Kim Jong Woon. Atau yang biasa dipanggil Yesung.
Seorang pria dengan tinggi tubuh sekitar 178 sentimeter, rambut yang dibuat
dengan model berponi dan dibiarkan acak-acakan itu tengah menemani ibunya di
sebuah toko buku.
Tadi,
sekitar pukul setengah delapan malam, pria itu ditelphone ibunya untuk
mengantarkan wanita paruh baya itu ke toko buku. Pasalnya, Yesung tidak tinggal
di rumah keluarganya, melainkan tinggal di sebuah apartement yang jaraknya
tidak begitu jauh dari pusat kota Seoul.
“Eomma, kenapa tiba-tiba memintaku untuk
menemani ke toko buku seperti ini?” dumel Yesung yang terus membuntuti ibunya
bak sebuah ekor.
“Eomma ingin mencari sebuah buku memasak.
Kau tidak ingat, bibimu yang tinggal di Beijing akan datang,” jawab ibunya sambil terus
melihat-lihat rak yang menyimpan
buku-buku begitu rapi, mencari buku memasak.
“Tapi
kan tidak harus malam ini juga. Besok kan bisa,” katanya tak mau kalah.
Ibunya
mendecak sebal dan menatap Yesung dingin. “Sudahlah, tutup saja mulutmu itu!
Aku ini kan ibumu. Kau mau menjadi anak yang tidak berbakti pada orangtuanya?”
Keadaan
toko buku malam ini cukup ramai. Karena ada sebuah kegiatan bertajuk Meet and Greet penulis yang ada di kota
Seoul. Sebenarnya, acara itu sudah selesai sejak tiga puluh menita yang lalu.
Namun, ada saja beberapa orang tersisa yang masih ada di dalam toko buku ini,
sekadar untuk meminta tanda tangan atau photo bersama dengan sang penulis
andalannya.
Yesung
meminta izin kepada ibunya untuk berkeliling melihat-lihat isi toko buku ini.
Setelah ibunya mengizinkan, Yesung segera melangkahkan kaki, pergi menjauhi
ibunya.
Pria
itu berjalan sambil melihat-lihat berbagai macam buku. Mulai dari buku-buku
fiksi, buku non-fiksi, sampai buku ilmu
pengetahuan. Semuanya lengkap ada di sini. Yesung melangkahkan kakinya menuju
bagian buku-buku fiksi, dan tempat penyimpanan novel adalah sasarannya.
Yesung
mengedarkan pandangannya. Ia melihat begitu banyak warna yang berasal dari cover novel-novel yang tersusun rapi di
tempatnya. Warnanya bervariasi, judulnya bervariasi, bahkan nama penulisnya pun
bervariasi. Ia terus mengedarkan pandangannya. Entah itu ke arah deretan
rak-rak buku ataupun keadaan sekitarnya.
Pria
itu mengerucutkan bibirnya ketika mendapati ibunya yang masih dengan kening
berkerut mencari buku memasak. Memangnya,
buku seperti apa yang Eomma inginkan? batin Yesung.
Yesung
mengabaikannya. Ia terus melangkahkan kakinya. Sampai, pria itu menangkap
sebuah siluet seseorang yang sangat dikenalinya. Pria itu membelalakan matanya
ketika lensa mata dan otaknya sudah bisa bekerjasama. Ia tahu, siapa seseorang
itu. Seseorang yang pernah hadir di kehidupannya sekitar dua tahun yang lalu,
dan seseorang yang telah mengoyak luka lamanya menganga kembali.
Shin
Ri Rin. Gadis itu, kini tengah berbincang dengan seseorang yang menurut
pendapat Yesung merupakan direktur toko buku ini. Tapi tunggu.... gadis itu
tidak hanya dengan direktur toko buku saja, melainkan dengan seseorang lagi.
Gadis
itu tengah merangkul pinggang seorang pria. Dan pria itu juga tengah
merangkulkan tangannya di sekeliling bahu Ri Rin. Mereka terlihat begitu mesra
dan bahagia.
Astaga!
Napas Yesung tercekat. Ia seperti mengenali sosok pria tersebut.
“Ah
baiklah, Kyuhyun-ssi terimakasih telah meluangkan waktumu untuk
hadir di acara Meet and Greet ini.
Tadi, begitu banyak penggemar yang meminta tanda tanganmu. Dan, tak juga
sedikit yang ingin berphoto denganmu. Tapi, mengingat kau sudah punya kekasih,
aku tidak membuka sesi photo bersama. Aku khawatir, itu akan mempengaruhi
hubungan kalian,” ujar direktur itu. Ri Rin dan pria itu tertawa.
Tunggu!
Siapa? Kyuhyun? Mungkinkah ia Cho Kyuhyun? Seorang novelis yang sudah terkenal
itu? Dan, apa yang tadi dikatakan direktur itu? Kekasih? Jadi.....
Yesung
menelan ludah. Ya, ia baru ingat sekarang. Pria itu memang benar-benar Cho
Kyuhyun. Seorang novelis yang sudah sangat dikenal banyak orang. Kyuhyun tidak
hanya gemar menulis novel, tetapi berbagai macam karya sastra lainnya pun ia
tekuni. Tak heran, jika gadis itu kini bersanding dengannya.
Shin
Ri Rin. Gadis itu memang senang sekali membuat karya-karya yang bersifat fiksi.
Awalnya, ia hanya gemar menulis cerita pendek. Namun, dari waktu ke waktu, kini
gadis itu juga tengah menekuni dunia sastra yang lainnya. Mungkin, novel salah
satunya. Itu informasi terakhir yang Yesung dapatkan dari kedua sahabat Ri Rin,
Min Kyu Ra dan Lee So Hee.
Gadis
itu. Gadis bermarga Shin itu. Yesung menggelengkan kepala. Rasa penyesalan itu
datang kembali, menghantui relung hati dan otaknya. Memang sudah sepantasnya
kalau Ri Rin mendapatkan seorang pria yang lebih baik daripada dirinya. Karena
memang dengan tololnya, dulu ia tidak pernah memberikan jawaban apapun, sekadar
Ya atau Tidak pada gadis itu. Mungkin ini memang balasan yang setimpal untuk
dirinya.
Pria
itu menghela napas. Kemudian mengayunkan kakinya, ke tempat di mana ia dan
ibunya tadi berpisah. Ternyata, saat ia kembali, ibunya sudah memegangi dua
buah buku resep makanan.
“Eomma, apakah sudah selesai? Aku ingin cepat-cepat
pulang,” kata Yesung.
Ibunya
mengernyit. “Kau kenapa? Sakit? Wajahmu seperti mayat hidup saja,” cibirnya.
Yesung
mengangguk lemah. “Ya. Aku sedikit tidak enak badan.”
“Baiklah,
ayo kita ke kasir.”
**
Yesung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang
ada di apartementnya. Setelah tadi mengantar ibunya pulang, pria itu langsung
kembali ke tempat di mana ia tinggali sekarang. Awalnya, ibunya itu meminta
Yesung untuk tinggal di rumah saja, karena hari sudah malam serta cuaca yang
sedang tidak bersahabat. Namun, Yesung menolak. Dengan berbagai alasan yang ia
punya di dalam otak, ia terus meyakini ibunya agar diperbolehkan kembali ke
apartement. Ternyata, pria itu berhasil. Yesung beranggapan, dengan kembalinya
ia ke apartement, itu berarti dirinya mempunyai banyak waktu untuk merenungkan
sesuatu tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Ia hanya ingin sendiri saja
sekarang. Ya sendiri.
Pria
bermarga Kim itu memejamkan mata. Bayangan wajah Ri Rin dan Kyuhyun tadi
berseliweran dengan bebas di dalam benaknya. Dan sesaat kemudian, ia teringat
peristiwa dua tahun yang lalu. Saat di mana Ri Rin masih setia untuk tetap
berada di sisinya. Bukan sebagai kekasih, melainkan gadis itu sudah menunggu
jawaban yang terlontar dari mulut pria itu. Menunggu jawaban Ya atau Tidak. Ya,
jika ia mau menerima gadis itu. Atau Tidak, jika ia mau menolak gadis itu.
Namun,
dengan sikap dingin yang dimilikinya, Yesung tidak pernah mengatakan apa-apa
pada Ri Rin. Tidak menjawab, tidak juga menghiraukan. Hingga pada akhirnya,
gadis itu menyerah dan berkata bahwa ia tidak akan menganggu kehidupan Yesung
lagi. Bahwa gadis itu tidak akan pernah mengingat Yesung lagi.
Yesung
lelah, benar-benar sangat lelah. Entah karena hari ini ia memiliki kegiatan
yang padat, atau karena kehadiran gadis itu yang membuat perasaannya benar-benar
kacau sekarang. Ia baru sadar, kalau kehadiran gadis itu ternyata amatlah
sangat berarti.
Tiba-tiba,
Yesung sudah tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Dan dunia, benar-benar gelap
dalam pandangannya.
**
Yesung mengamati sekelilingnya. Tempat itu begitu
sepi. Begitu sunyi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tempat itu hanya ditemani
sebuah lampu yang berdiri tegak di sudut taman. Taman? Taman apakah ini?
Pria
itu menyadari, bahwa ia memakai setelan jas berwarna putih. Entahlah. Ia tidak
ingat, apakah ia pernah membeli jas tersebut sebelumnya atau tidak. Yang jelas,
pakaiannya serba putih, termasuk sepatu yang sedang ia kenakan.
Semilir
angin malam berhembus menerpa permukaan kulit wajah pria itu dengan lembut.
Namun, sesaat kemudian, indera pengelihatan Yesung mendapatkan sesosok wanita
tengah berdiri tak jauh di hadapannya. Tengah berdiri sambil tersenyum manis,
mengenakan dress berwarna putih, dan
juga wedges bertali berwarna putih.
“Jongwoonnie,”
panggilnya.
Yesung
tak percaya. Ia tak bisa mengendalikan ekspresinya yang begitu senang. Gadis
itu.. gadis itu memanggil namanya. Nama panggilan yang hanya ia dan gadis itu
saja yang tahu, selain Tuhan.
Tanpa
berpikir panjang, Yesung sedikit berlari menghampiri gadis itu. Begitu pun yang
dilakukan oleh gadis yang amat dikenali Yesung itu. Ketika mereka berdua sudah
dalam jarak yang sangat dekat, pria itu memeluk gadisnya dengan sangat erat.
Seolah ia tidak mau kehilangan sesuatu yang berharga.
Gadis
itu hanya tersenyum. Namun tidak membalas pelukan Yesung. Yesung segera
melepaskan pelukannya dan mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan kuat. “Ini,
benar-benar kau? Ri Rin-ah?” tanya
Yesung dengan degup jantung tak keruan.
Gadis
yang bernama Ri Rin itu pun mengangguk. “Ya. Ini aku.”
“Akhirnya,
aku bisa bertemu denganmu lagi. Ri Rin-ah,
ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,” kata Yesung.
Ri
Rin menggeleng. “Tidak perlu. Aku sudah tahu.”
Yesung
mengernyit. “Maksudmu?”
“Aku
sudah tahu. Kau ingin meminta maaf padaku kan, perihal dua tahun silam?”
Pria
itu terperanjat. “Bagaimana kau tahu?”
Ri
Rin tersenyum penuh arti. “Karena penyesalan, selalu datang di akhir. Aku
benar, kan?”
“Tapi
Ri Rin-ah, aku benar-benar menyesal
dulu tidak memedulikanmu. Tidak pernah memberikan jawaban sedikitpun untukmu.
Aku benar-benar minta maaf. Tapi tolong, beri aku kesempatan satu kali lagi,”
pinta Yesung.
Lagi.
Ri Rin hanya menggeleng. “Tidak. Tidak bisa. Aku, sudah menemukan penggantimu.
Kau itu terlalu lama, tahu tidak?”
“Ya,
aku tahu aku memang terlalu lama memberikan jawaban. Bahkan, tidak sama sekali.
Tapi, aku mohon, sekali ini saja,” mohon Yesung.
“Tidak.
Tidak bisa. Kau sudah menyampaikan permohonan maaf, kan? Aku tahu kau menyesal.
Aku sangat tahu. Jujur, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf
padaku. Dan aku, tidak pernah menaruh rasa dendam padamu sedikit pun. Tapi, aku
benar-benar tidak bisa mengabulkan keinginanmu. Mungkin, ini sudah takdirmu.
Sekarang, aku harus pergi,” ucap Ri Rin sambil melepaskan cengkeraman Yesung di
pundaknya.
“Ri
Rin-ah,” panggil Yesung dengan suara
parau.
“Aku
harus pergi. Seseorang telah menungguku di sana. Kau jangat mengingat-ingat aku
lagi, eo? Otakmu kan tidak perlu digunakan untuk memikirkanku terus,” gurau Ri
Rin. Yesung mendecak kesal. Di saat seperti ini, gadis yang kini ada di
hadapannya itu masih saja bisa berusaha untuk menghiburnya.
“Kau
mau ke mana? Seharusnya, kau pergi denganku,” cegah Yesung.
“Tidak.
Itu. Tidak bisa,” sahut Ri Rin penuh penekanan. “Jongwoonnie, aku pergi dulu
ya? Jaga dirimu baik-baik.” Ri Rin melangkahkan kakinya mundur secara perlahan,
Yesung ingin berlari, kemudian menarik gadis itu lagi ke dalam pelukannya.
Tapi, sesuatu seperti mencegah kakinya untuk bergerak, menahan dirinya agar
tidak berlari menghabur ke arah gadis itu.
Yesung
berusaha mengayunkan kakinya, tapi tetap saja tidak bisa. “Ri Rin-ah, tunggu aku!!”
Ri
Rin hanya tersenyum sambil terus melangkahkan kakinya bergerak mundur.
Yesung
terus mencari cara agar kakinya itu bisa diayunkan kembali, namun hasilnya
sia-sia. Ia hanya menghela napas pasrah dan menelan semua kepahitan itu ketika
Ri Rin sudah tidak terlihat dalam jangkauan pandangnya. Gadis itu menghilang.
**
Yesung membuka matanya perlahan. Ia berusaha
memfokuskan matanya dengan keadaan sekitar. Ia mendecak kesal ketika mendengar
handphone yang terletak di atas nakas berdering hebat.
Sialan, siapa yang berani menelphoneku
tengah malam seperti ini? keluhnya dalam hati.
Kemudian,
ia mengambil ponselnya dengan kasar. Tanpa melihat siapa yang menelphone, ia
langsung menerima panggilan tersebut dengan amarah yang sudah mencapai
ubun-ubun itu. “YAK KAU! PUNYA SOPAN SANTUN TIDAK, KENAPA MENELPHONEKU TENGAH
MALAM BEGINI? MEMANGNYA TIDAK ADA HARI LAIN?”
Seseorang
di seberang sana terkejut. “Astaga! Yesung-ah,
kau kenapa begitu marah seperti itu?”
Yesung
membelalakan matanya. “Ya Tuhan!! Eomma?”
-The
End-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar