyuhyun. “Tunggu dulu. Dari mana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku penasaran.
            “Biasa. Insting cinta,” jawabnya santai.
            “Hah?” dengusku. “Bicaramu terdengar konyol.”
            Kyuhyun mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku kilat. “Walaupun begitu, kau tetap mencintaiku kan?” tanyanya setelah menjauhkan wajahnya.
            Aku memukul lengannya. “Yak! Kau tidak tahu ini tempat apa? Tempat umum bodoh.”
            Pria itu hanya mengangkat bahunya santai. “Aku tidak peduli. Ayo cepat, aku tidak sabar untuk bertemu mereka.” Ia pun menarikku menuju mobilnya. Sedangkan aku hanya pasrah mengikuti langkah kakinya itu.
            Yap! Sepertinya sebentar lagi aku akan merubah margaku menjadi Cho, hihihi. Kalian mau datang ke pernikahanku? Baiklah, tunggu undangan kami tiba di tempat kalian yaaaaa~~~~

The End
Sementara itu di tempat yang lain....
“Aku sangat berterimakasih padamu, Kyuhyun oppa. Kau rela dipenjara karena bersedia membantuku membalaskan dendam pada pria itu. Aku berharap, hubunganmu dengan kekasihmu itu akan selalu berjalan dengan lancar. Dan aku berdoa, kalian cepat menikah dan diberikan keturunan yang cantik dan tampan. Doaku selalu menyertai kalian berdua.”
~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar