Sabtu, 08 Maret 2014

IN MY DREAM

Kim Jong Woon. Atau yang biasa dipanggil Yesung. Seorang pria dengan tinggi tubuh sekitar 178 sentimeter, rambut yang dibuat dengan model berponi dan dibiarkan acak-acakan itu tengah menemani ibunya di sebuah toko buku.
            Tadi, sekitar pukul setengah delapan malam, pria itu ditelphone ibunya untuk mengantarkan wanita paruh baya itu ke toko buku. Pasalnya, Yesung tidak tinggal di rumah keluarganya, melainkan tinggal di sebuah apartement yang jaraknya tidak begitu jauh dari pusat kota Seoul.
            Eomma, kenapa tiba-tiba memintaku untuk menemani ke toko buku seperti ini?” dumel Yesung yang terus membuntuti ibunya bak sebuah ekor.
            Eomma ingin mencari sebuah buku memasak. Kau tidak ingat, bibimu yang tinggal di Beijing  akan datang,” jawab ibunya sambil terus melihat-lihat  rak yang menyimpan buku-buku begitu rapi, mencari buku memasak.
            “Tapi kan tidak harus malam ini juga. Besok kan bisa,” katanya tak mau kalah.
            Ibunya mendecak sebal dan menatap Yesung dingin. “Sudahlah, tutup saja mulutmu itu! Aku ini kan ibumu. Kau mau menjadi anak yang tidak berbakti pada orangtuanya?”

            Yesung mengembuskan napas pasrah. “Ya ya. Baiklah.”
            Keadaan toko buku malam ini cukup ramai. Karena ada sebuah kegiatan bertajuk Meet and Greet penulis yang ada di kota Seoul. Sebenarnya, acara itu sudah selesai sejak tiga puluh menita yang lalu. Namun, ada saja beberapa orang tersisa yang masih ada di dalam toko buku ini, sekadar untuk meminta tanda tangan atau photo bersama dengan sang penulis andalannya.
            Yesung meminta izin kepada ibunya untuk berkeliling melihat-lihat isi toko buku ini. Setelah ibunya mengizinkan, Yesung segera melangkahkan kaki, pergi menjauhi ibunya.
            Pria itu berjalan sambil melihat-lihat berbagai macam buku. Mulai dari buku-buku fiksi, buku non-fiksi,  sampai buku ilmu pengetahuan. Semuanya lengkap ada di sini. Yesung melangkahkan kakinya menuju bagian buku-buku fiksi, dan tempat penyimpanan novel adalah sasarannya.
            Yesung mengedarkan pandangannya. Ia melihat begitu banyak warna yang berasal dari cover novel-novel yang tersusun rapi di tempatnya. Warnanya bervariasi, judulnya bervariasi, bahkan nama penulisnya pun bervariasi. Ia terus mengedarkan pandangannya. Entah itu ke arah deretan rak-rak buku ataupun keadaan sekitarnya.
            Pria itu mengerucutkan bibirnya ketika mendapati ibunya yang masih dengan kening berkerut mencari buku memasak. Memangnya, buku seperti apa yang Eomma inginkan? batin Yesung.
            Yesung mengabaikannya. Ia terus melangkahkan kakinya. Sampai, pria itu menangkap sebuah siluet seseorang yang sangat dikenalinya. Pria itu membelalakan matanya ketika lensa mata dan otaknya sudah bisa bekerjasama. Ia tahu, siapa seseorang itu. Seseorang yang pernah hadir di kehidupannya sekitar dua tahun yang lalu, dan seseorang yang telah mengoyak luka lamanya menganga kembali.
            Shin Ri Rin. Gadis itu, kini tengah berbincang dengan seseorang yang menurut pendapat Yesung merupakan direktur toko buku ini. Tapi tunggu.... gadis itu tidak hanya dengan direktur toko buku saja, melainkan dengan seseorang lagi.
            Gadis itu tengah merangkul pinggang seorang pria. Dan pria itu juga tengah merangkulkan tangannya di sekeliling bahu Ri Rin. Mereka terlihat begitu mesra dan bahagia.
            Astaga! Napas Yesung tercekat. Ia seperti mengenali sosok pria tersebut.
            “Ah baiklah, Kyuhyun-ssi  terimakasih telah meluangkan waktumu untuk hadir di acara Meet and Greet ini. Tadi, begitu banyak penggemar yang meminta tanda tanganmu. Dan, tak juga sedikit yang ingin berphoto denganmu. Tapi, mengingat kau sudah punya kekasih, aku tidak membuka sesi photo bersama. Aku khawatir, itu akan mempengaruhi hubungan kalian,” ujar direktur itu. Ri Rin dan pria itu tertawa.
            Tunggu! Siapa? Kyuhyun? Mungkinkah ia Cho Kyuhyun? Seorang novelis yang sudah terkenal itu? Dan, apa yang tadi dikatakan direktur itu? Kekasih? Jadi.....
            Yesung menelan ludah. Ya, ia baru ingat sekarang. Pria itu memang benar-benar Cho Kyuhyun. Seorang novelis yang sudah sangat dikenal banyak orang. Kyuhyun tidak hanya gemar menulis novel, tetapi berbagai macam karya sastra lainnya pun ia tekuni. Tak heran, jika gadis itu kini bersanding dengannya.
            Shin Ri Rin. Gadis itu memang senang sekali membuat karya-karya yang bersifat fiksi. Awalnya, ia hanya gemar menulis cerita pendek. Namun, dari waktu ke waktu, kini gadis itu juga tengah menekuni dunia sastra yang lainnya. Mungkin, novel salah satunya. Itu informasi terakhir yang Yesung dapatkan dari kedua sahabat Ri Rin, Min Kyu Ra dan Lee So Hee.
            Gadis itu. Gadis bermarga Shin itu. Yesung menggelengkan kepala. Rasa penyesalan itu datang kembali, menghantui relung hati dan otaknya. Memang sudah sepantasnya kalau Ri Rin mendapatkan seorang pria yang lebih baik daripada dirinya. Karena memang dengan tololnya, dulu ia tidak pernah memberikan jawaban apapun, sekadar Ya atau Tidak pada gadis itu. Mungkin ini memang balasan yang setimpal untuk dirinya.
            Pria itu menghela napas. Kemudian mengayunkan kakinya, ke tempat di mana ia dan ibunya tadi berpisah. Ternyata, saat ia kembali, ibunya sudah memegangi dua buah buku resep makanan.
            Eomma, apakah sudah selesai? Aku ingin cepat-cepat pulang,” kata Yesung.
            Ibunya mengernyit. “Kau kenapa? Sakit? Wajahmu seperti mayat hidup saja,” cibirnya.
            Yesung mengangguk lemah. “Ya. Aku sedikit tidak enak badan.”
            “Baiklah, ayo kita ke kasir.”

**

Yesung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang ada di apartementnya. Setelah tadi mengantar ibunya pulang, pria itu langsung kembali ke tempat di mana ia tinggali sekarang. Awalnya, ibunya itu meminta Yesung untuk tinggal di rumah saja, karena hari sudah malam serta cuaca yang sedang tidak bersahabat. Namun, Yesung menolak. Dengan berbagai alasan yang ia punya di dalam otak, ia terus meyakini ibunya agar diperbolehkan kembali ke apartement. Ternyata, pria itu berhasil. Yesung beranggapan, dengan kembalinya ia ke apartement, itu berarti dirinya mempunyai banyak waktu untuk merenungkan sesuatu tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Ia hanya ingin sendiri saja sekarang. Ya sendiri.
            Pria bermarga Kim itu memejamkan mata. Bayangan wajah Ri Rin dan Kyuhyun tadi berseliweran dengan bebas di dalam benaknya. Dan sesaat kemudian, ia teringat peristiwa dua tahun yang lalu. Saat di mana Ri Rin masih setia untuk tetap berada di sisinya. Bukan sebagai kekasih, melainkan gadis itu sudah menunggu jawaban yang terlontar dari mulut pria itu. Menunggu jawaban Ya atau Tidak. Ya, jika ia mau menerima gadis itu. Atau Tidak, jika ia mau menolak gadis itu.
            Namun, dengan sikap dingin yang dimilikinya, Yesung tidak pernah mengatakan apa-apa pada Ri Rin. Tidak menjawab, tidak juga menghiraukan. Hingga pada akhirnya, gadis itu menyerah dan berkata bahwa ia tidak akan menganggu kehidupan Yesung lagi. Bahwa gadis itu tidak akan pernah mengingat Yesung lagi.
            Yesung lelah, benar-benar sangat lelah. Entah karena hari ini ia memiliki kegiatan yang padat, atau karena kehadiran gadis itu yang membuat perasaannya benar-benar kacau sekarang. Ia baru sadar, kalau kehadiran gadis itu ternyata amatlah sangat berarti.
            Tiba-tiba, Yesung sudah tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Dan dunia, benar-benar gelap dalam pandangannya.

**
Yesung mengamati sekelilingnya. Tempat itu begitu sepi. Begitu sunyi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tempat itu hanya ditemani sebuah lampu yang berdiri tegak di sudut taman. Taman? Taman apakah ini?
            Pria itu menyadari, bahwa ia memakai setelan jas berwarna putih. Entahlah. Ia tidak ingat, apakah ia pernah membeli jas tersebut sebelumnya atau tidak. Yang jelas, pakaiannya serba putih, termasuk sepatu yang sedang ia kenakan.
            Semilir angin malam berhembus menerpa permukaan kulit wajah pria itu dengan lembut. Namun, sesaat kemudian, indera pengelihatan Yesung mendapatkan sesosok wanita tengah berdiri tak jauh di hadapannya. Tengah berdiri sambil tersenyum manis, mengenakan dress berwarna putih, dan juga wedges bertali berwarna putih.
            “Jongwoonnie,” panggilnya.
            Yesung tak percaya. Ia tak bisa mengendalikan ekspresinya yang begitu senang. Gadis itu.. gadis itu memanggil namanya. Nama panggilan yang hanya ia dan gadis itu saja yang tahu, selain Tuhan.
            Tanpa berpikir panjang, Yesung sedikit berlari menghampiri gadis itu. Begitu pun yang dilakukan oleh gadis yang amat dikenali Yesung itu. Ketika mereka berdua sudah dalam jarak yang sangat dekat, pria itu memeluk gadisnya dengan sangat erat. Seolah ia tidak mau kehilangan sesuatu yang berharga.
            Gadis itu hanya tersenyum. Namun tidak membalas pelukan Yesung. Yesung segera melepaskan pelukannya dan mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan kuat. “Ini, benar-benar kau? Ri Rin-ah?” tanya Yesung dengan degup jantung tak keruan.
            Gadis yang bernama Ri Rin itu pun mengangguk. “Ya. Ini aku.”
            “Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu lagi. Ri Rin-ah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,” kata Yesung.
            Ri Rin menggeleng. “Tidak perlu. Aku sudah tahu.”
            Yesung mengernyit. “Maksudmu?”
            “Aku sudah tahu. Kau ingin meminta maaf padaku kan, perihal dua tahun silam?”
            Pria itu terperanjat. “Bagaimana kau tahu?”
            Ri Rin tersenyum penuh arti. “Karena penyesalan, selalu datang di akhir. Aku benar, kan?”
            “Tapi Ri Rin-ah, aku benar-benar menyesal dulu tidak memedulikanmu. Tidak pernah memberikan jawaban sedikitpun untukmu. Aku benar-benar minta maaf. Tapi tolong, beri aku kesempatan satu kali lagi,” pinta Yesung.
            Lagi. Ri Rin hanya menggeleng. “Tidak. Tidak bisa. Aku, sudah menemukan penggantimu. Kau itu terlalu lama, tahu tidak?”
            “Ya, aku tahu aku memang terlalu lama memberikan jawaban. Bahkan, tidak sama sekali. Tapi, aku mohon, sekali ini saja,” mohon Yesung.
            “Tidak. Tidak bisa. Kau sudah menyampaikan permohonan maaf, kan? Aku tahu kau menyesal. Aku sangat tahu. Jujur, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf padaku. Dan aku, tidak pernah menaruh rasa dendam padamu sedikit pun. Tapi, aku benar-benar tidak bisa mengabulkan keinginanmu. Mungkin, ini sudah takdirmu. Sekarang, aku harus pergi,” ucap Ri Rin sambil melepaskan cengkeraman Yesung di pundaknya.
            “Ri Rin-ah,” panggil Yesung dengan suara parau.
            “Aku harus pergi. Seseorang telah menungguku di sana. Kau jangat mengingat-ingat aku lagi, eo? Otakmu kan tidak perlu digunakan untuk memikirkanku terus,” gurau Ri Rin. Yesung mendecak kesal. Di saat seperti ini, gadis yang kini ada di hadapannya itu masih saja bisa berusaha untuk menghiburnya.
            “Kau mau ke mana? Seharusnya, kau pergi denganku,” cegah Yesung.
            “Tidak. Itu. Tidak bisa,” sahut Ri Rin penuh penekanan. “Jongwoonnie, aku pergi dulu ya? Jaga dirimu baik-baik.” Ri Rin melangkahkan kakinya mundur secara perlahan, Yesung ingin berlari, kemudian menarik gadis itu lagi ke dalam pelukannya. Tapi, sesuatu seperti mencegah kakinya untuk bergerak, menahan dirinya agar tidak berlari menghabur ke arah gadis itu.
            Yesung berusaha mengayunkan kakinya, tapi tetap saja tidak bisa. “Ri Rin-ah, tunggu aku!!”
            Ri Rin hanya tersenyum sambil terus melangkahkan kakinya bergerak mundur.
            Yesung terus mencari cara agar kakinya itu bisa diayunkan kembali, namun hasilnya sia-sia. Ia hanya menghela napas pasrah dan menelan semua kepahitan itu ketika Ri Rin sudah tidak terlihat dalam jangkauan pandangnya. Gadis itu menghilang.

**
Yesung membuka matanya perlahan. Ia berusaha memfokuskan matanya dengan keadaan sekitar. Ia mendecak kesal ketika mendengar handphone yang terletak di atas nakas berdering hebat.
            Sialan, siapa yang berani menelphoneku tengah malam seperti ini? keluhnya dalam hati.
            Kemudian, ia mengambil ponselnya dengan kasar. Tanpa melihat siapa yang menelphone, ia langsung menerima panggilan tersebut dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun itu. “YAK KAU! PUNYA SOPAN SANTUN TIDAK, KENAPA MENELPHONEKU TENGAH MALAM BEGINI? MEMANGNYA TIDAK ADA HARI LAIN?”
            Seseorang di seberang sana terkejut. “Astaga! Yesung-ah, kau kenapa begitu marah seperti itu?”
            Yesung membelalakan matanya. “Ya Tuhan!! Eomma?”

-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar