Ri Rin berjalan ke luar pagar rumahnya dengan kesal.
Ia bosan jika berada di rumah. Sangat bosan. Setiap hari harus mendengar
pertengkaran kedua orangtuanya yang selalu mengeluarkan kata-kata cerai dari
mulut masing-masing. Ia ingin pergi dari rumah, tapi ia tak bisa. Walau
bagaimana pun, kedua orangtuanya lah yang telah membesarkannya sampai sekarang
ini. Meski pun kejadian satu tahun yang lalu menerpa kehidupan keluarganya dan
mengakibatkan sebuah perceraian menjadi keputusan terbaik bagi kedua
orangtuanya, tapi gadis itu tetap menyayangi kedua paruh baya itu.
Ri
Rin membuka pagar sebuah rumah yang terletak persis di samping rumahnya. Tanpa
permisi, ia segera melangkahkan kakinya ke teras rumah tersebut dan menekan bel
yang ada di dekat pintu.
Tiga
kali ia menekan bel tersebut, dan baru lah seseorang muncul dari balik pintu.
Seseorang yang amat dikenalinya sejak belasan tahun yang lalu. Seseorang yang
muncul dengan pakaian tidurnya, rambut hitamnya sebahu, serta matanya yang
besar. Mirip sekali dengan mata seseorang yang amat dekat dengannya.
“Ri
Rin-ah?”
“Ne eonni. Kyuhyun ada?” tanyanya pada
seseorang tersebut.
Ri
Rin mendapati sepasang suami-isteri tengah menonton televisi di ruang tengah.
Ia berhenti. Kemudian sedikit membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
“Ri
Rin-ah? Ada apa malam-malam
berkunjung kemari?” tanya wanita paruh baya itu.
Ri
Rin menghela napas. “Aku tidak perlu menjawab, ya? Karena bibi pasti sudah tahu
alasannya.” Kedua paruh baya itu mengangguk paham.
Ri
Rin tersenyum. “Kyuhyun ada?” tanyanya.
“Ada.
Naiklah. Dia ada di kamar,” kini giliran seorang pria paruh baya tersebut yang
menjawabnya.
Ri
Rin mengangguk. “Bibi, paman,” panggilnya. Sepertinya, kedua paruh baya itu
merupakan kedua orangtua dari seseorang yang disebut oleh Ri Rin dengan nama Kyuhyun.
“Ya?”
sahut mereka kompak.
Ri
Rin mengusap tengkuknya. “Malam ini, aku boleh menginap di sini?” tanyanya
hati-hati.
Ibu
Kyuhyun pun menjawab. “Tentu. Kau boleh tinggal di sini sesukamu. Yaa, selama
masalah orangtuamu belum selesai,” candanya.
Ri
Rin tersenyum kikuk. “Kamsahamnida,”
ucapnya sambil membungkukkan badan. “Aku pamit ke atas dulu ya.”
Gadis
itu pun segera menaiki tangga yang melingkar itu. Ia benar-benar ingin bertemu
dengan seseorang yang bernama Kyuhyun itu.
Tidak
perlu memakan waktu lama untuk tiba di depan pintu kamar Kyuhyun. Pintu kamar
yang sudah sangat ia kenal sedari ia masih kecil. Pintu kamar yang berwarna
biru laut itu benar-benar menyimpan sejuta kenangan di dalamnya.
Ri
Rin mengetuk pintu. “Masuk,” jawab seseorang dari dalam. Dan tanpa berpikir
panjang, ia segera membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.
Ri
Rin masuk ke dalam kamar tersebut dan tak lupa menutup pintu terlebih dahulu.
Setelah itu ia berjalan menuju ranjang yang ada di ruangan itu, dan merebahkan
tubuhnya tanpa permisi di sisi ranjang yang masih kosong.
Kyuhyun.
Pria itu. Pria yang bernama Kyuhyun itu menoleh. Ia terduduk di sisi ranjang
sebelah kanan dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur sambil
memainkan PSP kesayangannya. Kyuhyun segera mempause
permainannya dan memfokuskan pandangannya pada gadis yang tengah berbaring seenaknya
di atas ranjangnya itu.
“Hei
hei hei Nona Shin. Kau tidak punya sopan santun ya? Seenaknya merebahkan diri
di atas ranjangku. Tubuhmu bersih tidak?” komentar Kyuhyun.
Ri
Rin mendecak. “Tidak usah berbicara seperti itu. Kau seperti tidak tahu aku
saja. Kita sudah bersahabat lebih dari lima belas tahun. Jadi, jangan banyak
komentar!” sahutnya sinis.
Kyuhyun
meletakkan PSP-nya di atas meja. “Kau ini sensitif sekali. Aku kan hanya
bergurau. Ada apa malam-malam ke sini? Kau merindukanku?” godanya sambil
tersenyum miring.
Ri
Rin mendengus. “Merindukanmu? Untuk apa aku merindukanmu? Kita hampir
menghabiskan waktu dalam sehari secara bersama-sama. Pergi ke kampus, bermain,
dan lain sebagainya. Dengan kegiatan rutin seperti itu, kau bilang aku
merindukanmu?”
“Ya
ya ya. Aku tahu. Kau tidak akan pernah merindukanku. Menghabiskan waktu selama
kurang lebih lima belas tahun denganku dan membuatmu tidak akan merindukanku.
Aku benar, kan?” sahut Kyuhyun.
Ri
Rin berbangkit. Menatap Kyuhyun tajam. “Kau tadi diberi makan malam apa hah
oleh paman dan bibi sampai-sampai mulutmu begitu cerewet seperti burung perkutut?
Bisa diam tidak? Kalau kau banyak bicara, kepalaku semakin sakit. Kau tidak
tahu kalau sekarang kepalaku tengah berdenyut hebat? Mendengarkan pertengkaran
kedua orangtuaku setiap hari dan membahas masalah perceraian. Membuatku nyaris
sudah tidak waras lagi!”
Kyuhyun
memperhatikan Ri Rin saksama. Ia mengerti kenapa gadis itu datang ke rumahnya
malam-malam seperti ini. “Orangtuamu bertengkar lagi?” tanyanya polos.
“Kalau
orangtuaku tidak bertengkar, untuk apa aku datang kemari?” jawabnya dengan
kesal.
Kyuhyun
merasa kesal karena Ri Rin menjawab pertanyaannya dengan emosi. “Yak! Kalau
kesal dengan masalah orangtuamu, jangan melampiaskannya padaku. Kau pikir, aku
ini apa, hah?”
Ri
Rin memejamkan matanya dan menghela napas panjang. “Aku minta maaf. Tidak
seharusnya aku menjawab pertanyaanmu dengan penuh emosi,” katanya menyesal.
Gadis itu kemudian membuka matanya. Dan sedikit terkejut karena telah mendapati
Kyuhyun yang tengah menjulurkan tubuhnya, dan dengan sengaja mendekatkan
wajahnya dengan wajah Ri Rin.
“Tepuk
persahabatan?” tawarnya. Ri Rin mengerti. Kemudian ia pun memajukan wajahnya
sesenti lebih dekat dengan wajah Kyuhyun. Mereka sama-sama mengadukan hidung,
dan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri masing-masing secara berlawanan.
Itu adalah tepuk persahabatan mereka sedari mereka kecil. Hanya mereka yang
memiliki tepukan seperti itu.
Setelah
cukup melakukan sebuah tepukan persahabatan, Kyuhyun segera menjauhkan
wajahnya. “Kau jangan terlalu cepat terpancing emosi, Rinnie-ya.”
“Bagaimana
aku tidak cepat emosi, kalau pekerjaan kedua orangtuaku jika sudah berada di
rumah hanya bertengkar dan bertengkar? Telingaku hampir meledak rasanya,” jawab
Ri Rin.
Kyuhyun
tersenyum. “Hadapi dengan kepala dingin. Mereka bertengkar, otomatis mereka
sudah tidak bisa menangani masalah dengan kepala dingin lagi. Dan kau, sebagai
anak seharusnya mencegah mereka. Kau harus menjadi penengah bagi mereka. Aku
sudah berkata seperti ini berulang kali kan? Kenapa tidak kau praktikan?”
“Aku
tidak berpikir sampai ke situ jika suasana rumah sudah seperti neraka!
Bayangkan saja, setiap hari mereka bertengkar. Tanpa alasan yang jelas. Di
kantor, dan di dalam mobil mereka saling diam. Tapi jika di rumah? Sudah
seperti bom atom yang meledak. Kau tahu? Kalau mereka terus-terusan seperti
ini, mungkin aku akan gila!” ucap Ri Rin pasrah.
Kyuhyun
menjitak kepala Ri Rin kecil. “Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Aku tidak
akan membiarkanmu sampai seperti itu. Kau tega membiarkan aku mempunyai seorang
sahabat yang tidak waras? Tenanglah semua pasti ada jalan keluarnya. Kau
tinggal bersabar saja. Kau tidak ingat tentang sebuah keajaiban? Tuhan tidak
pernah tidur.”
Ri
Rin mengembuskan napas pasrah. “Ya. Kau benar. Terimakasih ya. Sekarang
perasaanku sudah lebih tenang.”
Kyuhyun
tersenyum. “Itu gunanya sahabat, kan? Selalu ada di saat susah maupun senang.”
Ri
Rin mengangguk. Gadis itu bergerak mendekati Kyuhyun dan memeluk pria itu.
Kyuhyun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ri Rin untuk membalas pelukan
sahabatnya itu. Kyuhyun tahu, saat ini Ri Rin benar-benar membutuhkan seseorang
untuk dijadikan sandaran. Dan satu-satunya orang yang bisa dijadikan sandaran
oleh Ri Rin, siapa lagi kalau bukan keluarga Cho? Terutama Kyuhyun. Ya. Hanya
pria itu yang bisa dijadikan sandaran oleh Ri Rin.
Cho
Kyuhyun. Pria itu. Sudah menjadi sahabat Ri Rin sejak belasan tahun yang lalu.
Umur mereka hanya terpaut dua tahun. Kyuhyun berusia dua tahun di atas Ri Rin.
Mereka memulai persahabatan ketika Ri Rin berumur enam tahun.
Sudah
banyak hari-hari yang mereka lalui bersama selama kurang lebih lima belas
tahun. Bersama Kyuhyun, Ri Rin tidak pernah mengenal kata duka.
Keluarga
Cho merupakan keluarga kedua bagi Ri Rin. Di rumah keluarga Cho-lah Ri Rin
biasa menghabiskan waktu bersama. Keluarga Cho pun sudah menganggap Ri Rin
sebagai anggota keluarganya. Karena Ri Rin merupakan anak tunggal di keluarga
Shin sedangkan Kyuhyun mempunyai seorang kakak perempuan di keluarga Cho.
Menginap
di rumah salah satu dari mereka bukanlah hal yang aneh lagi. Itu sudah Ri Rin
dan Kyuhyun lakukan sejak dulu. Terkadang, Kyuhyun menginap di rumah Ri Rin
ataupun sebaliknya. Namun, Ri Rin-lah yang lebih sering menginap di rumah
Kyuhyun. Apalagi, sekarang kedua orangtua gadis itu tengah dilanda guncangan
rumah tangga yang hebat.
Hubungan
kedua orangtua Ri Rin sudah di ambang perceraian. Yang membuat Ri Rin muak
adalah, mereka sering bertengkar di rumah dan mengeluarkan kata-kata cerai
namun sampai sekarang mereka belum mengurusi surat-surat perceraian. Melaporkan
ke pihak berwajib pun belum mereka lakukan. Maka dari itu, Ri Rin merasa
seperti di neraka jika kedua orangtuanya sudah beradu mulut layaknya bom atom
yang meledak.
Ri
Rin melepaskan pelukannya. “Tepuk persahabatan lagi,” pintanya dengan suara
kekanak-kanakan. Dan mereka pun melakukan tepukan persahabatan.
“Gyuhyunnie,”
panggil Ri Rin pelan.
“Hmmm?”
“Malam
ini aku tidur di rumahmu. Aku malas kembali ke rumah. Aku tidak yakin
orangtuaku telah selesai bertengkar atau belum,” ucap Ri Rin.
Kyuhyun
mengangguk. “Baiklah. Nanti biar aku yang tidur di sofa itu.” Kyuhyun menunjuk
sebuah sofa panjang yang ukurannya tidak terlalu besar di sudut kamar.
“Aku
kan tamu di sini. Seharusnya aku yang tidur di sana,” kata Ri Rin merasa tidak
enak.
“Memangnya
kenapa? Aku ini kan laki-laki. Memang kau pikir aku lelaki murahan yang akan
membiarkan seorang gadis tidur di atas sofa sedangkan aku sendiri tidur di atas
ranjang?” balas Kyuhyun.
“Atau,
bagaimana kalau aku tidur bersama Ahra eonni
saja?” Ri Rin memberi ide.
Kyuhyun
menggelengkan kepala dengan cepat. “Tidak. Kau tidur di kamarku. Atau lebih
baik, kau pulang saja?” ancam pria itu.
Ri
Rin mengerucutkan bibirnya. “Kau ini selalu mengancam.”
**
Ri Rin masih belum bisa memejamkan matanya. Padahal,
jam dinding yang terpasang di kamar Kyuhyun sudah menunjukkan pukul dua belas
malam.
Ri
Rin menoleh ke kanan dan mendapati Kyuhyun sudah tertidur pulas di atas sofa
tanpa menggunakan selimut ataupun bantal.
Dengan
cepat, Ri Rin segera menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur. Gadis itu
kemudian membuka pintu kamar dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang
bisa saja membangunkan Kyuhyun.
Ia
menuruni anak tangga dan ketika kakinya sudah menapak di lantai satu atau
tepatnya di dekat ruang keluarga, Ri Rin mendapati Ahra yang masih berkutat
dengan laptopnya.
“Eonni,” panggil Ri Rin.
Ahra
menoleh. Dan sedikit mengerutkan dahinya. “Ri Rin-ah? Kau belum tidur?” tanyanya heran.
“Belum.
Aku masih belum bisa tidur. Eonni
sendiri kenapa belum tidur? Masih mengurus pekerjaan ya?”
Ahra
mengangguk. “Iyaa. Seperti yang kau lihat,” jawabnya sambil menunjuk laptop dan
berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. “Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?”
lanjutnya.
“Iya.
Aku membutuhkan bantal dan selimut. Kyuhyun memilih untuk tidur di sofa.
Padahal aku sudah melarangnya dan memberi usul agar aku tidur di kamar eonni saja. Tapi adik eonni itu melarangku melakukannya dan
malah menyuruhku pulang kalau aku tidak menuruti keinginannya,” sahut Ri Rin.
Gadis
yang usianya terpaut lima tahun di atas Ri Rin pun tertawa kecil. “Dia kan juga
sahabatmu. Baiklah, kau tunggu sebentar aku akan mengambilkan bantal dan
selimut.” Ri Rin pun mengangguk.
Sekitar
dua menit kemudian, Ahra kembali dengan sebuah selimut dan bantal di tangannya.
Ia menjulurkan tangannya dan memberikan kedua benda tidur itu kepada Ri Rin.
“Terimakasih
eonni. Aku kembali ke kamar dulu ya? Eonni jangan tidur malam-malam. Jaga
kesehatan ya,” pesan Ri Rin sebelum naik ke lantai dua.
Ahra
mengacak-acak rambut Ri Rin. “Tenang saja. Tidur lah.”
Ri
Rin lalu menaiki anak tangga sedangkan Ahra kembali melanjutkan pekerjaannya
yang tadi sempat tertunda.
Setelah
di dalam kamar, Ri Rin segera menaruh bantal tersebut di bawah kepala Kyuhyun
dengan gerakan hati-hati, lalu memyelimuti Kyuhyun sampai dada.
Ri
Rin berjongkok. Mengamati wajah Kyuhyun dengan saksama. Wajah yang selama lima
belas tahun ini selalu ada di sampingnya baik dalam keadaan senang maupun
susah. Wajah yang selama lima belas tahun ini selalu menjadi sandaran baginya
ketika ia sedang terpuruk. Wajah yang selalu menemaninya tatkala dunia
menjauhinya. Wajah itu benar-benar terlihat polos dan damai ketika sedang
tertidur. Napas Kyuhyun yang begitu teratur membuat Ri Rin mau tidak mau
menyunggingkan senyuman.
Pria
itu. Walau kadang kelakuannya seperti setan, namun ia memiliki hati yang baik.
Kyuhyun berbeda. Sangat berbeda. Berbeda dari pria kebanyakan dan Ri Rin
mengetahui itu. Ia mengagumi Kyuhyun. Ya, Ri Rin mengakui itu.
Ri
Rin menjulurkan wajahnya dan menyapukan sebuah kecupan singkat di pipi Kyuhyun.
“Aku menyayangimu, Gyuhyunnie. Sangat menyayangimu,” katanya pelan.
The
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar