Jumat, 28 Maret 2014

SECOND HOME



Ri Rin berjalan ke luar pagar rumahnya dengan kesal. Ia bosan jika berada di rumah. Sangat bosan. Setiap hari harus mendengar pertengkaran kedua orangtuanya yang selalu mengeluarkan kata-kata cerai dari mulut masing-masing. Ia ingin pergi dari rumah, tapi ia tak bisa. Walau bagaimana pun, kedua orangtuanya lah yang telah membesarkannya sampai sekarang ini. Meski pun kejadian satu tahun yang lalu menerpa kehidupan keluarganya dan mengakibatkan sebuah perceraian menjadi keputusan terbaik bagi kedua orangtuanya, tapi gadis itu tetap menyayangi kedua paruh baya itu.
            Ri Rin membuka pagar sebuah rumah yang terletak persis di samping rumahnya. Tanpa permisi, ia segera melangkahkan kakinya ke teras rumah tersebut dan menekan bel yang ada di dekat pintu.
            Tiga kali ia menekan bel tersebut, dan baru lah seseorang muncul dari balik pintu. Seseorang yang amat dikenalinya sejak belasan tahun yang lalu. Seseorang yang muncul dengan pakaian tidurnya, rambut hitamnya sebahu, serta matanya yang besar. Mirip sekali dengan mata seseorang yang amat dekat dengannya.
            “Ri Rin-ah?”
            Ne eonni. Kyuhyun ada?” tanyanya pada seseorang tersebut.
            “Ada. Ayo masuk,” ajak orang itu. Ri Rin mengangguk. Setelah dipersilakan masuk, ia melepaskan sandal dan diletakkannya sandal tersebut di tempat yang semestinya. Lalu, bergegas masuk ke dalam rumah bertingkat dua itu.
            Ri Rin mendapati sepasang suami-isteri tengah menonton televisi di ruang tengah. Ia berhenti. Kemudian sedikit membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
            “Ri Rin-ah? Ada apa malam-malam berkunjung kemari?” tanya wanita paruh baya itu.
            Ri Rin menghela napas. “Aku tidak perlu menjawab, ya? Karena bibi pasti sudah tahu alasannya.” Kedua paruh baya itu mengangguk paham.
            Ri Rin tersenyum. “Kyuhyun ada?” tanyanya.
            “Ada. Naiklah. Dia ada di kamar,” kini giliran seorang pria paruh baya tersebut yang menjawabnya.
            Ri Rin mengangguk. “Bibi, paman,” panggilnya. Sepertinya, kedua paruh baya itu merupakan kedua orangtua dari seseorang yang disebut oleh Ri Rin dengan nama Kyuhyun.
            “Ya?” sahut mereka kompak.
            Ri Rin mengusap tengkuknya. “Malam ini, aku boleh menginap di sini?” tanyanya hati-hati.
            Ibu Kyuhyun pun menjawab. “Tentu. Kau boleh tinggal di sini sesukamu. Yaa, selama masalah orangtuamu belum selesai,” candanya.
            Ri Rin tersenyum kikuk. “Kamsahamnida,” ucapnya sambil membungkukkan badan. “Aku pamit ke atas dulu ya.”
            Gadis itu pun segera menaiki tangga yang melingkar itu. Ia benar-benar ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Kyuhyun itu.
            Tidak perlu memakan waktu lama untuk tiba di depan pintu kamar Kyuhyun. Pintu kamar yang sudah sangat ia kenal sedari ia masih kecil. Pintu kamar yang berwarna biru laut itu benar-benar menyimpan sejuta kenangan di dalamnya.
            Ri Rin mengetuk pintu. “Masuk,” jawab seseorang dari dalam. Dan tanpa berpikir panjang, ia segera membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.
            Ri Rin masuk ke dalam kamar tersebut dan tak lupa menutup pintu terlebih dahulu. Setelah itu ia berjalan menuju ranjang yang ada di ruangan itu, dan merebahkan tubuhnya tanpa permisi di sisi ranjang yang masih kosong.
            Kyuhyun. Pria itu. Pria yang bernama Kyuhyun itu menoleh. Ia terduduk di sisi ranjang sebelah kanan dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur sambil memainkan PSP kesayangannya. Kyuhyun segera mempause permainannya dan memfokuskan pandangannya pada gadis yang tengah berbaring seenaknya di atas ranjangnya itu.
            “Hei hei hei Nona Shin. Kau tidak punya sopan santun ya? Seenaknya merebahkan diri di atas ranjangku. Tubuhmu bersih tidak?” komentar Kyuhyun.
            Ri Rin mendecak. “Tidak usah berbicara seperti itu. Kau seperti tidak tahu aku saja. Kita sudah bersahabat lebih dari lima belas tahun. Jadi, jangan banyak komentar!” sahutnya sinis.
            Kyuhyun meletakkan PSP-nya di atas meja. “Kau ini sensitif sekali. Aku kan hanya bergurau. Ada apa malam-malam ke sini? Kau merindukanku?” godanya sambil tersenyum miring.
            Ri Rin mendengus. “Merindukanmu? Untuk apa aku merindukanmu? Kita hampir menghabiskan waktu dalam sehari secara bersama-sama. Pergi ke kampus, bermain, dan lain sebagainya. Dengan kegiatan rutin seperti itu, kau bilang aku merindukanmu?”
            “Ya ya ya. Aku tahu. Kau tidak akan pernah merindukanku. Menghabiskan waktu selama kurang lebih lima belas tahun denganku dan membuatmu tidak akan merindukanku. Aku benar, kan?” sahut Kyuhyun.
            Ri Rin berbangkit. Menatap Kyuhyun tajam. “Kau tadi diberi makan malam apa hah oleh paman dan bibi sampai-sampai mulutmu begitu cerewet seperti burung perkutut? Bisa diam tidak? Kalau kau banyak bicara, kepalaku semakin sakit. Kau tidak tahu kalau sekarang kepalaku tengah berdenyut hebat? Mendengarkan pertengkaran kedua orangtuaku setiap hari dan membahas masalah perceraian. Membuatku nyaris sudah tidak waras lagi!”
            Kyuhyun memperhatikan Ri Rin saksama. Ia mengerti kenapa gadis itu datang ke rumahnya malam-malam seperti ini. “Orangtuamu bertengkar lagi?” tanyanya polos.
            “Kalau orangtuaku tidak bertengkar, untuk apa aku datang kemari?” jawabnya dengan kesal.
            Kyuhyun merasa kesal karena Ri Rin menjawab pertanyaannya dengan emosi. “Yak! Kalau kesal dengan masalah orangtuamu, jangan melampiaskannya padaku. Kau pikir, aku ini apa, hah?”        
            Ri Rin memejamkan matanya dan menghela napas panjang. “Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku menjawab pertanyaanmu dengan penuh emosi,” katanya menyesal. Gadis itu kemudian membuka matanya. Dan sedikit terkejut karena telah mendapati Kyuhyun yang tengah menjulurkan tubuhnya, dan dengan sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah Ri Rin.
            “Tepuk persahabatan?” tawarnya. Ri Rin mengerti. Kemudian ia pun memajukan wajahnya sesenti lebih dekat dengan wajah Kyuhyun. Mereka sama-sama mengadukan hidung, dan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri masing-masing secara berlawanan. Itu adalah tepuk persahabatan mereka sedari mereka kecil. Hanya mereka yang memiliki tepukan seperti itu.
            Setelah cukup melakukan sebuah tepukan persahabatan, Kyuhyun segera menjauhkan wajahnya. “Kau jangan terlalu cepat terpancing emosi, Rinnie-ya.”
            “Bagaimana aku tidak cepat emosi, kalau pekerjaan kedua orangtuaku jika sudah berada di rumah hanya bertengkar dan bertengkar? Telingaku hampir meledak rasanya,” jawab Ri Rin.
            Kyuhyun tersenyum. “Hadapi dengan kepala dingin. Mereka bertengkar, otomatis mereka sudah tidak bisa menangani masalah dengan kepala dingin lagi. Dan kau, sebagai anak seharusnya mencegah mereka. Kau harus menjadi penengah bagi mereka. Aku sudah berkata seperti ini berulang kali kan? Kenapa tidak kau praktikan?”
            “Aku tidak berpikir sampai ke situ jika suasana rumah sudah seperti neraka! Bayangkan saja, setiap hari mereka bertengkar. Tanpa alasan yang jelas. Di kantor, dan di dalam mobil mereka saling diam. Tapi jika di rumah? Sudah seperti bom atom yang meledak. Kau tahu? Kalau mereka terus-terusan seperti ini, mungkin aku akan gila!” ucap Ri Rin pasrah.
            Kyuhyun menjitak kepala Ri Rin kecil. “Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Aku tidak akan membiarkanmu sampai seperti itu. Kau tega membiarkan aku mempunyai seorang sahabat yang tidak waras? Tenanglah semua pasti ada jalan keluarnya. Kau tinggal bersabar saja. Kau tidak ingat tentang sebuah keajaiban? Tuhan tidak pernah tidur.”
            Ri Rin mengembuskan napas pasrah. “Ya. Kau benar. Terimakasih ya. Sekarang perasaanku sudah lebih tenang.”
            Kyuhyun tersenyum. “Itu gunanya sahabat, kan? Selalu ada di saat susah maupun senang.”
            Ri Rin mengangguk. Gadis itu bergerak mendekati Kyuhyun dan memeluk pria itu. Kyuhyun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ri Rin untuk membalas pelukan sahabatnya itu. Kyuhyun tahu, saat ini Ri Rin benar-benar membutuhkan seseorang untuk dijadikan sandaran. Dan satu-satunya orang yang bisa dijadikan sandaran oleh Ri Rin, siapa lagi kalau bukan keluarga Cho? Terutama Kyuhyun. Ya. Hanya pria itu yang bisa dijadikan sandaran oleh Ri Rin.
            Cho Kyuhyun. Pria itu. Sudah menjadi sahabat Ri Rin sejak belasan tahun yang lalu. Umur mereka hanya terpaut dua tahun. Kyuhyun berusia dua tahun di atas Ri Rin. Mereka memulai persahabatan ketika Ri Rin berumur enam tahun.
            Sudah banyak hari-hari yang mereka lalui bersama selama kurang lebih lima belas tahun. Bersama Kyuhyun, Ri Rin tidak pernah mengenal kata duka.
            Keluarga Cho merupakan keluarga kedua bagi Ri Rin. Di rumah keluarga Cho-lah Ri Rin biasa menghabiskan waktu bersama. Keluarga Cho pun sudah menganggap Ri Rin sebagai anggota keluarganya. Karena Ri Rin merupakan anak tunggal di keluarga Shin sedangkan Kyuhyun mempunyai seorang kakak perempuan di keluarga Cho.
            Menginap di rumah salah satu dari mereka bukanlah hal yang aneh lagi. Itu sudah Ri Rin dan Kyuhyun lakukan sejak dulu. Terkadang, Kyuhyun menginap di rumah Ri Rin ataupun sebaliknya. Namun, Ri Rin-lah yang lebih sering menginap di rumah Kyuhyun. Apalagi, sekarang kedua orangtua gadis itu tengah dilanda guncangan rumah tangga yang hebat.
            Hubungan kedua orangtua Ri Rin sudah di ambang perceraian. Yang membuat Ri Rin muak adalah, mereka sering bertengkar di rumah dan mengeluarkan kata-kata cerai namun sampai sekarang mereka belum mengurusi surat-surat perceraian. Melaporkan ke pihak berwajib pun belum mereka lakukan. Maka dari itu, Ri Rin merasa seperti di neraka jika kedua orangtuanya sudah beradu mulut layaknya bom atom yang meledak.
            Ri Rin melepaskan pelukannya. “Tepuk persahabatan lagi,” pintanya dengan suara kekanak-kanakan. Dan mereka pun melakukan tepukan persahabatan.
            “Gyuhyunnie,” panggil Ri Rin pelan.
            “Hmmm?”  
            “Malam ini aku tidur di rumahmu. Aku malas kembali ke rumah. Aku tidak yakin orangtuaku telah selesai bertengkar atau belum,” ucap Ri Rin.
            Kyuhyun mengangguk. “Baiklah. Nanti biar aku yang tidur di sofa itu.” Kyuhyun menunjuk sebuah sofa panjang yang ukurannya tidak terlalu besar di sudut kamar.
            “Aku kan tamu di sini. Seharusnya aku yang tidur di sana,” kata Ri Rin merasa tidak enak.
            “Memangnya kenapa? Aku ini kan laki-laki. Memang kau pikir aku lelaki murahan yang akan membiarkan seorang gadis tidur di atas sofa sedangkan aku sendiri tidur di atas ranjang?” balas Kyuhyun.
            “Atau, bagaimana kalau aku tidur bersama Ahra eonni saja?” Ri Rin memberi ide.
            Kyuhyun menggelengkan kepala dengan cepat. “Tidak. Kau tidur di kamarku. Atau lebih baik, kau pulang saja?” ancam pria itu.
            Ri Rin mengerucutkan bibirnya. “Kau ini selalu mengancam.”

**
Ri Rin masih belum bisa memejamkan matanya. Padahal, jam dinding yang terpasang di kamar Kyuhyun sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
            Ri Rin menoleh ke kanan dan mendapati Kyuhyun sudah tertidur pulas di atas sofa tanpa menggunakan selimut ataupun bantal.
            Dengan cepat, Ri Rin segera menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur. Gadis itu kemudian membuka pintu kamar dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa saja membangunkan Kyuhyun.
            Ia menuruni anak tangga dan ketika kakinya sudah menapak di lantai satu atau tepatnya di dekat ruang keluarga, Ri Rin mendapati Ahra yang masih berkutat dengan laptopnya.
            Eonni,” panggil Ri Rin.
            Ahra menoleh. Dan sedikit mengerutkan dahinya. “Ri Rin-ah? Kau belum tidur?” tanyanya heran.
            “Belum. Aku masih belum bisa tidur. Eonni sendiri kenapa belum tidur? Masih mengurus pekerjaan ya?”
            Ahra mengangguk. “Iyaa. Seperti yang kau lihat,” jawabnya sambil menunjuk laptop dan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. “Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?” lanjutnya.
            “Iya. Aku membutuhkan bantal dan selimut. Kyuhyun memilih untuk tidur di sofa. Padahal aku sudah melarangnya dan memberi usul agar aku tidur di kamar eonni saja. Tapi adik eonni itu melarangku melakukannya dan malah menyuruhku pulang kalau aku tidak menuruti keinginannya,” sahut Ri Rin.
            Gadis yang usianya terpaut lima tahun di atas Ri Rin pun tertawa kecil. “Dia kan juga sahabatmu. Baiklah, kau tunggu sebentar aku akan mengambilkan bantal dan selimut.” Ri Rin pun mengangguk.
            Sekitar dua menit kemudian, Ahra kembali dengan sebuah selimut dan bantal di tangannya. Ia menjulurkan tangannya dan memberikan kedua benda tidur itu kepada Ri Rin.
            “Terimakasih eonni. Aku kembali ke kamar dulu ya? Eonni jangan tidur malam-malam. Jaga kesehatan ya,” pesan Ri Rin sebelum naik ke lantai dua.
            Ahra mengacak-acak rambut Ri Rin. “Tenang saja. Tidur lah.”
            Ri Rin lalu menaiki anak tangga sedangkan Ahra kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
            Setelah di dalam kamar, Ri Rin segera menaruh bantal tersebut di bawah kepala Kyuhyun dengan gerakan hati-hati, lalu memyelimuti Kyuhyun sampai dada.
            Ri Rin berjongkok. Mengamati wajah Kyuhyun dengan saksama. Wajah yang selama lima belas tahun ini selalu ada di sampingnya baik dalam keadaan senang maupun susah. Wajah yang selama lima belas tahun ini selalu menjadi sandaran baginya ketika ia sedang terpuruk. Wajah yang selalu menemaninya tatkala dunia menjauhinya. Wajah itu benar-benar terlihat polos dan damai ketika sedang tertidur. Napas Kyuhyun yang begitu teratur membuat Ri Rin mau tidak mau menyunggingkan senyuman.
            Pria itu. Walau kadang kelakuannya seperti setan, namun ia memiliki hati yang baik. Kyuhyun berbeda. Sangat berbeda. Berbeda dari pria kebanyakan dan Ri Rin mengetahui itu. Ia mengagumi Kyuhyun. Ya, Ri Rin mengakui itu.
            Ri Rin menjulurkan wajahnya dan menyapukan sebuah kecupan singkat di pipi Kyuhyun. “Aku menyayangimu, Gyuhyunnie. Sangat menyayangimu,” katanya pelan.

The End
           
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar